Bantul-Gempa besar melanda selatan Yogyakarta, Sabtu, 17 Mei 2025 sekira pukul 14.05 WIB. Gempa bermanitudo 7,5 itu mengguncang dan mengakibatan ratusan korban berjatuhan. Korban luka-luka berat maupun ringan dibawa ambulans menuju RS Santa Elisabeth, Ganjuran, Bantul, DIY. Dokter dan tenaga medis pun segera bertindak untuk memberikan pertolongan bagi korban yang selamat.
Itutlah kegiatan simulasi simulasi gladi lapangan menghadapi potensi gempa bumi megathrust dan risiko yang dapat berdampak besar di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta dan sekitarnya yang dilakukan oleh rumah sakit dibawah Yayasan Panti Rapih ini. Kegiatan ini dilakukab untuk mengantisipasi daerah pesisir pantai selatan jika terjadi gempa besar dan akan diikuti gelombang tsunami.
Direktur RS Elisabeth, dokter Tandean Arif Wibowo, M.P.H, mengatakan, bila ini terjadi maka potensi bencana ini dapat menimbulkan dampak korban jiwa dalam jumlah besar dan kondisi yang parah. Maka untuk mengantisipasinya dilakukan simulasi ini untuk kesiapan bila benar terjadi dan mengantisipasi termasuk meningkatnya angka kesakitan, kecacatan dan kematian, di samping kerusakan bangunan serta lingkungan sekitar.

“Kenangan pilu gempa Bantul 2006 dan bencana gempa bumi di Myanmar, Maret 2025 dengan magnitudo 7,7 SR, mengingatkan kita, bahwa masih ada waktu untuk mempersiapkan diri dan bersiap siaga. Sehingga sekiranya rumah sakit ambil bagian dalam pelathan ini bisa mengurangi chaos dan memperpendek delay waktu penanganan korban bencana,” kata dokter Tandean yang juga termasuk tim mitigasi bencana di DIY ini.
Simulasi di rumah sakit ini menurut dokter Tandean merupakan bagian dari pelatihan terpadu bersama Tim AGD 118 DIY dan berbagai elemen kesehatan di DIY. Tim ini meliputi Dinas Kesehatan Propinsi, Dinas Kesehatan Kabupaten Bantul, PSC 119, PERSI dan ambulans dari rumah sakit – rumah sakit – se DIY. Simulasi ini berfokus mengetahui kapasitas dan implementasi Hospital Disaster Plan rumah sakit dalam tanggap darurat medis dan sistem manajemen bencana melalui penguatan komunikasi dan koordinasi baik internal maupun eksternal, secara horisontal atau vertikal.
“Kita, tak bisa menunggu bencana datang baru bersiap. Kami percaya bahwa simulasi ini adalah langkah nyata untuk melihat apa saja yang masih harus kami sempurnakan dari rencana penanggulan bencana rumah sakit- Hospital disaster Plan yang telah disusun.” ujar dr Tandean Arif Wibowo, MPH, Direktur RS Santa Elisabeth Ganjuran
Lebih lanjut dokter Tandean menjelaskan, simulasi ini dilakukan dengan pendekatan sekenario lapangan. Pada aspek medical support, dilakukan pengaturan ambulans yang datang bersamaan membawa banyak korban, pengoperasian sistem triase darurat (triage), penempatan dan penatalaksanan korban luka (treatment), komunikasi radio antar unit, serta penerapan alur rujukan cepat antar rumah sakit (transport).

Sementara pada aspek management support dilakukan pengaktivasikan siaga bencana, komunikasi antar instansi seperti PSC 119 dan HEDIY, serta pengelolaan komunikasi antar unit di rumah sakit.
Dalam simulasi dilakukan pengantisipasian surge capacity – penambahan kapasitas yang berlebih, termasuk dalam pengelolaan SDM, sarana prasarana dan juga pelayanan rawat jalan dan inap karena pelayanan reguler tetap harus dijalankan dan diupayakan. Maka dengan skenario bersama dari Pusbankes AGD 118 DIY dan ambulans-ambulans rumah sakit se- DIY diharapkan mampu menciptakan gambaran realistis dari kondisi krisis sebenarnya.
“Dari simulasi ini kami mengharapkan semua staff bisa belajar dan mengambil pengalaman yang berharga. Tiidak hanya secara teori tetapi juga melalui praktik langsung dilapangan. Simulasi ini adalah ruang aman untuk mencoba, mengetahui kekurangan, dan memperbaiki. Karena saat bencana datang, kita sudah harus siap mendekati 100%, seperti apa yang diharapkan,” lanjut dr. Tandean Arif Wibowo, MPH.

Terkait dengan kesiapsiagaan dalam menghadapi berbagai hal terkait dengan dunia kesehatan dokter Tandean menyatakan RS Elisabeth Ganjuran berkomitmen untuk terus melakukan pelatihan berkala dan mengembangkan kapasitas. Pelatihan itu meliputi personel maupun unit rumah sakit.
“Simulasi gempa megathrust ini juga merupakan bagian dari rangkaian kerangka HOPE RS Santa Elisabeth Ganjuran, yaitu menciptakan Hospital preparedness, Operational Readiness, People empowerment and Engagement Emergency and Disaster management.

RS Santa Elisabeth Ganjuran berharap dengan kegiatan ini bisa menjadi langkah nyata dalam membangun sistem kesehatan yang tangguh, tidak hanya bagi rumah sakit, tetapi juga bagi tenaga kesehatan, komunitas dan masyarakat luas.
“Kami berharap hasil evaluasi dari simulasi ini menjadi rekomendasi perbaikan Hospital Disaster Plan RS Santa Elisabeth di masa mendatang agar kami semakin lebih siap menghadapi kegawatdaruratan dan bencana lain, termasuk gempa bumi megathrust. Ini menjadi langkah berkesinambungan dari komitmen RS Santa Elisabeth untuk memberikan keamanan dan keselamatan bagi semua yang datang di rumah sakit ini serta siap memberikan pelayaan yang terbaik, bahkan di saat bencana”, pungkas dr. Tandean.














