Tetuwi, Semangat Iman dan Persaudaraan Wilayah Maria Rosari Gesikan

News1935 Views

Bantul. Menjelang pesta nama pelindung yang jatuh pada 7 Oktober (tetapi dirayakan sehari sebelumnya), Wilayah Maria Rosari Gesikan, Paroki St. Yakobus Bantul menyelenggarakan sarasehan menggali sejarah nama pelindung di Gereja Santa Maria Rosari, Pijenan pada awal pekan ini.

Agustinus Ganies Wahyu, Ketua Panitia Pesta Nama, menjelaskan sarasehan ini adalah acara perdana dari seluruh rangkaian kegiatan pesta nama Wilayah Maria Rosari Gesikan.

“Beranjak dari membaca laporan pertanggungjawaban pesta nama tahun 2023, serta saat rapat pertama panitia pesta nama tahun 2024, ada masukan dan anjuran agar sejarah Wilayah Maria Rosari Gesikan ini dapat ditularkan kepada kaum muda,” ungkap Ganies.

Menurutnya, kaum muda hanya melihat bahwa gereja yang ada di wilayahnya sekarang ini ada dua, yaitu Gereja Santa Maria Rosari, Pijenan dan Gereja Santo Yakobus Alfeus, Pajangan. “Maka, sejarah harus kita ungkapkan agar anak-anak kita mendapatkan informasi tentang gereja-gereja ini,” lanjut Ganies.

Sumber sejarah yang disampaikan dalam sarasehan berasal dari buku-buku yang pernah disusun serta cerita-cerita dari narasumber, baik saksi hidup maupun tokoh wilayah lainnya. Hadir sebagai narasumber para saksi hidup antara lain F.X. Juwaris, Maryanto, dan Servasius Yori Manaan serta Albertus Bambang Heru Kusharjanto, Kabid Litbang Wilayah yang ikut merintis Lingkungan Yohanes Rasul di Kompleks Perumahan Pring Gading, Guwosari dan dimoderatori Andreana Melvina.

“Dari sarasehan ini, syukur ada satu buku yang bisa kita tularkan kepada seluruh umat,” harap Ganies. 

Selanjutnya, Leonardus Sihadi Wasono Putra selaku Ketua Wilayah menyebut Wilayah Maria Rosari adalah wilayah khusus dari Paroki St. Yakobus Bantul yang memiliki gereja atau kapel. Oleh karena itu, pengurus dan pengelola wilayah mengurusnya seperti gereja paroki.

“Tahun ini, paroki-paroki yang ada di Keuskupan Agung Semarang (KAS) berkembang. Di tingkat lingkungan dan wilayah pun akan mengalami perkembangan serta pertumbuhan. Itu terjadi pula di Wilayah Maria Rosari, yakni Lingkungan Yohanes Rasul akan ditata ulang atau dimekarkan sehingga bertambah lingkungannya,” terang Edo, sapaan akrabnya.

Agustinus Ganies Wahyu. Berharap ada buku tentang sejarah Wilayah Maria Rosari.

Narasumber pertama, Juwaris, menyebut baptisan pertama Paroki St. Antonius Padua Kotabaru adalah dari Pajangan (22 Juni 1920 oleh Rm. H. van Driesce, SJ-Red). Namun, benih-benih iman umat Katolik di wilayah ini mulai bertumbuh dari rumah keluarga Constantinus Soeradibrata, seorang pejabat Pabrik Gula Gesikan.

“Maka, kita jangan melupakan Rumah Constantinus di utara gereja ini yang dulu juga dipakai menjadi sarana katekisasi. Dari situ kita mengingat jasa-jasa keluarga ini,” ajak Juwaris.

Dari kompleks rumah keluarga Constantinus Soeradibrata inilah didirikan sekolah Katolik setingkat SD untuk pewartaan Injil melalui pendidikan.

Tradisi di Wilayah Maria Rosari setiap Oktober yang tidak boleh berhenti atau libur adalah berdoa dari rumah ke rumah atau tetuwi (berkunjung). Puluhan tahun lalu, umat berjalan ke rumah yang ketempatan dengan penerangan obor.

“Dengan tetuwi, semangat persaudaraan selalu dihidupi terus-menerus. Sebelumnya wilayah ini bernama Maria Tetuwi, lalu diresmikan dengan nama Maria (Ratu) Rosari. Nama baru ini tidak lepas dari umat yang dekat dengan Bunda Maria,” tegas Juwaris.

Sedangkan alasan wilayah ini mempunyai dua gereja, Juwaris mengatakan ini bukti peran gembala yang sangat menentukan. “Pada masa penggembalaan alm. Rm. F.X. Sumantara Siswoyo, Pr disetujui pembelian tanah di Dusun Kamijoro, yang kemudian dibangun Gereja St. Yakobus Alfeus oleh Rm. Venantius Mujiono Kartasudarma, Pr,” pungkas Juwaris.

Sebagai narasumber kedua, Maryanto menambahkan perihal sejarah kapel atau gereja pertama di Pijenan, “Ketika jumlah umat makin berkembang, maka mulai dipikirkan untuk membangun kapel sebagai sarana ibadah. Umat pun bergotong royong untuk membangunnya, termasuk mencari pasir.” 

Kemudian, selaku pembicara ketiga, Yori menceritakan pascakemerdekaan Timor Leste, ia datang ke wilayah ini yang merupakan kampung halaman istri. “Saya prihatin ketika pertama di sini. Sembahyangan diikuti orang tua, padahal wilayah ini dirintis anak-anak dan pemuda. Baptisan pertama di wilayah itu anak-anak kecil, padahal orang tuanya belum Katolik pada saat itu,” kisah Yori.

Di Wilayah Maria Rosari, pada masa penjajahan para pemuda berjuang demi iman Katolik. Salah satunya ayah mertua Yori, Celsus Ngatijan, ditangkap Jepang saat menjadi misdinar di Gereja Kotabaru lalu dibuang ke Irian Jaya (Papua) dan dianggap hilang.

“Ketika kemerdekaan, diperiksa nama-nama orang yang ditangkap Jepang. Orang tuanya di sini berdoa, dengan kepercayaan yang cukup besar, kalau siram garam di tunas pisang tidak mati, berarti dia masih hidup. Itulah yang terjadi,” sambung Yori.

Rm. Laurensius Dwi Agus Merdi Nugroho, Pr. Tetuwi atau kunjungan dari rumah ke rumah merupakan suatu kebiasaan yang baik.

Suatu ketika, sekitar tahun 1947 atau 1948, Celcus Ngatijan kembali dalam keadaan hidup. Meski disiksa Jepang, imannya akan Kristus tidak hilang. Setelah Celcus Ngatijan menikah, ketiga belas anaknya tidak ada satu pun yang meninggalkan Kristus. “Jadi, iman di sini ada karena perjuangan dan militansi iman yang luar biasa dari pendahulu. Maka, militansi iman itu perlu kita pelihara dan tingkatkan dengan baik, supaya iman di wilayah ini makin berkembang,” pesan Yori.

Terakhir, Heru menceritakan pada Januari 2000, saat pertama kali datang di sini, ia bersyukur menemukan TK di kompleks gereja. Sebab, saat itu ia sedang mencari sekolah untuk anaknya. Selain itu, bersama segelintir keluarga di kawasan perumahan Guwosari, ia menemui dukuh setempat untuk menyampaikan niat membentuk perkumpulan umat Katolik dan Protestan yang dinamakan persekutuan doa.

“Ketika makin banyak umat Katolik di sana, kami bergabung dengan Lingkungan Markus yang terdekat. Lalu, kami berkembang menjadi lingkungan persiapan pada era Rm. Norbertus Sukarno Siwi, Pr. Pada Desember 2003, kami diresmikan menjadi lingkungan tersendiri oleh Rm. Maternus Minarta, Pr,” kenang Heru. 

Kawasan perumahan yang terus bertumbuh, membuat umat Lingkungan Yohanes Rasul makin bertambah. “Lalu ada sosialisasi terkait pemekaran lingkungan. Kami akan dijadikan tiga lingkungan dan bergabung dengan Lingkungan Albertus untuk menjadi satu wilayah di Gereja pusat,” sebut Heru.

Oleh karena itu, sejarah Lingkungan Yohanes Rasul dengan Wilayah Maria Rosari jadi terputus. “Kalau ini sesuatu yang baik, kami pasrah. Sebelumnya, kami yang di perumahan bisa berdinamika dengan umat yang di kampung. Selanjutnya, dengan Lingkungan Albertus, kami akan berdinamika dengan sesama warga perumahan. Apalagi warga perumahan banyak yang baru dan pendatang, tentu di paroki kami akan menyesuaikan diri,” tutup Heru. 

Pada pengujung sarasehan, Rm. Laurensius Dwi Agus Merdi Nugroho, Pr selaku Pastor Paroki St. Yakobus Bantul menyatakan ungkapan “jasmerah” kiranya menjadi pesan yang amat baik dilaksanakan di wilayah, yaitu untuk tidak sekali-kali melupakan sejarah. “Sejak awal, tempat ini menjadi yang pertama dari paroki, dikenal sebagai tempat baptisan awal yang bukan di Paroki Bantul, tetapi di Pajangan,” bukanya.

Rm. Merdi memandang, tetuwi atau kunjungan dari rumah ke rumah merupakan suatu kebiasaan yang baik, yang tentu membangun sekaligus melanjutkan karya besar dan peran dari keluarga Rm. Rm. Paulus Soeradibrata, SJ yang merupakan putra dari Constantinus Soeradibrata.

“Sejarah ini akan mengantar kita untuk memahami wilayah ini dalam konteks Paroki St. Yakobus Bantul yang baru saja merayakan hari jadi ke-90. Setelah mengetahui sejarah ini, kita semua menitikberatkan perkembangan pada masa-masa mendatang yang sifatnya bukan hanya dalam tahap kewilayahan, tetapi lebih luas, yaitu parokia,” tutur Rm. Merdi.

Hal ini termasuk penataan wilayah dan lingkungan yang harus ditetapkan dalam kerangka parokia. Umat di lingkungan dan wilayah itu didata dan ditata sehingga lebih efisien. “Maka, hari-hari ini, kita bersama tim penataan menata lingkungan dan wilayah yang ada di paroki kita,” ujar Rm. Merdi sembari mengingatkan bahwa sejarah dan kebersamaan yang selama ini dibangun tentu akan menjadi sumbangan yang sangat berharga untuk lingkup yang jauh lebih besar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *