Dalam pembagian lembar rapor, hal yang dirasakan siswa bisa sangat berbeda. Rapor dengan nilai baik seperti tiket untuk mendapatkan hadiah dan apresiasi dari orang tua. Sebaliknya, rapor dengan nilai merah dapat berarti tidak mendapat apresiasi atau bahkan menerima hukuman.
Namun, pendidikan tidak hanya soal nilai baik atau buruk. Menurut filsuf Driyarkara, pendidikan merupakan usaha untuk memanusiakan manusia. Artinya, pendidikan tidak hanya bertujuan membuat siswa memperoleh nilai tinggi, tetapi juga menjadi pribadi yang lebih luhur, berkembang, dan memiliki kemampuan untuk mewujudkan niat baiknya.
Nilai memang dapat menjadi arahan dan motivasi, tetapi makna pendidikan akan berubah ketika siswa belajar hanya demi nilai.
Orientasi tujuan siswa dalam bersekolah dapat memengaruhi usaha, kemampuan, dan hasil belajarnya. Penelitian Susetyo dan Kumara terhadap 488 siswa kelas XI dari empat SMA di Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menunjukkan adanya perbedaan berdasarkan orientasi tujuan belajar.
Siswa yang berorientasi pada penguasaan memiliki rata-rata lebih tinggi dalam kemampuan, usaha belajar, dan hasil belajar dibandingkan siswa yang lebih berorientasi pada performa atau pencapaian hasil.
Temuan tersebut menunjukkan tujuan yang dimiliki siswa tidak hanya menentukan hasil yang ingin dicapai, tetapi juga memengaruhi bagaimana mereka menjalani proses pembelajaran. Siswa yang bertujuan mengembangkan diri memiliki alasan untuk terus belajar ketika menghadapi kesulitan atau hasil yang tidak memuaskan.
Sebaliknya, siswa yang terlalu menjadikan nilai sebagai tujuan dapat lebih terdorong belajar ketika tugas atau ulangan semakin dekat. Menurut saya, di sinilah perbedaan antara belajar untuk berkembang dan belajar untuk terlihat berhasil. Semangat belajar tidak seharusnya hanya muncul ketika ada sesuatu yang harus dinilai.
Penelitian Widyaningsih dan Tri Esti Budiningsih juga menunjukkan siswa dengan orientasi tujuan penguasaan memiliki self-efficacy yang lebih tinggi dibandingkan siswa dengan orientasi performa. Siswa dengan mastery goal lebih menekankan pemahaman materi dan perkembangan kemampuan serta cenderung aktif dalam kegiatan yang membantu proses belajar.
Sebaliknya, siswa yang lebih berorientasi pada performa cenderung menggunakan cara belajar seperti hafalan dan system drilling. Temuan ini menunjukkan orientasi tujuan tidak hanya menentukan apa yang ingin dicapai siswa, tetapi juga bagaimana mereka mengatur dan menjalani proses belajarnya.
Namun, bukan berarti keinginan memperoleh nilai yang baik merupakan sesuatu yang buruk. Nilai tetap penting karena dapat membantu siswa menentukan target dan mengetahui sejauh mana hasil belajarnya. Target yang konkret juga dapat membantu siswa memenuhi tuntutan pendidikan formal untuk melanjutkan ke tahap berikutnya.
Penelitian Sugiyanto terhadap 197 siswa kelas XI SMA Negeri 10 Semarang menunjukkan adanya kontribusi positif motivasi berprestasi terhadap prestasi akademik pada ranah kognitif, afektif, dan psikomotor. Artinya, dorongan untuk mencapai hasil yang baik dapat menjadi sesuatu yang positif bagi siswa.
Karena itu, menurut saya, persoalan pendidikan bukan terletak pada keberadaan target, nilai, atau prestasi, tetapi ketika hasil menjadi tujuan utama dan satu-satunya ukuran keberhasilan. Target dapat memberikan arah, sedangkan nilai dapat menjadi salah satu indikator pencapaian.
Namun, siswa tetap perlu memahami mengapa mereka harus mencapai sesuatu dan kemampuan apa yang berkembang melalui proses tersebut. Nilai seharusnya menjadi cermin perkembangan, bukan alasan utama mengapa seseorang belajar.
Persoalan juga dapat muncul ketika orientasi terhadap performa menjadi terlalu kuat. Penelitian Variansyah dan Listiara terhadap 210 siswa kelas X di salah satu SMA negeri di Semarang menemukan hubungan positif antara orientasi tujuan performa dan kecemasan akademik. Penelitian tersebut memperoleh koefisien korelasi sebesar 0,588 dan menemukan orientasi tujuan performa memberikan sumbangan efektif sebesar 35% terhadap kecemasan akademik.
Temuan ini tidak berarti mengejar nilai pasti menyebabkan kecemasan pada semua siswa. Penelitian ini menunjukkan hubungan, bukan hubungan sebab-akibat secara mutlak. Namun, hasilnya tetap dapat menjadi peringatan.
Ketika siswa terlalu berfokus pada bagaimana dirinya dinilai atau dibandingkan, proses belajar dapat berubah menjadi tekanan untuk selalu terlihat pintar dan berhasil. Dalam kondisi seperti ini, kegagalan tidak lagi dipandang sebagai bagian dari proses belajar, melainkan sebagai sesuatu yang harus dihindari.
Padahal, kemampuan menghadapi kegagalan merupakan bagian penting dari perkembangan diri. Siswa tidak mungkin selalu memperoleh hasil terbaik. Akan ada saat ketika mereka salah, tidak memahami materi, atau mendapatkan nilai yang tidak sesuai harapan.
Pendidikan seharusnya membantu siswa melihat kesalahan sebagai kesempatan untuk memperbaiki diri. Siswa yang mendapat nilai rendah tetapi mau memahami kesalahannya dan mencoba lagi tidak dapat langsung disebut tidak memiliki semangat belajar. Justru kemauan untuk berkembang setelah gagal merupakan salah satu bentuk semangat belajar.
Hubungan antara perkembangan diri dan masa depan siswa juga menarik untuk diperhatikan. Penelitian mengenai orientasi tujuan mastery pada siswa SMA Negeri 1 Tahunan Jepara menemukan hubungan positif antara orientasi tujuan mastery dan kematangan karier siswa. Artinya, semakin tinggi orientasi mastery, semakin tinggi pula kematangan karier yang ditemukan pada siswa dalam penelitian tersebut.
Temuan ini memperluas makna pendidikan. Sekolah tidak hanya mempersiapkan siswa untuk menghadapi ujian, tetapi juga kehidupan setelah sekolah. Pengetahuan dan kemampuan yang diperoleh seharusnya menjadi bekal untuk bekerja, hidup mandiri, menghadapi persoalan, dan mencapai kesejahteraan.
Pendidikan, karena itu, tidak seharusnya menjadi rangkaian kegiatan untuk memperoleh hasil semata, tetapi proses untuk membentuk manusia yang mampu menggunakan apa yang dipelajarinya dalam kehidupan.
Saya tidak melihat orientasi hasil sebagai sesuatu yang harus dihapuskan, maupun orientasi perkembangan diri sebagai sesuatu yang harus menghilangkan prestasi. Keduanya dapat berjalan bersama. Perbedaannya terletak pada posisi masing-masing. Hasil seharusnya menjadi salah satu buah dari perkembangan diri, bukan menggantikan perkembangan diri sebagai tujuan pendidikan.
Siswa boleh mengejar nilai tinggi, tetapi tidak seharusnya melupakan pemahaman yang membuat nilai itu bermakna. Siswa boleh mengejar prestasi, tetapi prestasi itu seharusnya menjadi bekal untuk menghadapi kehidupan dan memberikan manfaat bagi orang lain.
Akhirnya, mungkin pertanyaan yang lebih penting daripada “berapa nilai yang kamu dapat?” adalah “apa yang sekarang mampu kamu lakukan yang sebelumnya belum mampu kamu lakukan?”
Jika setelah bertahun-tahun belajar seorang siswa menjadi lebih mampu berpikir, lebih mandiri, lebih matang menghadapi kegagalan, dan mampu menggunakan pengetahuannya dalam kehidupan, maka pendidikan telah mencapai sesuatu yang lebih besar daripada sekadar angka di rapor.
Pius Fredericus Rekyan Wijaya Siswa SMA Seminari Mertoyudan












