Teknologi Menjadi Jembatan Kasih

Kuliah Umum Masyarakat Digital FTI UAJY

News601 Views

SLEMAN– Di ruang kuliah Universitas Atma Jaya Yogyakarta teknologi dibicarakan dengan cara yang berbeda dari biasanya. Para Gen Z di ajak untuk merawat sesama dan bumi melalui inovasi teknogi. Fakultas Tenologi Industri UAJY mengajak mahasiswanya berpikir dan berefleksi yang gilirannya bisa membantu manusia secara cerdas.

Solusi yang memanusiakan, itulah yang diharapkan dari Kuliah Umum Masyarakat Digital bertema “Pendekatan Teknologi dan Digitalisasi untuk Menyelesaikan Masalah Komunitas” kolaborasi Yayasan Dua Belas melalui Gerakan Cerita Kasih, Selasa, 9 Juni 2026.

Kuliah umum ini menghadirkan dua narasumber Owner AquaVision Consulting, Dyogi Miyosa T dan Co-Founder PT Frogs Indonesia, Asro Nasiri. Di hadapan ratusan mahasiswa mereka menegaskan bahwa Kecerdasan buatan, aplikasi terbaru, drone canggih, atau sistem digital mutakhir semestinya dimanfaatkan sebagai sarana untuk mendengarkan manusia. Di sini masyarakat bisa memahami kebutuhannya dan terciptalah solusi yang membawa harapan.

Di tengah dunia yang semakin terhubung secara digital, kuliah umum ini mengingatkan bahwa kemajuan teknologi hanya akan bermakna apabila mampu menjawab persoalan nyata yang dihadapi masyarakat. Mulai dari petani yang kesulitan panen, nelayan yang kehilangan hasil budidaya, hingga komunitas yang membutuhkan akses informasi dan pemberdayaan ekonomi.

Dalam perkulihan ini semangat yang digaungkan Paus Fransiskus tentang ajakan kepada manusia untuk membangun peradaban yang tidak hanya maju secara teknologi, tetapi juga peduli pada sesama dan bumi sebagai rumah bersama itu dinyatakan.

Dyogi Miyosa T sedang memberikan materi Kuliah Umum FTI UAJY. (UTUSAN/Slamet Riyadi).

Teknologi untuk Kebutuhan Manusia

Dyogi Miyoso T., narasumber yang juga pendiri AquaVision Consulting, pada perkulihan ini mengungkapkan pengalamannya mendampingi petani ikan.  Konsultan dan pencipta inovasi teknogi perikanan sekaligus petani budidaya ikan air tawar ini memulai paparannya dengan sebuah kritik yang sederhana namun mengena.

Sering terjadi kegagalan sebuah inovasi teknologi yang berangkat bukan dari kebutuhan. Hal ini justru bukan karena berangkat dari kebutuhan atau persoalan manusia atau pengguna. Hal itulah seperti pengalaman konkrit Yogi.

“Sering ada inovasi solusi digital gagal. Hal ini umumnya karena langsung membuat aplikasi tanpa memahami kebutuhan masyarakat atau user,” terang Yogi.

Menurut Dyogi, kegagalan berbagai proyek digital sering kali bukan karena teknologinya buruk, melainkan karena sejak awal tidak berangkat dari kebutuhan manusia. Banyak pengembang terlalu fokus pada kecanggihan teknologi, tetapi lupa memahami siapa yang akan menggunakannya.

“Masyarakat tidak bertanya apakah ini menggunakan AI, website, atau aplikasi. Mereka bertanya, apakah masalah saya selesai?” ujarnya.

Bagi Dyogi, teknologi hanyalah alat, bukan tujuan. Menurutnya, yang terpenting adalah dampak yang dihasilkan bagi kehidupan manusia.

 

Materi yang disampaikan Dyogi Miyosa T kepada para mahasiswa-mahasiswi.. (Dok. Dyogi Miyosa T).

Karena itu, ia mengajak mahasiswa memahami metode design thinking: berempati (empathize), mendefinisikan masalah (define), mencari ide (ideate), membuat prototipe (prototype), lalu mengujinya (test).

Pendekatan tersebut ia praktikkan dalam mendampingi petani dan budidaya ikan. Dalam sebuah penelitian, timnya menemukan fakta mengejutkan. Dari seratus responden yang diteliti, sekitar delapan puluh persen tidak memahami penggunaan aplikasi digital yang dirancang untuk mereka.

Mengubah Cara Pandang

Alih-alih menciptakan sistem yang rumit, Dyogi memilih solusi yang sederhana dan mudah digunakan. Ia memanfaatkan Google Form, dokumen digital, grup WhatsApp, dan pencatatan berbasis spreadsheet untuk membantu petani menyimpan data budidaya secara real-time.

Selama ini, banyak petani gagal panen dan menganggap penyebabnya adalah cuaca, musim, atau harga pasar. Namun ketika ditelusuri lebih jauh, sering kali tidak tersedia data yang memadai untuk mengetahui akar persoalan.

Melalui pencatatan digital yang sederhana, petani dapat mengetahui riwayat budidaya, kualitas air, pola pemberian pakan, hingga faktor-faktor yang memengaruhi hasil panen.

Kata Yogi, mestinya inovasi teknogi itu dimulai melalui penetian atau survai akan akan kebutuhan user atau pengguna yang adalah masyarakat. Dalam kesempatan ini Yogi mencontohkan kebutuhan petani ikan.

Petani ikan yang bekerjasama dengan berbagai pihak ini mengungkapkan sebuah keputusan itu mestinya diambil dengan tepat dan minim risiko.

“Bila kita mempunyai informasi dan data yang lengkap membuat keputusan menjadi lebih tepat dan risiko dapat diminimalkan,” kesaksian Yogi yang mengungkapkan pengalamannya.

Yogi mengungkapkan pengalamannya bertani ikan, dengan pemanfaatan teknologi Internet of Things (IoT) yang berfungsi untuk mengukur kualitas air. Penggunaan teknologi probiotik berbasis tempe afkir ini mampu mengefesienkan pakan hingga 80%. Hal ini tentunya sungguh berguna bagi petani. Income petani meningkat secara signifikan. Di sinilah teknologi yang sederhana pun ternyata mampu mengubah kehidupan banyak orang.

Asro Nasiri menjelaskan drone karyanya dan mengajak mahasiwa untuk memahami bahwa sistem digital mutakhir semestinya dimanfaatkan sebagai sarana untuk mendengarkan manusia. (UTUSAN/Slamet Riyadi).

Dari Langit hingga Sawah

Jika Dyogi berbicara tentang teknologi yang dekat dengan kehidupan petani dan nelayan, narasumber lainnya, Asro Nasiri, mengajak peserta melihat bagaimana inovasi besar juga lahir dari keinginan menyelesaikan masalah manusia.

Asro bukan nama asing di dunia teknologi Indonesia. Ia dikenal sebagai salah satu dari 100 Tokoh Inovatif Indonesia versi Kementerian Riset dan Teknologi. Pengalamannya mencakup pengembangan sistem penerbangan, teknologi pertahanan, hingga kewirausahaan berbasis inovasi.

Namun di hadapan mahasiswa, ia tidak berbicara tentang prestise teknologi tinggi. Ia justru mengulang pesan yang sama dengan Dyogi.

“Teknologi harus hadir untuk menyelesaikan masalah,” ujarnya.

Menurut Asro, masyarakat biasanya sudah memahami kebutuhan mereka sendiri. Tugas para inovator adalah mendengarkan, kemudian menerjemahkan kebutuhan tersebut menjadi solusi yang nyata.

Ia memperlihatkan bagaimana drone kini dapat membantu petani menebar benih dan pupuk secara otomatis. Teknologi navigasi digital memungkinkan drone menentukan jalur kerja sendiri tanpa harus dikendalikan secara manual.

Melalui inovasi Sekar Agri, drone bahkan dapat mendeteksi kesehatan tanaman, memetakan lahan pertanian, hingga mengangkut logistik menggunakan sistem drone kargo.

“Masalah itu sebenarnya peluang,” kata Asro.

Pernyataan tersebut lahir dari pengalaman panjangnya menghadapi berbagai tantangan inovasi. Ia mengakui bahwa ide-ide baru sering kali diremehkan atau kurang mendapat dukungan.

“Sesuatu yang belum pernah ada biasanya memang dianggap aneh. Dibutuhkan waktu, dana, dan kesabaran untuk membuktikannya. Namun justru dari ketekunan itulah berbagai inovasi lahir,” kata Asrori.

Seorang mahasiwa memberikan pertanyaan kepada pemateri. UTUSAN/Slamet Riyadi).

Belajar Laudato Si’ Melalui Aksi Nyata

Kuliah umum ini tidak berhenti pada diskusi teknologi semata. Bernardus Nurcahyo, Proyek Manager Cerita Kasih, Yayasan Dua Belas ini mengungkapkan bahwa Program Masyarakat Digital UAJY menjelaskan bahwa mahasiswa tidak hanya belajar di dalam kelas. Mereka diterjunkan langsung ke sekolah-sekolah untuk menggali persoalan nyata yang dihadapinya.

Pada tahun 2026ini hasil pengamatan mereka kemudian ditulis dan diterbitkan dalam wujud buku berjudul “Kosong yang Penuh”.  Buku ini dirancang menggunakan pendekatan storytelling.

“Buku ini rencananya kami luncurkan pada pertengahan Juni 2026 ini. Dan hal ini juga sebagai sebagai bagian dari upaya membangun budaya literasi sekaligus kepekaan sosial bagi mahasiswa,” ungkap Nurcahyo.

Kata Nurcahyo, hal yang menarik dari program ini adalah lahir dari refleksi mengenai semangat Laudato Si’ yang dipesankan almarhum Paus Fransiskus yang tahun 2024 yang lalu hadir dan menjadi berkat bagi Indonesia.

“Bagi UAJY dan kami dengan programnya Cerita Kasih ini, merawat bumi tidak hanya berarti menjaga lingkungan hidup secara fisik. Merawat ciptaan juga berarti membangun relasi yang sehat dengan sesama manusia,” ungkap Nurcahyo.

Dengan pengalaman mendengarkan suara mereka yang kecil, dan menghadirkan solusi yang memampukan hingga  berkembang adalah solusi yang bermanfaat bagi sesama. Kata Nurcahyo itulah perspektif teknologi menemukan maknanya yang terdalamnya.

Kuliah Umum Mahasiswa semester II FTI UAJY ini menghasilkan pesan bagi siapapun bahwa masa depan teknologi tidak semata ditentukan oleh kecepatan inovasi. Justru di sini arah dan tujuan penggunaan teknologi itu di daratkan dengan melahirkan solusi yang penuh kepedulian dan empati. Dengan pendekatan digital yang kreatif dan kolaboratif  mahasiswa diajak melihat persoalan komunitas bukan sebagai hambatan. Di ruang inilah mereka menemukan solusi untuk berkarya yang memberi manfaat nyata bagi sesama.

Sebagai mahasiswa yang berkutat dengan ilmu teknogi industri para mahasiswa-mahasiswi UAJY ini diajak untuk memiliki kepekaan sosial dan semangat pelayanan. Maka Sejalan dengan semangat Laudato Si’, kemajuan sejati tidak diukur dari kecanggihan perangkat yang diciptakan Disinilah sejatinya kemampuan teknologi untuk merawat bumi sebagai rumah bersama, mempererat persaudaraan, serta menghadirkan harapan dan kesejahteraan bagi mereka itu dibutuhkan.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *