Pembangunan sebuah bangsa sering disalahartikan sebagai proyek fisik semata, diukur dari tingginya gedung atau panjangnya jalan. Namun, sebagai warga negara Indonesia tentunya harus memahami hakikat negara itu sendiri tidak bisa dipisahkan dari hakikat manusia yang membentuknya.
Menurut Agustinus (2018:3), yang ditulisnya dalam buku Pendidikan Kewarganegaraan, menjelaskan, negara adalah entitas abstrak, dengan unsur-unsurnya yang nyata adalah rakyat, wilayah, dan pemerintah, semua berakar pada individu.
Gagasan ini diperkuat oleh As Hikam (dalam Ghazalli, 2004), yang mengatakan bahwa warga negara merupakan anggota dari suatu komunitas yang membentuk negara itu sendiri. Dengan demikian, inti dari pendidikan kewarganegaraan bukan hanya mengajarkan struktur negara, melainkan membangun fondasi paling mendasar, yaitu hati manusia itu sendiri.
Mengkaji lebih dalam pandangan di atas memberikan relevansi kuat dengan gagasan para pendiri bangsa. Menurut Agustinus (2018:30), natural negara Indonesia harus mencerminkan karakter manusia Indonesia yang gotong royong, kekeluargaan, kekerabatan, dan religius. Ini sejalan dengan pandangan Soekarno dan Soepomo.
Gotong royong, sebagai inti dari karakter ini, bukanlah sekadar kerja bakti, melainkan sebuah filosofi hidup yang mengedepankan kerja sama dan kebersamaan untuk mencapai tujuan bersama. Inilah jiwa yang seharusnya menjadi fondasi setiap sendi kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia.
Sebagai mahasiswa Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Widya Yuwana Madiun, tentunya juga menerapkan rasa memiliki tanggung jawab unik dan mulia dalam proses pembangunan bangsa ini.
Di luar peran sebagai akademisi, juga dipersiapkan menjadi seorang katekis, yaitu pewarta Kabar Gembira yang mengajarkan dan menumbuhkan iman. Peran ini tidak hanya terbatas pada lingkungan Gereja, tetapi juga memiliki relevansi besar dalam konteks pendidikan kewarganegaraan.
Mengingat karakter bangsa Indonesia yang religius, gotong royong, dan kekeluargaan, peran seorang katekis sangat vital. Kita dipanggil untuk mengintegrasikan nilai-nilai iman dengan nilai-nilai luhur bangsa sehingga iman tidak hanya menjadi urusan pribadi, melainkan juga kekuatan pendorong untuk berpartisipasi dalam pembangunan masyarakat.
Peran sebagai katekis sangat konkret dalam mewujudkan karakter gotong royong dan kekeluargaan. Melalui partisipasi aktif dalam kegiatan sosial, seperti kerja bakti di lingkungan kampus atau program-program pelayanan masyarakat, mahasiswa STKIP Widya Yuwana juga menunjukkan bagaimana iman dapat diterjemahkan menjadi tindakan nyata yang membangun komunitas.
Selain itu, katekis bertanggung jawab untuk mendidik dan menginspirasi orang lain untuk melakukan hal yang sama. Sebagai katekis tentu harus menekankan bahwa gotong royong dan kekeluargaan bukanlah sekadar tradisi, tetapi sebuah ajaran moral yang mendalam yang sejalan dengan ajaran kasih Kristus.
Pendidikan kewarganegaraan yang sejati adalah proses berkelanjutan untuk memupuk kebaikan, kejujuran, dan integritas di dalam diri setiap warga. Dengan fondasi hati yang kukuh, yang dijiwai oleh semangat gotong royong dan kekeluargaan, kita dapat membangun negara yang tidak hanya kuat secara fisik, tetapi juga luhur dalam budi pekerti.
Peran kita sebagai mahasiswa STKIP Widya Yuwana dan sebagai katekis adalah bagian integral dari misi mulia ini. Kita adalah agen perubahan yang dipanggil untuk membawa terang iman ke dalam kehidupan berbangsa dan bernegara sehingga Indonesia dapat menjadi bangsa yang seutuhnya mencerminkan karakter luhur yang diwariskan oleh para pendirinya.
Semoga dengan membangun bangsa dari hati, generasi mendatang akan tumbuh menjadi individu yang memiliki kesadaran sosial tinggi, mampu bekerja sama, dan bertanggung jawab. Dengan partisipasi aktif dari semua pihak mulai dari guru, siswa, orang tua, hingga masyarakat luas diharapkan anak-anak bangsa akan menginternalisasi nilai-nilai solidaritas, kerja sama, dan tanggung jawab sosial yang tulus dari hati.
Hal ini tidak hanya akan memperbaiki lingkungan belajar, tetapi juga memperkuat ikatan sosial dalam masyarakat. Melalui pendekatan yang berlandaskan hati, diharapkan anak-anak bangsa akan menjadi generasi yang siap menghadapi tantangan masa depan, menciptakan Indonesia yang lebih bersih, aman, dan maju secara kolektif.
Semoga nilai-nilai luhur ini terus ditanamkan dan dijalankan dalam kehidupan sehari-hari, membawa Indonesia menuju masa depan yang lebih cerah dan harmonis.
Ledian Lihadia Bora Mahasiswa STKIP Widya Yuwana














