Penyuluh Paroki di Sleman Belajar Mewarta Lewat Tulisan dan Siaran Radio

News1182 Views

Sleman. Penyelenggara Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sleman mengadakan Pembinaan Kompetensi Penyuluh Agama Katolik yang Berwawasan Moderasi Beragama. Kegiatan dengan tema “Mewarta Melalui Media” ini dilaksanakan di Resto 3 Raja, Kayen, Ngaglik, Sleman, Kamis, 12 Juni 2025. Pembinaan diikuti para pewarta dari beberapa gereja paroki di wilayah Kabupaten Sleman.

C.B. Ismulyadi, S.S. M.Hum. (Penyelenggara Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sleman) menyampaikan terima kasih atas kehadiran dan semangat para pewarta atau penyuluh. “Kegiatan ini menjadi bagian pengembangan karya bagi para pewarta atau penyuluh secara khusus secara lisan, yakni melalui penyiaran radio dan secara tulisan. Semoga pembinaan ini menjadi bagian dari proses pembelajaran bersama dalam karya kita sebagai penyuluh atau pewarta melalui berbagai media.”

Agatha Erni, penyiar di Radio Republik Indonesia (RRI), mengawali materi pertama berjudul Mewarta Melalui Radio dengan bertanya, “Apakah masih mendengarkan siaran radio?”

M. Budi Sardjono menyampaikan materi “Penulisan sebagai Pewartaan”.

Menurut Agatha, “Radio bisa menjadi media ‘curhat’ antara pendengar dengan penyiar. Sampai saat ini, radio masih menjadi media alternatif.” Lebih lanjut dikatakan, Radio Republik Indonesia mempunyai beberapa program dengan beragam segmentasi pendengar, misalnya untuk pendengar dewasa atau orang tua, pendengar kaum muda atau anak-anak, dan pemerhati budaya.

Agatha kemudian menyampaikan tip dan trik dalam pewartaan melalui siaran radio. Menurut Agatha, “Kita perlu menyiapkan materi yang menarik, teknik komunikasi, dan gunakan ilustrasi musik atau lagu.” Pada akhir materi, Agatha mengajak para pewarta atau penyuluh untuk simulasi sebagai penyiar dan narasumber.

Setelah itu, M. Budi Sardjono mengajak peserta untuk menggali pengalaman harian menjadi tulisan. “Saya pernah mengajak beberapa orang untuk mencari, menemukan ayat inspiratif, dan menggali sebagai pegangan rohani yang bisa ditulis,” kisah Budi.

Lebih lanjut, penulis novel Nyai Gowok ini menuturkan, tulisan juga bisa menjadi katarsis atas pengalaman-pengalaman hidup yang dialami. “Kekuatan tulisan memang luar biasa,” tandasnya.

Veronica M. Murwaningsih menyampaikan materi “Mewarta Melalui Kisah”.

V. Maria Murwaningsih, pada sesi ketiga, menyampaikan materi Mewarta melalui Kisah. “Kisah menjadi bagian update proses karya kita sebagai penyuluh atau pewarta,” buka Naning, sapaan akrabnya. Lebih lanjut, Naning menjelaskan tentang teknik penulisan, menggali pengalaman menjadi tulisan populer, dan menjadikannya sebagai tulisan di media, konten media sosial, siaran radio, siniar atau podcast, serta siaran televisi.

Naning juga mengingatkan para pewarta atau penyuluh untuk meneruskan proses penulisan yang sudah dilakukan.

Ristiana Putri, pewarta dari Gereja Paroki Santo Aloysius Gonzaga, menyampaikan, “Saya sangat senang dan terkesan dapat bertemu dengan Ibu Agatha, Bapak Budi sebagai narasumber, dan Bu Naning, baik secara pribadi dan materi yang disampaikan sangat menginspirasi untuk meningkatkan kualitas ketugasan dan pelayanan saya. Semoga ke depannya kegiatan pembinaan peningkatan kompetensi seperti ini dilaksanakan kembali. Khususnya untuk materi pelayanan dua arah, mungkin dapat membantu para pewarta Gereja Katolik di Kabupaten Sleman.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *