Vape dan Ketenangan Semu bagi Anak Muda

Pelita104 Views

Vape adalah alat elektronik yang menghasilkan uap untuk dihirup kemudian dilepaskan untuk melepas stres. Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 persentase penduduk Indonesia usia 10 tahun ke atas yang menggunakan rokok elektronik mencapai 3,2%. Data tersebut menunjukkan bahwa penggunaan rokok elektronik telah menjadi salah satu perhatian serius karena penggunaannya semakin terlihat di kalangan anak muda.

Vape digadang-gadang sebagai alternatif terbaik bagi para perokok ingin berhenti. Stigma ini menyebabkan penggunaan vape di Indonesia terus meningkat sepanjang tahun. Data SKI 2023 menunjukkan prevalensi penggunaan rokok elektrik sebesar 0,13% pada penduduk usia 10–18 tahun. Data ini meningkat sekitar dua kali lipat dibandingkan tahun 2018 yang sebesar 0,06%.

Cairan liquid yang ada dalam vape mengandung nikotin, propilena, glikol, gliserin, dan berbagai perasa aditif (Widyantari et al., 2023). Kandungan tersebut sudah terbukti aman dalam bentuk cairan. Namun, bila dipanaskan pada suhu tertentu, senyawa tersebut bisa saja berinteraksi sama lain dan menjadi racun yang sangat berbahaya bagi tubuh.

Nikotin adalah salah satu bahan utama dalam vape yang bersifat sangat adiktif. Seorang pengguna vape bisa saja mengisap nikotin lebih banyak dari perokok biasa karena rasa aman yang dihasilkan vape ketimbang rokok konvensional. Otak yang menerima terlalu banyak nikotin dapat menyebabkan gangguan kognitif yang serius terutama bagi para remaja yang sedang dalam masa pertumbuhan.

Propilen glikol yang dipanaskan dapat menyebabkan iritasi saluran pernapasan. Yang lebih bahaya, senyawa ini menyebabkan gangguan kardiovaskular yang dapat menyebabkan penyakit jantung dan dapat merusak lapisan mukosa pada paru-paru.

Dalam senyawa perasa yang terdapat dalam vape terdapat diacetyl sebagai agen penyedap sintetis yang juga dapat kita temukan pada mentega, kakao, kopi, dan susu. Meski dinyatakan aman dikonsumsi oleh Food and Drug Administration (FDA) sebagai bahan konsumsi oral, tetapi belum dapat diketahui apakah itu benar-benar aman bila dipanaskan dan diuapkan untuk dihirup. Diacetyl yang dipanaskan dalam vape memungkinkan seseorang terkena bronkiolitis obliterans atau popcorn lung bahkan pneumonia kronis.

Kandungan vitamin E-acetate, oil flavor yang merupakan lemak akan menempel dan menyebabkan peradangan pada alveolus. Dinding alveolus akan menebal dan terisi cairan sehingga mengganggu pertukaran oksigen. Gejala yang disebabkan oleh penyakit ini antara lain adalah sesak napas berat, batuk kering, demam, mual, dan nyeri dada (Farhaeni et al.,2024). Bila tidak cepat ditangani, dapat menyebabkan gagal napas akut yang menyebabkan kematian.

Diacetyl yang masuk melalui bronkioli akan melukai dinding bronkiolus. Sel-sel tubuh akan mencoba untuk memperbaiki luka itu dengan membentuk jaringan fibrosa. Jaringan yang tebal dan keras tersebut akan menyebabkan penyempitan lumen sehingga jalan napas kita terganggu. Gangguan ini akan menyebabkan batuk kering, sesak napas saat menjalankan aktivitas ringan dan bahkan menyebabkan kerusakan permanen pada paru.

Ketenangan semu

Nikotin menyebabkan efek samping psikologis dan neurobiologis yang signifikan bila dikonsumsi dalam jumlah berlebih. Zat psikoaktif tersebut akan memengaruhi sistem saraf pusat yang menyebabkan ketergantungan, gangguan kecemasan, memperparah gejala depresi (Widyawati et al. 2025).

Sebagian pengguna tentu menggunakan vape sebagai bentuk pengalihan atau pelarian dari masalah karena efek tenang ketika menghirup uap vape. Ironisnya, salah satu studi pada tahun 2025 menunjukan bahwa pengguna vape memiliki skor depresi dan kecemasan yang lebih tinggi dibandingkan dengan mereka non-pengguna (Assari et al., 2025). Pengguna aktif yang didominasi oleh remaja dapat mengalami gangguan akademis yang bermula dari susah tidur, kelelahan kronis, dan penurunan konsentrasi (Wang et al., 2025).

Mengapa vape?

Rokok elektrik atau vape telah dilegalisasi oleh pemerintah Indonesia sejak tahun 2018. Vape terus dipromosikan dan dipasarkan secara terbuka dan masif bahkan menyasar anak-anak muda. Desain yang menarik, rasa yang beragam dan sifat adiktif menjadi faktor-faktor mengapa orang tertarik dan memilih vape. Lingkungan sosial dan tren internet juga menjadi pengaruh kuat bagi seseorang untuk mencoba vape.

Sebanyak 58% unggahan Instagram menampilkan rokok elektrik dalam konten yang masuk dalam kategori gaya hidup. Para influencer menggambarkan vape sebagai aksesori gaya hidup yang keren dan modis (Bigwanto et al., 2025). Budaya FoMO (Fear of Missing Out) yang menjadi semakin menjamur dalam masyarakat modern menjadi penanda bagaimana peran media sosial menjadi sangat penting dalam promosi vape bagi masyarakat.

Keluarga dan pertemanan juga menjadi pengaruh bagi remaja untuk mencoba vape. Memiliki anggota keluarga horizontal dan teman sebaya yang merupakan pengguna vape menjadi predikator yang signifikan bagi pribadi untuk mencoba dan menggunakan vape di kemudian hari (Bigwanto et al., 2025).

Semakin banyak keluarga horizontal dan/atau teman sebaya yang menggunakan vape, semakin besar pula kemungkinan remaja mengakses vape dan berbagai produk semacamnya. Lingkungan sosial yang menormalisasikan rokok tentu akan membuat seorang perokok lebih diterima dalam lingkungan sosial tersebut.

Jalan buntu yang bisa dihindari

Berhenti merokok memang terdengar sulit bila dilakukan. Integritas diri dan kemauan yang kuat yang disertai kesadaran yang penuh akan bahaya vaping menjadi sangat penting dalam proses pemulihan. Perlu ada alternatif lain sebagai stress release bagi para pengguna, mislanya olahraga, menulis, mendengarkan lagu, meditasi dan relaksasi atau bahkan pergi ke psikolog.

Normalisasi rokok dan vape perlu diberhentikan. Orang tua perlu sadar dan terbuka pada buah hatinya. Orang tua perlu sabar dalam mengawasi dan menjaga anak-anaknya. Maka, anak akan terarah dan menjadi sadar betapa bahayanya vape bagi dirinya terutama bagi masa depannya.

Narendra Setya Nugraha 
Kelas XII-1/103 SMA Seminari Menengah St. Petrus Canisius Mertoyudan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *