Pesta Refleksi Kolektif “Sahabat Mangun”

Puncak Festival Literasi SMPE Mangunan

Papan Tulis534 Views

Hari Selasa yang cerah, 12 Mei 2026, halaman SMP Eksperimental Mangunan (SMPE Mangunan) yang beralamat di Cupuwatu II, Purwomartani, Kec. Kalasan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) bukan sekadar menjadi latar seremonial belaka. Lebih dari itu, tempat ini menjadi ruang hidup letak proses—bukan sekadar hasil—dirayakan dengan sukacita.

Ya, saat itu Puncak Festival Literasi (PFL) 2026 digelar. Bukan sebagai ajang perlombaan, melainkan sebagai pesta refleksi kolektif dari perjalanan panjang para “Sahabat Mangun”, panggilan penuh kasih untuk seluruh murid kami.

Tahun ini, tema yang diusung adalah “Move Together, Grow Together”. Ini bukanlah sekadar rangkaian kata motivasi. Tema ini lahir dari kesadaran bahwa belajar sejati tak pernah terjadi dalam kesunyian atau persaingan semu di kelas. Belajar terjadi dalam gerak kolaboratif, dalam keberanian saling menginspirasi dan dalam kerendahan hati untuk mengapresiasi proses diri sendiri maupun orang lain.

Belajar sejati tak pernah terjadi dalam kesunyian atau persaingan semu di kelas.

Sahabat Mangun tidak serta-merta disodorkan pada target nilai. Sebaliknya, mereka diajak menyelami tiga sumber literasi, yakni literasi pustaka (belajar dari teks), literasi sosial (belajar dari interaksi), dan literasi ekologis (belajar dari alam). Dari eksplorasi itulah mereka belajar “menangkap kegelisahan”.

Mereka diajak peka terhadap empat isu zaman yang kontekstual dan dekat, yakni 1) literasi digital (bukan hanya cakap teknologi, tetapi bijak berjejaring); 2) antiperundungan (menumbuhkan empati di atas superioritas semu); 3) pendidikan seksualitas (memahami batas tubuh dan relasi sehat); serta 4) kesadaran ekologis (hidup sebagai bagian dari alam, bukan penakluknya).

Kegelisahan itu tidak dibiarkan menggantung. Ia diolah menjadi tawaran solusi, diuji dalam aksi sosial nyata, dan akhirnya dipertanggungjawabkan dalam sidang retorika—sebuah forum keberanian publik ketika gagasan dipertahankan dengan data, empati, dan logika. Inilah inti dari pendidikan yang membebaskan: dari kesadaran, menuju tindakan, lalu refleksi.

Setiap karya dipajang dengan hormat, termasuk di ruang audiovisual.

Rangkaian PFL 2026 pun dirancang sebagai sebuah ritual bermakna.

Parade keliling Kampung Cupuwatu bukan sekadar arak-arakan. Membagikan hasil bumi dan karya siswa adalah simbol bahwa pengetahuan itu harus kembali ke masyarakat, mengalir, memberi manfaat. Sayuran dari kebun sekolah adalah “literasi yang bisa dimakan”; karya adalah “pemikiran yang bisa dinikmati”.

Pameran dan pertunjukan di panggung amfiteater menjadi ruang apresiasi terbuka. Setiap karya dipajang dengan hormat, termasuk di ruang audiovisual, menandakan bahwa setiap medium ekspresi adalah sah dan berharga.

Sayuran dari kebun sekolah adalah “literasi yang bisa dimakan”.

Workshop kecil-kecilan adalah bentuk kepemimpinan berbagi. Mereka yang sudah menemukan terobosan solusi, mengajak yang lain belajar. Bukan pamer kuasa, melainkan perluasan kebaikan.

Laurenzia Sita Audina Prayitno, ketua panitia yang berdiri di antara teman-temannya, dengan lantang menegaskan bahwa “Move Together, Grow Together” adalah komitmen kolaboratif, bukan sekadar ornamen, dan komitmen itu berjalin erat dengan filosofi dasar sekolah kita: “Respek pada Diri, Kasih pada Sesama, Lestari untuk Semesta”. Ini tiga napas yang ditanamkan: menghargai diri sendiri sebagai subjek belajar, mencintai orang lain sebagai mitra bertumbuh, dan menjaga alam sebagai rumah bersama.

PFL 2026 tidak usai dalam sehari. Masih ada rangkaian lanjutan pada Rabu, 13 Mei, dan Jumat, 15 Mei 2026. Harapannya sederhana tetapi dalam: semoga festival ini sungguh menjadi ruang mengapresiasi tanpa iri dan menginspirasi tanpa paksaan. Sebab, pada akhirnya, pendidikan adalah proses menemukan cahaya dalam diri, lalu berani menyalakannya untuk orang lain.

Sanicha

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *