Salah satu kebiasaan yang berkembang dalam sejarah manusia adalah kebiasaan menentukan hari-hari khusus untuk memperingati momen-momen khusus. Selain perayaan, hari-hari khusus tersebut memiliki tema khusus untuk mengingatkan orang akan pentingnya menghargai harta milik bersama.
Harta yang dimaksud di sini tidak selalu tentang uang. Manusia diingatkan akan pentingnya menjaga harta-harta bersama yang sering kali dianggap biasa, tetapi tanpanya hidup manusia bisa merana.
Hal ini sekaligus menjadi semacam peringatan darurat bahwa akan ada banyak kerugian kalau kita kehilangan harga yang menjamin hidup kita bersama. Demikianlah kita mengenal Hari Air yang diperingati setiap 22 Maret, Hari Bumi Sedunia yang diperingati pada 22 April, ataupun Hari Guru Internasional yang diperingati setiap 5 Oktober.
Pada tahun 2021, dimulailah satu peringatan baru, yaitu peringatan Hari Persaudaraan Umat Manusia. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan Hari Persaudaraan Manusia Internasional pada 21 Desember 2020 melalui Resolusi 75/200.
Hari ini diperingati setiap tahun pada 4 Februari, terinspirasi dari pertemuan bersejarah antara Paus Fransiskus dan Grand Imam Al-Azhar, Syekh Ahmed el-Tayeb, yang menandatangani Dokumen tentang Persaudaraan Manusia pada 4 Februari 2019 di Abu Dhabi.
Peringatannya sendiri mulai diadakan pada 4 Februari 2021. Namun, sebelum dirayakan secara internasional, lembaga yang melanjutkan misi Pertemuan Abu Dhabi sudah merayakan.
Berikut daftar tema-tema dan penjelasan mengenai tema peringatan Persaudaraan Umat Manusia ini dari tahun ke tahun.

Asal usul dan latar belakang
Hari Persaudaraan Umat Manusia Internasional lahir dari inisiatif bersejarah dari Paus Fransiskus dan Imam Besar Al-Azhar, Syekh Ahmed el-Tayeb, tanggal 4 Febuari 2019 di Abu Dhabi. Pada waktu itu ditandatanganilah Dokumen Tentang Persaudaraan Umat Manusia yang sekarang lebih dikenal sebagai Dokumen Abu Dhabi.
Dokumen tersebut adalah dokumen yang unik untuk Gereja Katolik karena merupakan dokumen pertama yang ditandatangani oleh seorang pemimpin Gereja Katolik dan pemimpin agama lain, apalagi penandatanganannya dilakukan di luar Vatikan.
Di dalam dokumen tersebut, kedua pemimpin agama ini mendorong diupayakannya upaya pembelaan kepada banyak manusia yang mengalami kesulitan dan diserukannya upaya bersama untuk membela harta persuadaraan.
Salah satu ungkapan yang fenomenal dari dokumen tersebut adalah, “Iman menuntun orang beriman untuk memandang dalam diri sesamanya seorang saudara lelaki atau perempuan untuk didukung dan dikasihi. Melalui iman pada Allah, yang telah menciptakan alam semesta, ciptaan, dan seluruh umat manusia (setara karena rahmat-Nya), umat beriman dipanggil untuk menyatakan persaudaraan manusia ini dengan melindungi ciptaan dan seluruh alam semesta serta mendukung semua orang, terutama mereka yang paling miskin dan yang paling membutuhkan” (DHF).
Dokumen ini menjadi menarik karena tidak mencantumkan sama sekali nama Yesus, Muhammad, ataupun figur Maria. Dokumen ini menjadi dokumen universal yang menyapa banyak orang dari berbagai golongan.
Lebih lanjut, dokumen ini menyediakan peta jalan yang memungkinkan adanya perjumpaan antara orang-orang berbeda agama dalam satu visi yang sama. Salah satu tujuannya adalah penghargaan kepada mereka yang nyawanya terancam oleh karena konflik agama, anak-anak, para wanita yang terancam kebebasannya dan sebagainya.
Kekuatan kesatuan dan solidaritas
Selain mengakui adanya permasalahan bersama umat manusia, dokumen ini juga mengakui bahwa umat manusia memiliki kekuatan yang memampukannya untuk bersama-sama menjaga harta persaudaraan manusia. Dalam hal ini, baik Paus Fransiskus maupun Imam Besar Al Tayeb mendorong diupayakannya berbagai tradisi dialog, upaya membangun perdamaian dan penciptaan masyarakat yang menghargai berbagai keragaman.
Dalam hal ini, dialog antaragama dianggap sebagai salah satu cara ampuh mengatasi perpecahan sosial dan oleh karenanya dianggap pentinglah berbagai bentuk pendidikan yang menanamkan nilai-nilai toleransi.
Keduanya berjanji untuk meneruskan ajakan persaudaraan ini kepada kelompok-kelompok yang ada dalam jangkauan mereka sehingga semakin nyatalah upaya mendorong sikap saling menghormati di antara umat manusia, sebagai saudara.
Berbagai permasalahan global dan instabilitas sosial kiranya bisa dihadapi salah satunya dengan tumbuh berkembangnya budaya saling menghormati dan keterbukaan hati untuk bersaudara.

Mendukung pembangunan berkelanjutan
Kiranya peringatan ini mengingatkan kita akan harta persaudaraan yang sudah menjaga kita. Banyak peradaban sudah kehilangan kedamaian oleh karena kehilangan harta persaudaraan. Sementara di banyak tempat, banyak orang mengalami damai karena harta persaudaraan sudah menjaga mereka.
Secara bijak pesannya adalah, “Karena harta persaudaraan sudah merawatmu, kini saatnya kamu merawat harta persaudaraan.” Dalam lingkup internasional, Hari Persaudaraan Manusia Internasional sejalan dengan beberapa Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) untuk mendorong inklusi dan perdamaian antarumat manusia berikut ini.
- SDG 4: Pendidikan Berkualitas – Mempromosikan pendidikan inklusif yang mengajarkan penghormatan dan pemahaman antarbudaya.
- SDG 10: Mengurangi Ketimpangan – Mendukung kesetaraan kesempatan dan mengurangi kesenjangan melalui dialog antaragama.
- SDG 16: Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Kuat – Mendorong masyarakat yang damai dengan memperkuat kerja sama antarbudaya dan antaragama.
Penghargaan Zayed untuk persaudaraan manusia
Ketika kita memasuki Selasa, 4 Februari 2025, kita merayakan Hari Persaudaraan Manusia Internasional. Pada tahun ini kita ingin mempromosikan inisiatif yang mendukung toleransi dan persatuan.
Ada banyak kegiatan yang bisa dilakukan berupa: lokakarya pendidikan, dialog antaragama, dan acara komunitas yang menanamkan rasa hormat terhadap keberagaman budaya serta hidup berdampingan secara damai. Cara paling sederhana yang bisa dilakukan adalah mengupayakan diri menjadi saudara yang baik bagi orang-orang di sekitar kita.
Secara internasional, perayaan Hari Persaudaraan Umat Manusia dirayakan dengan diberikannya Penghargaan Zayed Award for Human Fraternity. Penghargaan ini diberikan kepada individu dan institusi yang sudah memberikan kontribusi penting dalam memajukan persaudaraan dan perdamaian dunia.
Kita, sebagai warga negara Indonesia, bersyukur karena pada peringatan tahun 2024, NU dan Muhammadiyah diberi penghargaan sebagai dua institusi yang berkontribusi penting untuk memajukan persaudaraan. Artinya, persaudaraan di Indonesia ini masih terawat. Selain itu, adalah panggilan bagi kita untuk terus-menerus menjaga harta persaudaraan yang sudah sekian generasi menjaga kelangsungan hidup kita.
Selamat merayakan Hari Persaudaraan Umat Manusia. Semoga Anda semua kian terberkati dan bersama-sama kita bisa menjaga harta persaudaraan ini.
Rm. Martinus Joko Lelono, Pr (Imam Diosesan Keuskupan Agung Semarang, pengajar di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta)








