Yogyakarta. Ratusan orang hadir di Kolese Santo Ignatius (Kolsani), Yogyakarta pada Minggu, 7 Juni 2026, pukul 17.00, untuk mengikuti Misa Requiem bagi Rm. Bernhard Kieser, SJ yang wafat pada Sabtu, 6 Juni 2026, pukul 12.09, di Rumah Sakit Panti Rapih, Yogyakarta.
Bertindak sebagai selebran utama Rm. Benedictus Hari Juliawan, SJ (Provinsial Serikat Jesus Provinsi Indonesia) didampingi Rm. Cyprianus Kuntoro Adi, SJ, Rm. Jakobus Aditya Christie Manggala, SJ, dan Rm. Carolus Borromeus Mulyatno, Pr (Dekan Fakultas Teologi Universitas Sanata Dharma/USD).
Pada kesempatan homili, Rm. Adit men-sharing-kan pengalamannya bersama Rm. Kieser. Ketika masih frater, Rm. Adit diminta untuk menjadi sopir sekaligus asisten bagi Rm. Kieser.
“Pengalaman pertama yang menarik dan menyentuh hati saya tentu pengalaman berkunjung ke Lapas Wonosari. Saking cintanya kepada teman-teman di Lapas, setiap hari Jumat beliau harus hadir di sana,” ungkap Rm. Adit.
Namun, karena masih ada kuliah, Rm. Adit yang bisa menemani sebulan sekali.
Setiap kali ke Lapas Wonosari, Rm. Kieser selalu datang dengan wajah berbinar-binar. “Jumat adalah hari yang sakral bagi Rm. Kieser. Beliau menyiapkan sendiri peralatan Misanya dan beliau setia konsisten di sana, yang tentu ada satu narapidana, Mary Jane Veloso, yang sudah sejak lama beliau temani.”
Bagi Rm. Kieser, Misa saja tidak cukup, harus ada hal-hal lain yang harus diberikan kepada orang-orang di sana. “Rm. Kieser selalu memberikan yang terbaik untuk mereka, setia kepada mereka, dan tentunya tanpa meminta balasan apa pun. Hanya memberi, tak harap kembali,” tegas Rm. Adit.

Inspirasi Rm. Kieser ini mengantar Rm. Adit untuk senantiasa menyempatkan diri melayani Perayaan Ekaristi di Lapas Wonosari. “Saya tergerak oleh spirit beliau, supaya spirit beliau itu tetap ada,” ucap Rm. Adit.
Pengalaman kedua ketika Perkampungan Sosial Pingit (PSP) Yogyakarta yang didirikan Rm. Kieser pada tahun 1966 tengah merayakan hari jadi ke-58. Saat itu, Rm. Adit berjumpa seorang ibu yang mengaku telah dibantu oleh Rm. Kieser sampai punya rumah.
“Rm. Kieser memiliki hati yang luar biasa untuk orang-orang kecil dan tersingkir. Saat jam siesta (tidur siang), seorang bapak datang ke Kolsani dengan membawa KTP. Ternyata, KTP itu adalah tiket mendapatkan baju batik dan uang saku dari Rm. Kieser,” cerita Rm. Adit.
Bapak tersebut adalah pedagang Malioboro yang butuh uang. “Jadi sudah menjadi kebiasaan di sini, yang saya ketahui juga dari Rm. Kieser, kalau ada yang menunjukkan KTP, berarti butuh duit dan baju batik. Memang, beliau selalu menyediakan itu,” lanjut Rm. Adit.
Rm. Adit memandang imam asal Jerman yang punya panggilan kesayangan “Mbah Kieser” ini memiliki cara yang luar biasa dalam memandang dunia. “Beliau melihat dunia, terlebih yang miskin, tersingkir, para tunawisma, penghuni lapas, dengan penuh rasa kagum. Matanya selalu berbinar-binar ketika berjumpa dengan mereka. Karena kekaguman itulah beliau selalu tergerak untuk mengenal lebih dekat dan membantu tanpa pernah mengharapkan imbalan atau balasan,” tandas Rm. Adit.
Selanjutnya, Rm. Benny menanggapi sharing Rm. Adit dengan mengatakan, “Banyak orang mungkin mengira Rm. Kieser melakukan banyak kegiatan charity, cinta kasih, memberi kepada begitu banyak orang, karena beliau seorang yang murah hati dan penuh kasih. Itu tidak salah.”
Namun, Rm. Benny menduga bukan itu penggerak utamanya, tetapi dorongan untuk melakukan tugas (sense of duty). “Menurut Rm. Kieser dalam pengenalan saya, seluruh persoalan di dunia ini adalah tanggung jawab kita. Kita harus melakukan sesuatu,” tutur Rm. Benny.

Hal ini tampak dalam teologi proyek atau teologi kontekstual yang Rm. Kieser rintis di Fakultas Teologi, Kendungan. Teologi harus merespons situasi yang konkret, bukan hanya perkara menafsirkan dokumen-dokumen gerejawi atau memahami wahyu Allah.
“Beliau selalu mengatakan, ‘Kamu harus angkat pantat.’ Maka, kami sebut teologi Rm. Kieser itu ‘Teologi Angkat Pantat’. Karena berteologi berarti mengangkat pantat. Kita bergerak untuk merespons situasi,” jelas Rm. Benny.
Usai Misa Requiem, Rm. Mulyatno menyampaikan kesan-kesan tentang Rm. Kieser yang berkarya selama 53 tahun di Fakultas Teologi. Meski secara kelembagaan Rm. Kieser telah pensiun sejak tahun 2003, tetapi ia tetap menghayati kehadiran di Fakultas Teologi sampai menjelang akhir hayat.
“Seluruh peristiwa penting di Fakultas Teologi selalu dihadiri oleh Rm. Kieser. Entah diundang atau kami lupa mengundang, Rm. Kieser datang karena merasa bahwa ini (Fakultas Teologi-Red.) adalah rumah, bukan sekadar tempat bekerja. Kami mengalami kehadiran Rm. Kieser yang luar biasa menghayati dua hal penting, yaitu komitmen dan kesetiaan misioner di mana pun Rm. Kieser berada,” kisah Rm. Mulyatno.

Terakhir, Rm. Gabriel Possenti Sindhunata, SJ yang selama sekitar 30 tahun tinggal bersama Rm. Kieser di Kolsani, mengenang Rm. Kieser sebagai sosok yang kemauannya keras atau kurang sabaran.
“Ia sering mengetuk kamar saya untuk minta pertimbangan. Kadang-kadang saat saya sedang konsentrasi memikirkan tulisan, saya harus melayani dia yang meminta pertimbangan kalau mau memberikan sesuatu kepada orang lain tetapi ragu. Kadang-kadang saya tidak tahu bagaimana harus menjawabnya, karena begitu mendadak,” cerita Rm. Sindhu.
Kenangan lain adalah ketika bersepeda ke Sendangsono setelah jam kerja. Dalam perjalanan pulang, mereka mampir di Godean untuk makan burjo (bubur kacang hijau) dan roti manis.
Menurut Rm. Sindhu, Rm. Kieser adalah seorang Jesuit garis keras dalam hal kerja. Bekerja tanpa ampun. “Dalam hal tertentu, ia menafsirkan Latihan Rohani nomor 93 dan 96 dengan sepenuh hatinya. ‘Siapa yang ikut bekerja dalam susah payah bersama Aku, akan ikut mulia bersama Aku di surga.’ Itu sungguh-sungguh dianut Rm. Kieser,” ujar Rm. Sindhu.
“Buat dia, teologi itu adalah kerja,” lanjut Rm. Sindhu. “Maka, ada tafsiran yang bagus, yakni bukan studi teologi, tapi to do teologi. Dia mengatakan, kerja teologi adalah kerja pikiran atau kerja rohani.”

Ada kata-kata Rm. Kieser yang diingat Rm. Sindhu, “Tuhan menciptakan saya, tetapi itu tidak berarti bahwa Dia begitu saja akan menjamin hidup saya. Hidup saya akan terjamin dalam partnership dengan Dia. Maksudnya, saya harus bekerja sama dengan Dia untuk menyelenggarakan hidup saya.”
Rm. Sindhu pun menegaskan, bagi Rm. Kieser, berteologi itu bukan untuk menjadi imam. Namun, teologi untuk betul-betul selalu mencari ilmu, mendalami iman di dalam kehidupan sehari-hari.
“Itu yang dia cari,” tunjuk Rm. Sindhu. “Maka, teologi adalah ladang bagi dia. Sebab itu, dia juga menggambarkan dirinya adalah seorang petani teologi. Dia bilang begitu. Lalu kata-kata yang selalu saya kenang, ‘Kita harus mencangkul lebih dalam. Mencangkul kitab suci, mencangkul tradisi, mencangkul dogma, dan mencangkul sejarah Gereja. Itu semua ada di dalam diktatnya.’”
Selanjutnya, umat maupun pelayat yang hadir dipersilakan memberi penghormatan terakhir serta berdoa di dekat jenazah Rm. Kieser.
Pukul 21.00, jenazah Rm. Kieser akan dipindahkan dan disemayamkan di Gereja Paroki Santo Antonius Padua Kotabaru. Umat dipersilakan melaksanakan tuguran dan mendoakan Rm. Kieser hingga esok paginya.
Senin, 8 Juni 2026, pukul 07.00 dilangsungkan Perayaan Ekaristi tutup peti dan pelepasan jenazah di Gereja Paroki Kotabaru. Pukul 08.00, jenazah diberangkatkan menuju tempat peristirahatan terakhir di Girisonta, Ungaran, Jawa Tengah.
Willy Putranta














