Sering kali kita mendengar kata hikmat dalam kehidupan kita sehari-hari. Baik saat kita mendengarkan khotbah, membaca puisi, bahkan dalam pendidikan, kita sering kali mendengar kata hikmat. Namun, apakah kita benar-benar mengetahui apa itu hikmat dan bagaimana cara mendapatkannya?
Hikmat adalah kebijaksanaan yang melibatkan pemahaman dan penerapan dalam kehidupan sehari-hari. Namun, bagaimana cara kita memperoleh hikmat dan menerapkannya dalam hidup?
Sebagai mahasiswa teologi, kami mendapat mata kuliah tentang Kitab Mazmur dan Kebijaksanaan, yang mencakup materi mengenai Kitab Amsal. Salah satu materi yang menarik perhatian saya adalah tujuan dari Amsal, yaitu memberi hikmat dan pengertian mengenai perilaku yang bijak, kebenaran, keadilan, dan kejujuran (Amsal 1:2-3) sehingga orang yang tidak berpengalaman dapat menjadi orang bijak (Amsal 1:4) (Dewantara, 2008, hlm. 76).
Dalam Kitab Amsal terdapat banyak nasihat yang dapat membantu kita dalam kehidupan sehari-hari. Kitab ini memberikan pedoman hikmat untuk hidup benar dan bijaksana. Takut akan Tuhan adalah awal hikmat itu dimulai.
Dengan takut akan Tuhan, maka kita akan senantiasa menaati larangan-Nya. Larangan yang diberikan bukan semata-mata tanpa alasan, tetapi kembali menuntun kita agar senantiasa menuju jalan yang benar.
Di tengah zaman sekarang, khususnya bagi generasi muda, banyak yang terjebak dalam pergaulan yang negatif sehingga mereka kehilangan arah hidup dan menjauh dari ajaran agama. Hal ini merupakan keprihatinan saat ini.
Dalam Amsal, semuanya dijelaskan dengan jelas, seperti 13 ajaran yang diberikan kepada putranya bila memasuki usia remaja. Jika kita mendalami Kitab Amsal, maka kita tahu banyak nasihat yang berguna bagi kita, petuah yang relevan untuk kehidupan saat ini.
Dalam Amsal 1:10 tertulis: “Hai anakku, jika orang berdosa hendak membujuk engkau, janganlah engkau menurut.” Kutipan tersebut mengajarkan kita untuk belajar menolak pengaruh jahat yang dapat menyesatkan kita.
Semakin kita mendalami firman Tuhan, semakin bijaksana kita dalam menjalani hidup. Walaupun kerap kali kita dipandang berbeda oleh orang lain, tetapi jika kita mampu menaati nasihat yang diberikan dan menolak hal-hal yang jahat, kita mampu menjadi pribadi yang lebih baik, meskipun kita dipandang sebagai orang yang tidak berpengalaman.
Namun, dengan mempertimbangkan baik buruknya dampak yang akan kita terima, kita akan menjadi bijaksana. Takut akan Tuhan mendorong kita untuk menjauhi hal yang jahat dan membawa kebijaksanaan dalam kehidupan.
Hikmat Tuhan, yang diperoleh melalui hubungan yang benar dengan-Nya, akhirnya membimbing kita untuk menjalani hidup yang benar. Hikmat Tuhan akhirnya membimbing kita untuk menjalani hidup yang benar, karena hikmat tersebut mengarahkan kita untuk selalu memilih jalan yang sesuai dengan kehendak-Nya.
Hikmat Tuhan bukan hanya sekadar pengetahuan, tetapi sebuah jalan yang menuntun kita menuju kehidupan yang benar dan bijaksana. Dalam dunia yang penuh dengan godaan dan pilihan yang membingungkan, ajaran dalam Amsal mengingatkan kita untuk selalu takut akan Tuhan, menolak jalan kejahatan, dan memilih hidup yang adil, benar, serta penuh kebijaksanaan.
Dengan demikian, takut akan Tuhan adalah kunci untuk mencapai hikmat kehidupan yang membawa kebijaksanaan. Semoga penjelasan mengenai Kitab Amsal ini membawa kita kepada hikmat kehidupan yang bijaksana.




