Sukacita, Bagian dari Proses Penyembuhan

News1950 Views

Bantul. Badan Pelayanan Pembaharuan Karismatik Katolik (BPPKK) Kevikepan DIY Barat mempersembahkan Misa Adorasi dengan ujud kesembuhan bersama Rm. Yohanes Lulus Widodo, Pr dan Rm. Laurentius Dwi Agus Merdi Nugroho, Pr¾Pastor Paroki St. Yakobus Bantul¾pada Minggu, 30 Juni 2024 di Gereja St Yakobus Klodran Bantul.

“Apakah kita sungguh percaya akan terjadi penyembuhan? Pertanyaan ini penting, karena kalau kita sehat, sakit itu nggak dipikirkan,” tutur Rm. Lulus.

 Ia lantas men-sharing-kan pengalaman sakitnya, yakni kelumpuhan hingga empat bulan di atas kursi roda, di Keuskupan Agats Papua terkena malaria dan tetanus, setelah diobadi dan periksa laboratorium justru ditemukan adanya kanker usus. Sekarang, imam Praja Keuskupan Palangkaraya ini mengaku sangat sehat. “Kalau push up, saya bisa dua ratus kali,” akunya.

Demi memiliki kesehatan yang luar biasa, disposisi batin dan iman juga harus bekerja sama dengan rahmat Tuhan.

Demi penyembuhan, Bapa Uskup membebastugaskan Rm. Lulus, tetapi ia menolak dan ingin tetap bekerja. Baginya, sakit itu hanya di pikiran. “Kalau saya bilang sembuh, ya sembuh. Bahagia atau sukacita itu menjadi bagian dari proses penyembuhan,” ungkap imam humoris dan jago sulap ini.

Memadukan pikiran positif dan iman bahwa kesembuhan selalu terjadi sehingga memiliki kesehatan yang luar biasa, selain lewat doa dan Misa dengan ujud kesembuhan, disposisi batin dan iman juga harus bekerja sama dengan rahmat Tuhan.

Sesuai bacaan pertama (Keb. 1:13-15;2:23-24), kalau mengalami sakit penyakit, bukan Tuhan yang mau. Konsep berpikir iman Katolik yakni sakit bukan batu sandungan atau halangan. Namun, sakit yang dialami menjadi bagian diri untuk berani berserah kepada Tuhan. “Sakitku bukan halangan, tapi persembahanku kepada Tuhan,” ujar Rm. Lulus sembari mengajak umat untuk mengucapkannya pula.

“Itu secara spiritual. Secara manusiawi, jangan sampai sakit. Jangan asal makan, merokok, begadang, hidup nggak keruan,” pesan Rm. Lulus mencontohkan dirinya yang staminanya tetap bagus meski umur makin bertambah.

Setahun sejak divonis sakit, imam yang kini berkarya di Keuskupan Agats ini tidak merasakan apa-apa kecuali makin sehat dan bersemangat di dalam pelayanan.

“Mengapa demikian? Pertama, saya percaya kasih Tuhan. Kedua, saya menjaga dan tidak pernah mencobai Tuhan. Pada saat Adorasi nanti, percayalah Tuhan akan menyembuhkan. Tapi sikap batin dan pikiran Anda harus bekerja sama dengan rahmat Tuhan,” ulangnya menegaskan.

Rm. Lulus berkeliling mengangkat monstrans kepada seluruh umat.  

Mencobai Tuhan artinya setelah didoakan dan menerima rahmat kesembuhan, tetapi masih menjalankan pola hidup lama yang tidak sehat. Selain itu, kunci kesembuhan adalah mengampuni yang bersalah. “Apabila kita yang bersalah, kita mohon diampuni. Kesembuhan atau pemulihan itu terjadi saat Anda mengatakan, ‘Tuhan, aku mengampuni saudara-saudaraku yang bersalah kepadaku.’ Mengampuni dan menerima dengan tulus,” wejang Rm. Lulus.

Yesus, ketika menyembuhkan orang sakit selalu ada kata, “Hati-Ku tergerak oleh belas kasih.” Artinya, semua orang harus ikut tergerak oleh hatinya yang penuh cinta, belas kasih, dan selalu berbagi.

Ketika sudah menyembuhkan seseorang, Yesus berkata, “Dosamu sudah diampuni.” Artinya, Yesus menekankan nilai moral dan spiritual, bukan hanya fisik. Oleh karena itu, orang Katolik hendaknya memahami, pertama-tama adalah kesembuhan batin, sedangkan kesembuhan fisik akan menyusul.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *