Disadari atau tidak, perjalanan keseharian hidup kita dipenuhi aneka pengalaman terang yang membahagiakan maupun serpihan gelap berupa penderitaan, beban berat, dan rasa menyedihkan lainnya.
Sebagai pribadi yang mempunyai kerinduan mendalam menemukan makna atas realitas kehidupan dengan visi “Menjadi Suster AK yang Penuh Syukur dan Migunani”, saya berupaya melakukan pencarian atas makna setiap peristiwa dengan mengumpulkan serpihan-serpihan pengalaman.
Cara yang saya tempuh adalah dengan mengambil jeda sejenak usai beraktivitas, memberi ruang bagi diri untuk me-review dan merefleksikannya agar mampu mengungkap misteri campur tangan Allah yang setia menyertai, tetapi kerap kali luput dari kesadaran.
Keinginan untuk selalu mencari hingga menemukan makna hidup ini menjadi energi positif yang saya syukuri sebagai kegairahan untuk terus berproses.
Pengalaman perjalanan dua murid Yesus ke Emaus (Luk. 24:13-35) menjadi inspirasi mendalam bagi saya. Kepergian dan kematian Yesus memberikan luka, kekecewaan, serta keguncangan iman yang dahsyat bagi para murid.
Dalam situasi gelap itu, iman, harapan, dan kasih seakan sirna tanpa bekas, mendorong mereka untuk “lari” dari kenyataan dan pulang ke “kampung halaman”.
Bagi saya, “kampung halaman” adalah simbol, sebuah zona nyaman tempat kita mencari perlindungan saat kehilangan harapan, seolah ingin melepaskan diri dari sesuatu atau perutusan yang terasa berat.
Namun, pengalaman iman mengajarkan bahwa ketika saya berani keluar dari persembunyian itu, saya justru menemukan rahmat yang memulihkan. Saya dituntun untuk menjadi pribadi yang lebih berdaya karena kekuatan Allah sehingga jauh lebih siap menjalani perutusan yang kerap kali tidak mudah.
Kesadaran ini tumbuh karena saya melihat bagaimana kasih Allah itu nyata hadir melalui kehadiran sesama dan relasi-relasi yang turut mendukung serta mengembangkan panggilan saya.
Yesus tidak membiarkan para murid larut dalam keputusasaan di persembunyian mereka. Ia hadir menemani, mendengarkan, dan akhirnya “memecahkan roti” bagi mereka. Momen perjamuan itu adalah titik balik; saat mata hati terbuka, kegelapan pun sirna.
Kehadiran-Nya menjadi bukti nyata bahwa Dia bangkit dan serpihan gelap bukanlah akhir dari segalanya. Kita diajak untuk kembali pada-Nya, berani bangkit dari keterpurukan, dan melangkah dengan harapan baru.
Tuhan sungguh punya cara yang tak terduga, yang kadang di luar pikiran atau jangkauan kita, untuk menyatakan penyertaan-Nya. Sering kali, Dia tidak mengubah situasi kita secara instan, tetapi Dia mengubah cara kita memandang situasi tersebut.
Semangat untuk menjadi pribadi yang migunani (berguna, bermanfaat-Red.) kini saya wujudkan melalui hal-hal sederhana yang dilakukan dengan totalitas. Saya belajar bahwa segala sesuatu yang dijalankan dengan landasan rasa syukur, ternyata justru terasa sangat meringankan.
Rasa syukur mengubah beban menjadi persembahan, dan mengubah kewajiban menjadi kegembiraan. Meski sering kali saya merasa tidak tahu, saya memilih untuk mau mencoba dan belajar, bersikap mandiri, serta berani bertanya demi pertumbuhan pelayanan. Inilah bentuk kegairahan baru saya: melayani bukan karena beban, melainkan karena syukur telah ditemukan kembali oleh-Nya di “jalan pulang”.
Dengan menuliskan serpihan pengalaman ini, saya semakin mengenali bagaimana Tuhan terlibat dalam hidup saya, meskipun kerap kali saya tidak setia. Syukur kepada Allah, saya dapat menikmati perjalanan hidup ini karena saya menyadari bahwa perjalanan itu sendiri bukanlah tujuan akhir.
Saya akan menikmati setiap langkah dengan penuh syukur karena berjalan bersama Dia dan terus berupaya memaknainya.
Sr. M. Eligia Kristiani, AK














