Paus Fransiskus Masukkan 21 Martir Ortodoks Koptik yang Dipenggal Militan ISIS sebagai Orang Kudus

News1611 Views

Vatikan. Dunia dikejutkan pada Februari 2015, ketika video berdurasi 5 menit diunggah ke internet oleh militan ISIS. Video tersebut menunjukkan 21 pria yang diculik dengan pakaian oranye dipenggal di sebuah pantai dekat Kota Sirte, Libya. Dua puluh orang dari martir ini adalah Koptik Mesir yang pergi ke Libya untuk melakukan pekerjaan konstruksi.

Mengutip laporan Mike Lewis, dari media online wherepeteris.com bahwa anggota terakhir kelompok, Matthew Ayariga, adalah rekan sekerja dari Ghana. Dikatakan bahwa dia memberi tahu para algojo, “Tuhan mereka adalah Tuhanku. Aku akan pergi bersama mereka.”

Ada beberapa pertanyaan mengenai apakah dia sudah menjadi Kristen atau apakah kesaksian dari dua puluh rekan kerjanya menyebabkan pertobatannya. Namun demikian, kesaksian dan solidaritas Kristennya menginspirasi. Dilaporkan bahwa saat mereka meninggal, mereka menyanyikan himne dan berdoa dengan suara keras.

 “Semoga doa para martir Koptik, bersatu dengan doa Theotokos, terus membantu Gereja kita bertumbuh dalam persahabatan. Hingga hari yang diberkati ketika kita dapat merayakannya di altar yang sama dan menerima Tubuh dan Darah Juruselamat bersama-sama,” demikian Paus Fransiskus mengungkapkan keinginan untuk persatuan umat Kristiani yang lebih besar pada hari Kamis, 11 Mei 2023 saat beraudiensi di Vatikan dengan Paus Ortodoks Koptik Tawadros II.

Paus Ortodoks Koptik Tawadros II mengangkat relikui 21 martir (kiri) bersama Paus Fransiskus (Foto: Vatican News).

Paus Fransiskus bersama Paus Tawadros II telah mengumumkan bahwa 21 martir Ortodoks Koptik akan dimasukkan ke dalam Martirologi Romawi Gereja Katolik sebagai tanda persekutuan spiritual kedua Gereja Kristen.

Patriark Takhta Santo Markus telah menghabiskan tiga hari terakhir di Roma untuk memperingati 50 tahun Deklarasi Kristologi Bersama, yakni sebuah tonggak sejarah dalam hubungan antara Gereja Ortodoks Koptik dan Gereja Katolik.

Pada pidato audiensi tersebut, Paus Fransiskus mengatakan 21 martir Ortodoks Koptik akan dimasukkan ke dalam Martirologi Romawi. Menurutnya, hal ini sebagai tanda persekutuan spiritual yang menyatukan kedua Gereja.

Sejumlah 21 orang Kristen Koptik ini, 20 di antaranya adalah orang Mesir dan 1 martir berasal dari Ghana yang dipenggal di Libya pada tahun 2015 oleh militan yang disebut Negara Islam. Menurutnya, sebuah video yang diterbitkan oleh organisasi teroris tersebut menunjukkan para pria berdoa saat mereka akan meninggal. Gereja Ortodoks Koptik merayakan hari raya mereka pada tanggal 15 Februari, tanggal mereka menjadi martir.

Pada audiensi tersebut, Paus Tawadros II memberikan cendera mata kepada Fransiskus berupa relikui para martir Koptik. Atas pemberian relikui tersebut, Paus Fransiskus pun mengungkapkan rasa terima kasihnya dengan tulus serta mengungkapkan benih persatuan bagi semua pengikut Kristus.

“Para martir ini dibaptis tidak hanya dengan air dan Roh, tetapi juga dengan darah, dalam darah yang merupakan benih persatuan bagi semua pengikut Kristus,” ungkap Paus Fransiskus.

Paus Tawadros II saat jumpa pers bersama wartawan. (Foto: Vatican News).

Memohon syafaat orang-orang kudus Koptik

Selepas pertemuan dengan Paus Fransiskus, Paus Tawadros II memberikan konferensi pers di Dikasteri Vatikan. Kepada wartawan, Tawadros mengatakan bahwa jenazah para martir digali pada tahun 2018 dan dibawa ke Mesir. Selanjutnya, Gereja Koptik membangun sebuah kuil untuk menghormati mereka di El-Aour, kampung halaman sebagian besar dari mereka.

“Kami sering meminta doa mereka untuk mempromosikan persatuan umat Kristiani. Kami yakin mereka terus memberikan berkat yang besar kepada kami,” tambah Paus Tawadros II seraya memohon untuk mempromosikan persatuan umat Kristiani.

Pada kesempatan perjumpaan istimewa dengan pemimpin Gereja Katolik di Vatikan ini, Paus Towadros II mendesak umat Katolik untuk meminta syafaat kepada para martir.

“Ada empat langkah untuk mengikuti jalan menuju rekonsiliasi dan persatuan Kristen, menunjuk pada sosok yang digambarkan di salib yang telah dia perlihatkan saat berada di Roma,” papar Paus Koptik itu.

Lebih lanjut menurut Paus Tawadros II, langkah pertama adalah persaudaraan dalam Kristus, yang diungkapkan melalui kegiatan bersama. Kedua, mencakup saling pengertian melalui studi tentang tradisi, sakramen, dan segala sesuatu yang berkaitan dengan Gereja.

Ketiga, katanya, melibatkan dialog liturgi dan informal, termasuk dialog antara kaum muda dan anggota klerus Gereja masing-masing. Dan, keempat adalah doa, menurutnya doa dapat menghasilkan keajaiban.

“Begitu kita menyelesaikan empat langkah ini,” kata Paus Koptik, “kita sampai di hati Kristus, dan ini memakan waktu lama. Tetapi kami percaya bahwa Roh Kudus menyertai kami dalam perjalanan ini.”

Jurnalis Devin Watkins dari Vatikan News melaporkan bahwa ini bukan pertama kalinya orang Kristen non-Katolik dimasukkan ke dalam Martirologi Romawi.

“Pada tahun 2001, beberapa santo Ortodoks yang hidup setelah pemisahan Gereja Katolik dan Ortodoks pada tahun 1054 ditambahkan ke dalam daftar santo Katolik,” tulis Devin Watkins.

Menurut laporan Vatican News, mereka antara lain Santo Slavia Theodosius dan Anthony dari Pečerska (abad ke-11). Selain itu juga ada Stefanus dari Perm dan Sergius dari Radonezh (abad ke-14).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *