Yogyakarta. Bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional (HARDIKNAS), Jumat, 2 Mei 2025, SD Marsudirini Yogyakarta dalam semangat 105 tahun usianya menggelar acara Marsudirini Diary di aula sekolah dengan tema “Bersama Kita Majukan Pendidikan Indonesia”.
Acara ini merupakan sebuah inisiatif yang mengajak seluruh warga sekolah untuk membiasakan diri menulis diary atau jurnal harian secara tulis tangan. Tidak hanya bagi para siswa, guru, dan karyawan sekolah, kegiatan ini juga merangkul keterlibatan para orang tua siswa.
Melalui Marsudirini Diary, SD Marsudirini Yogyakarta berharap dapat membangun kebiasaan reflektif dan menulis kreatif yang memperkaya perjalanan pendidikan para siswa, guru, dan orang tua.
Kegiatan menulis diary tidak hanya bertujuan sebagai bentuk literasi menulis, tetapi juga sarana refleksi yang diharapkan menjadi kebiasaan dan sarana untuk membantu mengembangkan diri lebih baik melalui proses introspeksi.

Maria Natalia Shinta Anggraeni dari Komite Sekolah menjabarkan, program ini memberikan ruang untuk menuangkan pengalaman, mengekspresikan perasaan, mengembangkan kemampuan menulis, dan menjadi alat terapi psikologis.
“Kami percaya, dengan adanya program ini kita mendapatkan manfaat dari menulis, yaitu persepsi anak terhadap dunia sekitar mereka, membantu mengasah keterampilan komunikatif tertulis, dan membantu dalam berpikir kritis,” urai Shinta.
Ia juga yakin, dengan memilih sendiri buku harian yang berwarna cerah atau dengan sampul menarik, akan memberikan semangat untuk menulis. “Saya harap, para siswa berpartisipasi aktif dan merasakan manfaatnya,” kata Shinta.
Sementara itu, F.X. Oktaf Laudensius, S.Si., M.M. selaku Kepala SD Marsudirini Yogyakarta juga berharap kegiatan menulis diary di rumah dapat menggerakkan literasi keluarga dan sekaligus literasi sekolah. “Setiap hari, selama lima belas menit sebelum atau sesudah belajar, dalam satu hari anak-anak diberi kesempatan untuk menulis.” terangnya.

Puncak acara ditandai dengan peluncuran resmi Marsudirini Diary. Para siswa dan guru menempelkan stiker identitas di sampul buku diary mereka. Kemudian, seluruh siswa diajak untuk menulis diary bersama-sama dengan didampingi wali kelas masing-masing sebagai simbol dimulainya kebiasaan reflektif di sekolah.
Ketua panitia kegiatan, Maria Dwi Kurniasih, mengemukakan menulis diary bukan sekadar mencatat peristiwa, tetapi juga merekam emosi, impian, dan pelajaran hidup yang berharga.
“Bersama keluarga, kegiatan ini menjadi lebih bermakna, karena kita dapat berkongsi cerita, ketawa, dan bahkan air mata. Mencipta warisan kenangan yang akan mewarisi generasi mendatang,” ujar Asih, sapaan akrabnya.
Ia pun mengajak untuk menjadikan menulis diary sebagai tradisi keluarga yang berharga untuk menghubungkan hati dan memperkaya jiwa.














