Menghadirkan Tuhan dalam Perbedaan

Pelita457 Views

Perbedaan adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia. Bahkan, ketika dua hal tampak sama, selalu ada celah kecil yang membuat keduanya tidak sepenuhnya identik. Realitas ini mengingatkan kita bahwa perbedaan adalah kodrat penciptaan.

Allah tidak menciptakan manusia sebagai salinan satu dari yang lain, tetapi sebagai pribadi-pribadi unik dengan warna, karakter, dan kekhasan masing-masing. Keunikan inilah yang menghadirkan keindahan ciptaan.

Seperti warna dalam sebuah lukisan, jika hanya ada satu warna, maka tidak akan ada gambaran apa pun yang dapat kita nikmati.

Namun, jika memang kita berbeda, bagaimana manusia harus menyikapi perbedaan itu?

Indonesia adalah salah satu contoh konkret keberagaman dunia. Bangsa ini terbentuk dari ribuan pulau, ratusan suku, beragam budaya, agama, bahasa, dan adat istiadat. Multikulturalisme bukan hanya pengakuan bahwa perbedaan itu ada (pluralisme), tetapi pengakuan bahwa setiap perbedaan memiliki martabat yang sama.

Tidak ada yang lebih tinggi, tidak ada yang lebih rendah. Perbedaan bukan alasan untuk mendominasi, melainkan kesempatan untuk saling melengkapi.

Kitab Suci memberikan dasar yang kuat bagi cara pandang ini. St. Paulus menegaskan: “Tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani… karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus” (Galatia 3:28).

Ayat ini menunjukkan kepada kita bagaimana cara Allah melihat manusia dalam kesetaraan martabat. Karena itu, ketika kita menghormati sesama yang berbeda, kita sesungguhnya sedang menghormati karya Tuhan sendiri.

Prinsip ini kembali diperkuat dengan perintah: “Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu!” (Galatia 6:2). Perintah ini menekankan bahwa dalam keberagaman, manusia dipanggil untuk menguatkan satu sama lain, mengangkat beban, bukan menambah luka; membangun relasi, bukan justru memperlebar jurang.

Sejarah Indonesia menunjukkan bahwa keberagaman tidak selalu mudah dirawat. Beberapa konflik masih kerap terjadi di masa kini. Kita bisa melihat masih maraknya ketegangan antaragama di sejumlah daerah, gesekan identitas menjelang kontestasi politik, stereotip negatif antarsuku, kesenjangan sosial-ekonomi yang memicu kecemburuan kelompok, serta ujaran kebencian dan intoleransi di media sosial.

Situasi-situasi ini menunjukkan bahwa multikulturalisme memerlukan suatu perjuangan bersama yang membutuhkan kerendahan hati, dialog, dan kesadaran akan martabat sesama.

Untuk memahami bagaimana Tuhan hadir dalam keberagaman, bayangkan sebuah peristiwa sederhana. Anda seorang pejabat yang terhormat, tetapi suatu hari sepeda motor Anda mogok di tengah perjalanan. Satu-satunya bengkel yang ada hanyalah bengkel kecil yang tampak kumuh dan tak layak bagi status Anda.

Namun, di situlah Anda menaruh harapan agar perjalanan bisa dilanjutkan. Pada momen itu, Anda ditolong oleh seseorang yang mungkin selama ini tidak pernah Anda perhitungkan.

Di situlah Tuhan sungguh-sungguh hadir. Di dalam tangan yang mungkin kotor oleh oli, di balik pakaian sederhana, dalam sosok yang mungkin jauh dari bayangan kita tentang “orang penting”.

Tuhan hadir melalui mereka yang berbeda dari kita. Keberbedaan tidak membuat seseorang lebih kecil. Justru, sering kali melalui yang berbeda itulah Allah mengajarkan kita tentang kerendahan hati, solidaritas, dan kasih.

Menemukan Tuhan dalam perbedaan berarti 1) melihat martabat Ilahi pada setiap orang, tanpa memandang latar belakangnya; 2) mengosongkan diri, seperti Kristus yang merendahkan diri-Nya, agar kita mampu belajar dari siapa pun; 3) mengambil peran aktif dalam merawat harmoni dan keadilan, terutama ketika perbedaan menjadi sumber ketegangan; 4) berani membangun jembatan, bukan tembok, di tengah masyarakat yang sering terpolarisasi.

Pada akhirnya, perbedaan bukan ancaman, tetapi anugerah. Di dalam keberagaman, Allah menyingkapkan wajah-Nya melalui sesama yang berbeda dari kita. Multikulturalisme menjadi jalan untuk menemukan kehadiran-Nya dalam dinamika hidup berbangsa dan beriman.

Ketika kita menolong, menghormati, dan menyambut sesama, terlebih yang berbeda sejatinya kita sedang memenuhi hukum Kristus. Di balik keberagaman Indonesia yang luas ini, Tuhan yang sama bekerja, menggerakkan, dan memanggil kita untuk menjadi satu keluarga dalam kasih-Nya.

Marcellos Galang Waluya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *