Pengurus Wilayah dan Lingkungan Bukan Petugas yang “Dikorbankan”

News1581 Views

Bantul. Para ketua wilayah serta pengurus lingkungan yang terdiri dari ketua, sekretaris, dan bendahara di Paroki St. Yakobus Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mengikuti pembekalan di gereja pusat pada Minggu, 23 Maret 2025.

Ketua Dewan Pastoral Paroki (DPP) sekaligus Pastor Kepala Paroki Santo Yakobus Bantul Rm. Laurentius Dwi Agus Merdi Nugroho, Pr dalam pengantarnya menjabarkan bahwa wilayah dan lingkungan tidak hanya sekedar kumpulan orang atau umat semata, melainkan suatu paguyuban atau persekutuan umat Katolik dalam teritori tertentu.

“Berbeda dengan gerombolan atau geng, kita disatukan di dalam iman dan teritori tertentu dengan membangun paguyuban,” tegas Rm. Merdi.

Kata dasar “paguyuban” adalah “guyub” yang berarti “rukun”. Namun, menurut Rm. Merdi, paguyuban itu tidak hanya guyub, tetapi harus ada “guyu” atau tawa. “Saling meledek atau memberi masukan tanpa ada yang tersinggung menjadi tanda kedekatan relasi,” sebutnya.  

Mengenai pengurus wilayah dan lingkungan, Rm. Merdi menyatakan mereka bukanlah sekadar petugas yang “dikorbankan” hanya karena tidak ada yang lain. Padahal, sebagai pengurus lingkungan, baik ketua, sekretaris, maupun bendahara itu dipilih atau ditunjuk oleh umat untuk menjalankan tugasnya.

“Tugas ketua wilayah dan pengurus lingkungan melekat dalam jati diri orang Katolik yang berpartisipasi dalam tugas Yesus Kristus,” lanjut Rm. Merdi sembari mengingatkan pada tiga tugas Yesus Kristus (Trimunera Christi), yaitu menguduskan (imam), mewartakan (nabi), dan memimpin (raja/ gembala).

Kelompok sekretaris lingkungan mengikuti workshop yang dipandu Albertus Sri Hascaryo (Sekretaris I DPP).

Tiga tugas ini juga dilaksanakan dalam kepemimpinan di lingkungan maupun wilayah menurut tugas dan tanggung jawab masing-masing.

Rm. Merdi pun mengingatkan, seorang pemimpin di lingkungan dan wilayah harus menjadi gembala yang baik. Ciri-cirinya ialah mau mendengarkan, tidak menang sendiri, kenal keperluan orang lain, berusaha membangun damai, tidak menghakimi, merangkul yang sesat, menunjukkan kebenaran, rela berkorban, serta mau membantu kesulitan orang lain.

Selain itu, menjadi pemimpin sama dengan menjadi hamba yang melayani. Seperti roti dipecah dan dibagikan, demikian juga pemimpin harus mau dipecah dan dibagi-bagikan. Maka, pemimpin hendaknya memiliki sikap dasar pelayan, antara lain sabar, memberikan kepuasan bagi yang dilayani, mengutamakan yang lain, membantu yang dilayani untuk bertumbuh, dan berani mengakui kesalahan.

Pemimpin sebagai pengurus hendaknya juga mempunyai visi dan misi yang jelas, berinisiatif menawarkan sesuatu yang baik, tak hanya umbar janji tetapi tepat janji, serta menjalankan tiga tata kelola dengan baik.

Tiga tata kelola tersebut ialah tata penggembalaan umat (pendampingan dan pembinaan umat), tata kelola administrasi (catat-mencatat data dan peristiwa umat), serta tata kelola harta benda gerejawi (pengelolaan fasilitas dan keuangan).

Setelah mendengarkan pengantar dari Rm. Merdi, para ketua wilayah dan pengurus lingkungan dibagi menjadi tiga kelompok untuk mengikuti workshop yang dipandu pengurus harian DPP Santo Yakobus Bantul. Tiga kelompok ini meliputi ketua wilayah dan ketua lingkungan, sekretaris lingkungan, dan bendahara lingkungan dengan lokasi berbeda di area kompleks gereja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *