Ketika sampai di gereja, saya terkejut melihat banyaknya umat yang mau menerima Sakramen Tobat. Padahal saya sampai di gereja pukul 17.00 dan antrean baru dibuka pukul 16.30.
Saya mendapat nomor antrean 158 oleh panitia. Meskipun panitia mengatakan ada enam romo yang memberikan Sakramen Tobat, tetap saja saya memperkirakan berapa lama saya harus menunggu giliran.
Ada rasa enggan untuk menunggu. Saya tidak tahu apakah orang lain juga memiliki perasaan yang sama atau tidak. Namun, kalau dipikir-pikir, saya rela antre panjang untuk membeli barang yang sedang happening tanpa mengeluh, atau menunggu antrean membayar sesuatu juga dengan rela hati. Sungguh sangat tidak fair.
Masa Prapaskah terkadang merupakan masa ketika kita mendapat “latihan” kesabaran. Ketika giliran deretan bangku saya mestinya maju mendekat ke ruang pengakuan, penerimaan Sakramen Tobat di-break untuk memberi kesempatan para romo makan malam. Itu pun belum selesai. Saya juga mendapat kamar pengakuan yang “lama”. Jadi, masa penantiannya cukup lengkap.
Dalam hati saya bertanya-tanya, kenapa semua umat yang masuk kamar pengakuan tersebut lama semua. Apakah umat yang mengantre bersama saya ini pengakuannya begitu heboh sehingga perlu nasihat yang panjang lebar.
Setelah saya masuk kamar pengakuan, saya baru tahu penyebabnya. Saya juga memerlukan waktu yang cukup lama di kamar pengakuan tersebut.
Namun, pengalaman menerima Sakramen Tobat kali ini bagi saya sungguh memberi pencerahan dibandingkan sebelum-sebelumnya. Keluar dari kamar pengakuan ada kata-kata romo yang masuk dalam pikiran saya dan terus bergema dalam hati.
Kalimat yang pertama, “Terima kasih, Saudara sudah datang.” Sejak saya pertama kali menerima Sakramen Tobat, belum pernah saya mendapat ucapan terima kasih dari romo pengakuan. Padahal, saya yang membutuhkan beliau sebagai wakil Kristus dan wakil Gereja, bukan romo yang membutuhkan saya.
Kalimat yang kedua yang bergema terus adalah: “Terima kasih, Saudara sudah mengaku dosa dengan jujur.” Dalam hati saya bertanya-tanya dari mana romo tersebut tahu saya mengaku dosa dengan jujur? Apakah hanya sekadar basa-basi supaya saya merasa senang dan mau datang kembali pada kesempatan lain?
Romo pun masih memberikan berbagai petuah yang sungguh berarti bagi saya. Beliau mengatakan, “Hal-hal yang negatif bisa bertumbuh dalam kondisi apa pun, tetapi hal-hal yang positif hanya bisa bertumbuh pada tanah yang subur. Jangan biarkan Saudara distempel negatif karena membiarkan hal-hal negatif bertumbuh.”
Rupanya kalimat dan pesan romo tersebut membuat saya berefleksi lebih lanjut. Dalam banyak kesempatan, ketika karyawan datang ke ruangan saya, baik untuk sekadar menyambangi atau untuk ngobrol, saya tidak pernah mengucapkan terima kasih kepada mereka yang telah datang. Itu nyaris terjadi selama saya bekerja. Seolah-olah kedatangan para karyawan itu adalah hal biasa, yang rutin dan tidak terlalu berarti.
Tidak pernah ada sentuhan saya untuk mengucapkan terima kasih karena sudah datang. Apalagi jika ada karyawan yang datang untuk curhat atau bahkan menceritakan kasus tertentu, seharusnya saya mengucapkan terima kasih karena mereka percaya kepada saya, memercayakan kegalauannya atau melaporkannya kepada saya.
Biasanya mereka yang berterima kasih kepada saya karena sudah menyediakan waktu untuk mendengarkan mereka. Saya telah terjebak rutinitas. Romo pengakuan yang tidak saya kenal¾karena bukan romo dari paroki¾telah mengingatkan saya dengan caranya sendiri.
Setelah Paskah, hubungan kerja saya dengan perusahaan berakhir karena purnakarya. Dari sekian lama mempersiapkan diri dengan berakhirnya hubungan kerja ini, saya sungguh melupakan satu hal. Orang tidak bisa pergi begitu saja setelah hampir 30 tahun bersama-sama dengan perusahaan. Meskipun secara logika semuanya sudah dipersiapkan, tetapi senantiasa ada hati yang tertinggal.
Saya memang sudah membereskan berbagai dokumen dengan menyerahkan kepada orang-orang yang menggantikan saya atau yang berkepentingan. Namun, ada catatan-catatan saya, yang saya masih belum rela untuk dihancurkan. Beberapa kali saya baca dan bahkan saya membuat catatan khusus, padahal itu tidak memiliki arti apa pun untuk saya dan tidak akan saya berikan kepada orang lain.
Rekonsiliasi ini rupanya membawa perubahan. Minggu pertama Paskah menjelang Minggu Kerahiman Ilahi, tiba-tiba secara spontan saya ingin membereskan semua dokumen saya. Tanpa beban dan tanpa pikir panjang, saya memusnahkan dokumen yang selama ini saya pertahankan.
Pada momen itulah saya sadar, rupanya rekonsialisi telah membuat saya berdamai dengan diri sendiri. Berdamai dengan diri sendiri telah menolong saya untuk melepas diri dari berbagai keterikatan dengan masa lalu.
Delapan tahun yang lalu, ketika ada indikasi saya sakit kanker paru-paru, saya menerimanya dengan tulus. Setelah selama satu tahun saya diterapi sebagai penderita TBC, dari hasil CT Scan terakhir ternyata tuberculoma saya membesar.
Moment of truth tersebut terjadi pada saat Paus Fransiskus menetapkan acara khusus yang diberi nama “24 jam bagi Tuhan” pada 4-5 Maret 2016. Cover salah satu majalah Katolik pada minggu itu adalah Paus Fransiskus sedang memberikan pengakuan dosa dengan tulisan dibawahnya: “Dunia sedang mengaku dosa.”
Penerimaan saya rupanya telah meletakkan sakit saya dalam kepercayaan penuh kepada Tuhan. Santa Faustina menulis: “Rahmat-rahmat belas kasih-Ku diperoleh dengan sarana satu timba saja, yaitu kepercayaan. Semakin suatu jiwa percaya, semakin banyak ia menerima” (BHSF 1578).
Rupanya, penerimaan saya yang tulus tersebut, dan karena saya menerima Sakramen Tobat pada masa Prapaskah itu, telah memudahkan semua proses pengobatan. Semua proses pengobatan terjadi dalam penyelenggaraan Ilahi. Mulai dari mencari dokter, menjalani operasi pada hari yang istimewa¾Sabtu sebelum Hari Minggu Kerahiman Ilahi, menjalani kemoterapi setelah operasi, semua berjalan dengan baik dan lancar.
Sakramen Tobat telah membuat saya terbuka pada hal-hal yang tidak pernah saya sadari. Saya mensyukuri dipertemukan dengan Romo yang satu ini, Tuhan telah mempertemukan pada saat yang tepat dan sesuai dengan apa yang saya butuhkan.
Pengalaman Paskah 2016 dan Paskah 2024 menyadarkan saya bahwa berdamai dengan diri sendiri adalah sarana yang paling baik untuk melepaskan berbagai beban dan menyembuhkan berbagai penyakit. Dan, itu hanya bisa terjadi karena Kerahiman Ilahi.
“Pesta Kerahiman berasal dari kedalaman kemesraan-Ku sendiri. Aku ingin supaya pesta itu dirayakan secara meriah pada hari Minggu pertama sesudah Paskah. Umat manusia tak mungkin berpaling dari sumber Kerahiman-Ku” (BHSF 699).




