Fakultas Theologi Wedabhakti (FTW) Universitas Sanata Dharma (USD) Yogyakarta memberikan kesempatan kepada kami, para mahasiswa, untuk melakukan kegiatan di panti asuhan. Kegiatan ini biasanya dilangsungkan sebelum memasuki semester V saat masa liburan.
Kegiatan ini tentu memiliki tujuan penting. Pertama, memberikan kesempatan kepada kami untuk memiliki kontak langsung dengan kelompok masyarakat tertentu yang kelak akan menjadi medan kerja. Kedua, mempraktikkan ilmu pengetahuan dan keterampilan yang sudah dipelajari di bangku kuliah. Ketiga, melatih kerja sama dan tinggal dalam masyarakat yang bergerak dan berubah dengan cepat.
Kami sendiri merupakan kelompok kecil berjumlah lima orang dari Kongregasi Sang Penebus Mahakudus (Congregatio Sanctissimi Redemptoris/CSsR) yang memilih Panti Wredha Rindang Asih (PWRA) 1 Ungaran, Jawa Tengah.
Perjalanan dimulai pada 5 Juli 2025 atas kesepakatan bersama dan diterima oleh Sr. Emerensiana, AK selaku ketua unit PWRA 1 Ungaran. Sebelumnya, Sr. Emerensiana telah menginformasikan dan memberikan gambaran umum mengenai PWRA 1 yang bernaung dalam Yayasan Sosial Soegijapranata Keuskupan Agung Semarang (KAS).
Setibanya di PWRA 1, kami disambut Sr. Emerensiana dan diberikan tempat beristirahat. Beberapa menit kemudian, kami diajak untuk menemui para lansia. Para lansia dibagi ke dalam tiga ruangan yang biasanya disebut ruang A, B, dan C.
Ruangan A ditempati Sr. Lusi dan tiga lansia yang masih kuat, baik secara fisik maupun psikis. Sementara ruang B dan C ditempati oleh lansia yang sudah tidak terlalu kuat, baik fisik maupun psikisnya.
Senin merupakan hari ketika kami memulai kegiatan bersama dengan para lansia. Beberapa hal menarik yang kami temukan salah satunya ternyata para lansia yang ditempatkan di sini bukan hanya dari kalangan beragama Katolik, tetapi juga Hindu, Islam, maupun Kristen Protestan.
Selain itu, pengasuh yang bekerja di tempat ini sebagian besar beragama Islam. Mereka sangat cekatan dalam mengurus para lansia sehingga kami banyak belajar dari mereka.
Dalam kegiatan harian, Sr. Emerensiana telah membuat jadwal yang nantinya membantu kami untuk menjalani aktivitas apa yang akan dilakukan. Hari pertama dalam pelayanan terhadap para lansia, saya pun harus mengakui ada rasa senang dan sedih ketika dihadapkan pada sebuah kenyataan.
Perasaan senang seperti para lansia tidak pernah mengeluh dalam berbagai hal, bahkan selama mereka diperlakukan di tempat ini. Waktu makan, tidur, bahkan segala macam aktivitas telah mereka lakukan dengan semangat.
Tantangan besar yang kami hadapi adalah perubahan sikap mereka berdasarkan waktu. Beberapa lansia di waktu tertentu sangat semangat dalam berkegiatan seperti menyanyi, senam, dan juga jalan-jalan. Namun, pada waktu tertentu juga mereka tidak ingin melakukan sesuatu, bahkan cenderung menolak jika ditawari sesuatu, contohnya tidak ingin makan dan minum air ataupun obat.
Berdasarkan pengakuan dari para pengasuh, banyak lansia yang ditinggalkan oleh keluarga terdekat bahkan ada juga yang diantar oleh tetangga mereka. Beberapa lansia bahkan tidak pernah dikunjungi oleh keluarga sekalipun dari golongan berada.
Saya teringat sebuah kisah dalam Injil Lukas 10:25-37. Saya berusaha mengaitkan panti ini sebagai seorang Samaria yang karena ketulusan hatinya mau membantu dan menerima dengan tangan terbuka siapa saja yang sedang mengalami kesulitan. Sekalipun mereka telah ditinggalkan oleh keluarganya, tetapi ada saja orang-orang baik yang tidak akan membiarkan orang menghadapi kehidupannya sendiri dengan menderita tanpa pertolongan.
Setiap harinya, kami berusaha menghibur mereka dengan memberikan perhatian khusus seperti membantu menyuapi, mengajak mereka bernyanyi, juga senam pagi. Hal lain yang kami lakukan adalah memberi sketsa gambar untuk diwarnai sebagai cara menghilangkan kejenuhan para lansia dalam beraktivitas.
Sejatinya, orang Samaria sendiri adalah Allah yang tidak akan membiarkan manusia jatuh dalam penderitaan. Benarlah kutipan umum yang berbicara, “Ketika Anda punya segalanya, maka banyak orang mendekat. Tetapi jika Anda tidak punya apa-apa, maka semua orang menjauh.”
Allah sendiri tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Dia memberi kita hidup dan kebebasan untuk tahu, mau, dan sadar bahwa banyak orang membutuhkan kita, serta memperkenalkan kebenaran sejati di hadapan Allah.
Rm. Aloysius Gonzaga Luhur Prihadi, Pr dalam salah satu homilinya memberikan pertanyaan reflektif dalam kisah Maria Magdalena: “Siapakah yang engkau cari?” Beliau mengaitkannya dengan semua orang yang melayani dengan hati.
Jawaban atas pertanyaan tersebut, yang kami cari dan layani adalah Tuhan dalam diri orang-orang yang menderita. Bagaimana cara kami bisa memberi mereka kesempatan untuk merasakan kasih Tuhan dalam hari-hari hidup mereka.
Yohanes Dakruz Gela














Semangat buat para frater semogah dengan melayani masyarakat,,kalian selalu diberkati dalam nama Tuhan Yesus