Sukacita sebagai Prodiakon Sungguh Membawa Berkah

Temu Raya Prodiakon 2024

News2486 Views

Sleman. Pada tahun 2024, sebagian besar prodiakon paroki di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), baik di Kevikepan Yogyakarta Barat (KYB) maupun Kevikepan Yogyakarta Timur (KYT), akan mengakhiri masa tugas pelayanannya.

Di antara prodiakon yang akan mengakhiri masa pelayanannya, ada sebagian yang benar-benar akan berhenti sebagai prodiakon karena sudah melayani selama 2 (dua) periode. Namun, ada pula sebagian yang mungkin diusulkan lagi sebagai calon periode 2025-2027.

Komisi Liturgi KYB dan Komisi Liturgi KYT bersama dengan PT Kanisius dalam upaya menghidupkan spirit pelayanan dalam keterlibatan awam, khususnya prodiakon paroki, menggelar Temu Raya Prodiakon (TRP) 2024 yang memberi kesempatan prodiakon untuk berbagi dan merefleksikan pengalaman satu sama lain, memperkaya wawasan, serta menggali kegembiraan dan spiritualitas karya bersama.

Antonius Riyanto. Kegembiraan dan sukacita sebagai prodiakon sungguh membawa berkah.

TRP 2024 bertema “Venio Servire (Aku Datang untuk Melayani)” ini dilaksanakan pada Senin, 16 September 2024 di aula SMA Kolese de Britto dan diikuti perwakilan prodiakon dari 40 paroki/stasi se-DIY sebanyak 1.002 orang, sekitar 38% dari total prodiakon di DIY. Dari KYB sebanyak 490 orang dan KYT 512 orang.

Ketua Panitia TRP 2024 Antonius Riyanto menyatakan kalau menjadi prodiakon itu penuh syukur dan sukacita, mberkahi (penuh berkat), adalah semangat yang ingin kembali digerakkan melalui kegiatan ini.  “Kegembiraan dan sukacita sebagai prodiakon sungguh membawa berkah. Keinginan untuk melayani, menerima perutusan itu, semata-mata bukan karena merasa mampu, tetapi karena Tuhan sendiri yang memampukan,” tuturnya.

Temu Raya Prodiakon 2024 diawali dengan Misa yang dipimpin Rm. F.X. Sugiyana, Pr.

Pertemuan ini diawali Misa yang dipimpin Vikaris Jenderal Keuskupan Agung Semarang (Vikjen KAS) Rm. F.X. Sugiyana, Pr mewakili Uskup Agung KAS Mgr. Robertus Rubiyatmoko. Rm. Sugiyana didampingi Vikaris Episkopal (Vikep) KYB Rm. A.R. Yudono Suwondo, Pr, Vikep KYT Rm. Andrianus Maradiyo, Pr, Ketua Komisi Liturgi Kevikepan Yogyakarta Barat Rm. Antonius Hendri Atmoko, Pr, Pastor Paroki Pringwulung Rm. B. Irawan Heryuwono, Pr, Pastor Paroki Baciro Rm. Andreas Novian Ardhi Prihatmoko, Pr, Rektor Kolese Santo Johanes de Britto Rm. Agustinus Sugiyo Pitoyo, SJ, dan Rm. A. Agus Widodo, Pr dari Seminari Tinggi St. Paulus Kentungan sekaligus salah satu pembicara.

Dalam homilinya, Rm. Sugiyana menuturkan, “Kesediaan Anda untuk menjadi prodiakon, itulah yang membuat Anda istimewa. Kesediaan untuk melayani dan berbagi waktu bagi orang lain ini datang dari Tuhan. Kalau orang itu tidak dirahmati Tuhan, mungkin juga tidak akan mau. Tetapi dalam segala situasi, Anda bersedia.”

Rm. Sugiyana memukul gong tanda Temu Raya Prodiakon 2024 dimulai didampingi Rm. Hendri dan Rm. Pitoyo.

Usai Misa, peserta mendengarkan paparan materi pembekalan dari dua narasumber, yaitu Rm. Agustinus Agus Widodo, Pr dan Rm. Agustinus Setyodarmono, SJ.

Pada sesi pertama, Rm. Agus yang pernah 6 tahun tinggal di Roma menunjukkan beberapa foto para pelayan komuni di luar negeri yang disebutnya tidak segagah dan secantik prodiakon di Indonesia. Sebab, di sana para prodiakon dalam melayani tidak memakai alba, samir, dan singel. Namun, mereka hanya memakai pakaian biasa layaknya umat yang lain.

“Mereka tidak diberi fasilitas pakaian yang membedakan dengan umat. Ketika saya beberapa kali memimpin Misa di gereja-gereja di Italia, tidak tahu mereka prodiakon atau bukan. Tahu-tahu saat mau komuni, mereka maju dengan pakaian biasa, lalu membantu membagi komuni,” cerita Rm. Agus.  

Rm. Agustinus Agus Widodo, Pr. Antusiasme para prodiakon di Indonesia sangat tinggi

Berbeda dengan di Indonesia, para prodiakon bahkan rela membeli dan memiliki sendiri pakaian khususnya, tidak cukup hanya dengan memakai yang disediakan paroki. “Itu saya rasa sebagai gambaran antusiasme yang sangat tinggi,” nilai Rm. Agus kagum.

Sebelum masuk sesi kedua, para peserta menyimak sharing dari Adrianus Rukmanto, prodiakon Paroki Banteng (2018 – 2024) sekaligus ketua geng motor “Friday Bikers” (2018 – sekarang), serta Imanuel Anggara Wirayuda, prodiakon Paroki Marganingsih Kalasan (2022 – 2024) yang baru berusia 22 tahun.

Adrianus Rukmanto yang akrab disapa Andre bercerita, saat malam-malam di Sendangsono menemukan orang berdoa di sana, ia menemukan inspirasi. Sebagai prodiakon jika hanya membagikan komuni, kalau dirinya meninggal tidak ada apa-apanya. Orang akan melupakannya, karena semua prodiakon bertugas demikian.

Adrianus Rukmanto (kiri). Tujuh anggota geng motornya jadi prodiakon.

“Maka, saya ingin membentuk sebuah kelompok yang ziarah rutin pada malam hari. Ketika menawari orang-orang seusia saya, 61 tahun, sudah tobat kalau malam. Akhirnya, saya mencari keluarga muda dan mereka sangat senang. Bukan karena doa, tapi keluyuran malamnya,” cerita Andre sembari menyebut kegiatan ini rutin setiap Jumat pertama malam Sabtu, berangkat pukul 21.00. “Dari awalnya berempat, sekarang sekali berangkat bisa 20 sepeda motor,” lanjutnya.

Di tempat-tempat ziarah, bahkan sampai di Jawa Tengah, mereka melakukan Jalan Salib. “Orang-orang ini awalnya kelihatan tidak pernah Jalan Salib, tapi sekarang sudah pintar-pintar. Anggota saya ada tujuh yang sekarang jadi prodiakon. Padahal dulu aktif saja kagak,” sebut Andre.

Sebagai prodiakon, Andre merasa yang dilakukannya ini sungguh banyak bermanfaat. Sebab, secara tidak sadar, ia telah membantu mengubah banyak orang untuk lebih dekat dengan Tuhan.

Imanuel Anggara Wirayuda. Menjadi prodiakon pada umur 19 tahun.

Selanjutnya, Yuda menceritakan dirinya ditawari Vera, ketua lingkungan sekaligus guru SMP-nya, untuk menjadi prodiakon. Ketika ditanya umur, ia menjawab jujur masih 19 tahun. Padahal, saat itu ia baru pindah dari Ambarrukmo ke Maguwo.

“Sebagai warga baru saya bertanya, apakah tidak ada warga yang bersedia, dijawab tidak ada,” ungkap mahasiswa Program Studi Sejarah Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta ini.

Saat Yuda mencermati informasi pendaftaran dari paroki, batas usia bawah adalah 25 tahun. Sebelum dikonfirmasi ke paroki, Yuda menegaskan bersedia jika memang dari lingkungan tidak ada yang mau. “Jadi, saya tidak mengajukan diri, tapi karena situasi di lingkungan memang demikian,” tegas Yuda.

Ia bersedia karena teringat ketika menjadi misdinar di Paroki Kristus Raja Baciro, untuk mencari petugas cadangan untuk Misa besar atau mingguan kadang sulit. Ia yang baru datang ke gereja pun langsung diminta untuk bertugas. “Pengalaman itu mengingatkan saya, mencari orang itu tidak mudah, apalagi orang yang mau tiba-tiba disuruh seperti itu,” aku Yuda.

Baginya, menjadi prodiakon itu sama seperti misdinar yang wira-wiri di altar, ditambah tugas membagi komuni dan memimpin ibadat.

Rm. Agustinus Setyodarmono, SJ. Prodiakon itu seperti murid, banyak salah.

Pada sesi kedua, Rm. Agustinus Setyodarmono, SJ yang akrab disapa Rm. Nano mengagumi para peserta yang mau menjadi prodiakon meski tidak dibayar. Maka, ia memberi hormat yang amat tinggi kepada mereka. “Ketika saya di Belanda dan Australia, saya tidak melihat kemewahan seperti ini. Orang Katolik (di sana) masih ada, tapi yang ke gereja tidak ada lagi. Di sini terus membangun atau memperbesar gereja dan susah mencari prodiakon yang langsing,” katanya sembari bercanda.

Rm. Nano lantas mengajak peserta untuk menyadari, mungkin ada yang merasa tidak layak menjadi prodiakon. Ini merupakan kerendahan hati yang tidak diinginkan Tuhan Yesus. “Yesus tahu bahwa yang dipilih-Nya tidak layak atau masuk standar. Yesus tahu Simon Petrus berkhianat, tapi Tuhan Yesus tetap memilih Simon Petrus,” paparnya.

Kisah dalam Injil berhenti di situ, maka Rm. Nano menyarankan peserta untuk membaca 10 bab pertama Kisah Para Rasul. Dengan membaca kisah Simon Petrus, akan terlihat perubahan dari nelayan, menjadi murid, lalu menjadi rasul. Injil hanya bercerita dua hal yang pertama.

“Kalau menggunakan tiga tahap ini, kita kemungkinan masih di tahap murid,” sebut Rm. Nano. “Sebagai nelayan, berelasi dengan tuhan belum menjadi prioritas. Murid itu mulai berelasi personal dengan Tuhan. Seperti inilah prodiakon, seperti murid, banyak salah. Maka, keliru bila pastor paroki menuntut prodiakonnya sempurna.”

Rm. Nano menutup sesinya dengan lima simpul penting. Pertama, membaca Injil hingga kagum kepada Yesus. Kedua, merasa diri tidak berdaya tetapi dikuatkan oleh Tuhan Yesus. Ketiga, mengaku dosa dan diampuni oleh Yesus. Keempat, memohon supaya dicurahi dan dijiwai Roh Kudus ketika membagikan komuni dan memimpin ibadat. Kelima, hanya orang yang mengenal, dicintai, dan dekat dengan Tuhan Yesus yang akan mewartakan-Nya.

Pertemuan ini ditutup dengan berkat pengutusan dari Rm. Wondo selaku Vikep KYB agar para prodiakon dengan semangat baru melanjutkan pelayanan di tengah masyarakat, memberi kesaksian hidup yang baik dengan membangun peradaban, menaburkan kasih, berbela rasa, mensyukuri anugerah keragaman Indonesia, mencintai alam ciptaan, dan membangun persaudaraan sejati bersama masyarakat setempat.

Rm. Antonius Hendri Atmoko, Pr. Romo dan kaum awam bekerja sama untuk melayani Tuhan.

Rm. Hendri selaku Ketua Komisi Liturgi Kevikepan Yogyakarta Barat mendahului dengan mengatakan para prodiakon berkumpul dalam TRP 2024 ini untuk menimba ilmu atau me-recharge energi untuk melayani serta pengalaman imannya.

“Mari kita saling bekerja sama dalam karya pelayanan. Romo dan kaum awam bekerja sama untuk melayani Tuhan. Semoga yang merasa ketiban sampur (ditunjuk—untuk menjadi prodiakon-Red.) punya semangat lagi. Kita memang tidak pantas, tetapi Tuhan yang menyempurnakan karya pelayanan kita,” ujar Rm. Hendri. Setelah pertemuan ini, sambungnya, para peserta digerakkan untuk diutus melayani Tuhan dengan gembira.

Selanjutnya, Rm. Wondo menutup dengan mengutip ajakan Paus Fransiskus untuk membuat kehebohan. “Heboh sebagai pelayan-pelayan Tuhan bukan untuk difoto, pamer diri, tetapi heboh karena gerakan-gerakan kecil ini akan membuat umat merasa beruntung menjadi umat Katolik karena pelayanan Anda semua,” jelasnya.  

Rm. A.R. Yudono Suwondo, Pr mengutip ajakan Paus Fransiskus untuk membuat kehebohan.

Temu raya seperti ini, sebut Rm. Wondo, akan diteruskan di masa-masa mendatang karena akan saling menularkan energi positif yang membuat kehebohan positif juga dalam Gereja. “Mari kita wujudkan Gereja yang bahagia, yang sanggup menerima dan menghapus luka-luka masa lalu, nostalgia-nostalgia kepahitan, tapi Gereja yang bahagia karena Allah yang mencurahkan rahmat. Anda semua yang membagikan rahmat itu kepada umat beriman yang Anda layani,” tuturnya.   

Sebagian para prodiakon di DIY telah mengumpulkan tulisan berisi refleksi pelayanan mereka yang sungguh mengubah hidup pribadi dan komitmen yang dibangun. Tulisan itu dibukukan sebagai antologi dengan judul Venio Servire – Aku Datang untuk Melayani, berisi 86 tulisan dan sebagian menjadi bahan yang dikupas dalam pertemuan ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *