Tak Sembarang Gunakan Kebebasan

Jendela1064 Views

Sebuah pertanyaan yang datang dari diri kita terkadang juga membuat kita sendiri bingung untuk berkata. Begitu pula terjadi dalam diriku dan temanku ini, terkadang kami berfikir tentang hal-hal random, ilmiah, maupun filsafat, tetapi pertanyaan kali ini yang muncul di kepala membuatku bingung. Bahkan, temanku yang tertarik dalam filsafat dan ilmu teologi saja sulit untuk menjawabnya. Maka, kami memutuskan untuk merangkumnya dalam satu artikel ini tentang pemikiran kami serta yang lainnya.

Pertanyaan yang muncul dibenakku yaitu, “Jika Tuhan telah merancang segalanya dan mengetahui semua pergerakan kita di dunia, apakah pergerakan manusia memiliki dampak?”

Setelah aku sharing dengan teman sekelasku, ia memberikan jawaban bahwa kita dapat hidup sesuai apa yang kita inginkan, tetapi pergerakan maupun pilihan itu harus berlandasan ajaran dari Tuhan yang ditinggalkan untuk kita orang berdosa.

Aku setuju 60% karena tertulis juga di Alkitab: “Saudara-saudara, memang kau telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu menggunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih”(Gal. 5:13).

Ayat ini mengingatkan kita bahwa kebebasan yang dimiliki manusia bukan digunakan secara sembarangan, terutama “Hidup” dalam dosa. Namun, kita harus menggunakan kemerdekaan kita, hidup bebas kita, untuk melayani dan mewartakan Kabar Baik seperti yang dilakukan para rasul.

www.vecteezy.com

Namun, aku merasa ada kejanggalan dari gagasan tersebut, yakni masih ada pertanyaan dalam diriku, “Jika kita hidup berdasarkan ajaran yang ditinggalkan oleh Tuhan, apakah kita benar-benar memiliki kebebasan untuk menentukan hidup kita sendiri? Bagaimana kita mendamaikan gagasan tentang kebebasan pribadi dengan kewajiban untuk mematuhi aturan moral yang telah ditetapkan di luar kehendak kita?”

Pertanyaan ini membuatku berfikir terus- menerus hingga aku tidak bisa tidur. Maka, aku menulis pemikiraku di atas kertas dengan membandingkan berbagai point of view (POV) atau sudut pandang dan membedahnya satu per satu.

Dalam sudut pandang negatif, kebebasan dapat diartikan sebagai bebas dari paksaan eksternal, moral, dan konsekuensi. Namun, jika kita lihat dari sudut pandang lainnya, kebebasan dapat juga diartikan kebebasan untuk mengejar mimpi, memilih tujuan, dan lain-lain.

Dalam konteks ajaran Tuhan memang terlihat ketat, terbatas, dan seperti dituntut untuk mematuhi aturan moral tertentu. Namun, jika kita melihat aturan maupun moral tersebut menjadi panduan hidup yang baik, maka kita akan mendapatkan kebebasan secara positif.

Kita memang tidak akan bebas dalam arti dapat melakukan apa pun tanpa mendapatkan konsekuensi. Namun, kita diberikan kebebasan dalam memilih jalan hidup kita masing-masing sesuai keinginan kita serta memilih apakah kita mau mengikuti jalan keselamatannya yang membawa kepada kebenaran dan kebajikan atau tidak.

Ini adalah contoh kebebasan untuk berusaha menjadi lebih baik dalam nilai-nilai yang lebih tinggi. Dalam konteks ini, mendamaikan kebebasan pribadi dengan kewajiban norma dapat dilihat sebagai dialektika antara kehendak individu dan pencarian makna yang lebih dalam tentang hidup.

Kebebasan juga bukan hanya tentang memilih yang baik atau tidak, jahat atau baik, seru atau tidak, tetapi juga tentang memahami dan merangkul tujuan dan pilihan. Jika kita memilih hidup dalam ajaran yang kita yakini baik, kita mungkin akan menemukan kebebasan yang lebih dalam seperti kebebasan dari kekacauan moral, keraguan, dan kekosongan eksistensial.

Menurut pendapat pribadiku, jalan yang telah disediakan dapat diartikan menjadi alur hidup yang dibuat untuk membantu manusia hidup. Sebagai contoh, mari kita baca cerita kecil berikut.

Terdapat sebuah desa kecil yang dikelilingi oleh hutan lebat. Seorang pemuda bernama Arya sering merenung tentang hidupnya di dalam hutan itu. Suatu hari, saat berjalan di tepi sungai, Arya melihat beberapa jalur kecil yang bercabang dari jalan di tepi sungai.

Dengan rasa penasaran, ia memutuskan untuk mengikuti salah satu jalur tersebut. Setiap jalur membawanya ke tempat yang berbeda, menawarkan pemandangan indah dan tantangan unik. Arya mulai memahami bahwa Tuhan telah menyediakan berbagai jalan dalam hidup, masing–masing dengan pelajaran dan tujuan tersendiri.

Saat ia merenung lebih dalam, Arya menyadari bahwa dengan berpikir, bergerak, dan meneliti setiap pilihan, ia dapat menemukan jalannya sendiri, yang terhubung dengan banyak jalan lain yang Tuhan tawarkan.

Dengan penuh keyakinan, Arya memilih jalan yang paling selaras dengan hatinya, mengikuti panduan yang terasa benar dan baik, yakin bahwa meskipun jalannya berbeda dari yang lain, semua jalan yang diberikan Tuhan membawa kebaikan jika dijalani dengan keikhlasan dan kebijaksanaan.

Dalam contoh ini, kita dapat melihat bahwa Tuhan telah memberikan banyak jalan untuk kita. Cara kita mengetahui jalannya Tuhan adalah dengan berpikir, bergerak, meneliti, dan menemukan jalan kita sendiri.

Jalan yang dibuat oleh Tuhan bukan hanya satu, melainkan sangat banyak, mungkin mendekati tak terhingga dan semuanya terhubung melewati ruang dan waktu dengan cabang-cabangnya. Kita dapat memilih jalan yang ditawarkan oleh Tuhan sebagai panduan yang baik untuk hidup kita agar kita tidak salah jalan.

www.istockphoto.com

Namun, banyak di antara kita yang lebih memilih jalan yang salah karena cenderung lebih mudah dan instan, tetapi tidak dimungkiri lagi bahwa jalan yang instan tidak akan menuaikan hasil yang baik. Kita sebagai manusia 100% Katolik 100% Indonesia harus berkuasa atas diri kita dan membimbing generasi yang lebih muda agar tidak salah dalam memilih jalan mereka masing-masing.

Banyak yang jatuh ke dalam dosa karena kemalasan dan keegoistisan yang hanya mementingkan diri sendiri. Walaupun masa penjajahan telah berlalu dan kita telah meraih kemerdekaan, bukan berarti pemikiran kita sudah merdeka. Masih banyak yang salah mengartikan kebebasan.

“Hiduplah sebagai orang merdeka, tetapi janganlah kamu menggunakan kemerdekaan itu untuk menyelubungi kejahatan-kejahatanmu. Hiduplah sebagai hamba Allah” (1Ptr. 2:16). Kita sebagai seorang Katolik memang merdeka, tetapi kita tidak boleh menyalahgunakan kemerdekaan itu. Sebaliknya, kita harus menggunakan kemerdekaan itu untuk melayani Tuhan.

Tuhan adalah pribadi yang kita layani dalam ketundukan kita kepada otoritas lainnya. Itu membuat kita benar-benar bebas. Orang percaya bukanlah orang yang tunduk kepada pemerintah karena takut atau bahkan kesetiaan duniawi, melainkan karena kemurnian hatinya untuk percaya.

Apakah Anda pernah mendengar istilah “Apa yang kamu tanam, itulah yang kamu tuai”? Istilah tersebut diambil dari ajaran Paulus saat mengajarkan jemaat Galatia (Gal. 6:7-9) yang memiliki arti bahwa apa yang telah kamu lakukan pada masa lalu akan berdampak pada masa depan. Jika kamu melakukan kesalahan pada masa lalu, maka akan berdampak pada masa depan.

Kesalahan tercipta jika ada penyimpangan pada peraturan yang ada. Hal tersebut menyebabkan banyak yang beranggapan bahwa peraturan, hukum, dan perintah Tuhan merupakan suatu penghalang untuk mencapai kebebasan.

Walau kita diberikan kebebasan oleh Tuhan, tetap ada pelanggaran yang dilakukan akan tentu mendapatkan sanksi yang setimpal. Oleh karena itu, mari kita hidup secara bebas tetapi tetap berlandasan hukum kanonik.

Matteo Kenzie Rana & Xavier Putra Rendi K.G. (SMP Citra Berkat Bogor)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *