Menaruh Hati dalam Teknologi: Gereja dalam Era Postmodern

Pelita649 Views

Paus Fransiskus dalam Pesan Hari Komunikasi Sosial ke-58 menuliskan demikian, “Manusia selalu menyadari dirinya tidak cukup, karena itu berusaha mengatasi kerentanannya dengan menggunakan segala cara.”

Salah satu cara yang melejit pada era ini adalah dengan penggunaan teknologi. Jean Baudrillard, seorang filsuf kontemporer berkebangsaan Prancis, menggolongkan era saat kita hidup ini dengan istilah postmodern.

Masyarakat menjadi sangat erat dengan konsumsi digital, bahkan hampir tidak lagi dapat membedakan antara yang nyata dengan yang maya. Baudrillard menyebut fenomena ini dengan istilah simulakra (bahasa Latin: simulacrum, bentuk infinitif kini dari similis “serupa”). Simulakra itu dengan pasti akan membentuk masyarakat menjadi hiperrealitas (melampaui realitas yang seharusnya).

Hati manusia dan teknologi era postmodern

Gereja yang saat ini hidup pun turut ada dalam era itu. Umat Allah berada di era postmodern. Teknologi sebagai buah tangan manusia tentunya diciptakan untuk membantu kehidupan manusia pula. Namun, Paus Fransiskus mengingatkan bahwa “Jika tanpa hati, manusia bisa saja menjadi kaya dalam teknologi tetapi miskin dalam kemanusiaan”, artinya teknologi berpotensi besar menjadikan manusia bukan manusia seutuhnya lagi.

Baudrillard yang mencoba melihat realitas dunia saat ini, di mana kita berada, membantu kita untuk makin memahami makna “Hati” yang dimaksudkan oleh Paus Fransiskus dalam pesannya untuk Hari Komunikasi Sosial ke-58.

Hati adalah lambang dari kebijaksanaan manusia, dari sanalah sumber kebajikan lahir sehingga memungkinkan kita membuat keputusan dan melihat konsekuensinya. “Hati” memampukan kita membedakan dunia yang maya dengan yang nyata. Hati membebaskan kita dari gempuran simulakra dan potensi akan hiperrealitas yang mengaburkan makna humanitas.

Bahaya simulakra dan hiperrealitas

Bahaya dari simulakra bukan hanya menghilangkan kemampuan manusia membedakan antara yang imajiner dengan yang riil, tetapi juga menjadikan manusia hiperrealitas. Kini, dengan adanya geliat media sosial, tontonan, dan dunia imajiner dalam aneka platform digital (game) dapat berpotensi besar menjerumuskan kita kepada godaan-godaan primordialisme yang mengarahkan kita pada keinginan melampaui keterbatasan, ingin menjadi serupa dengan Tuhan dalam hal kesempurnaan atau bahkan meniadakan Tuhan.

Teknologi dapat menjadi alat pelayanan kasih, tetapi di sisi lain sekaligus dapat menjadi instrumen penghancur diri dan orang lain. Bentuk hiperrealitas lainnya adalah manipulasi. Konsep teknologi yang semula untuk manusia, kini berpotensi menjadikan manusia untuk teknologi. Teknologi bisa lebih canggih, cepat, dan mutakhir daripada manusia. Namun, teknologi tak akan pernah punya “Hati” layaknya manusia, sekalipun dengan kecanggihan artifisial bentuk apa pun.

Menaruh hati dalam teknologi

Melihat situasi yang masif terkait perkembangan teknologi, bagaimana kita sebagai anggota Gereja Kristus menyikapi persoalan tersebut? Sementara, kita tidak bisa mengelak berada dalam geliat era postmodern. Sebagai seorang Katolik, kita mengikuti ajakan Paus Fransiskus untuk senantiasa terus mencari kebijaksanaan, yaitu dengan meningkatkan kapasitas dalam membuat keputusan.

Terkait dengan pengaruh teknologi dalam era postmodern ini, kita perlu menaruh “Hati” dalam menggunakan teknologi. Bukan memberikan diri seutuhnya dalam arti menjadi ketergantungan, melainkan memberikan “Hati” dan menggunakan “Hati” dalam penggunaan teknologi. Sebab, “Hati” akan membantu kita dalam menentukan apa yang baik dan benar untuk kehidupan kita yang lebih humanitas.

Kemajuan teknologi di era postmodern ini, akan memberi kita kebebasan yang lebih besar asalkan kita tidak terpenjara dalam ketergantungan yang mematikan semangat kemanusiaan alamiah kita.

“Hati” akan tetap menjadi teguh dan kuat serta dapat membedakan apa yang baik dan benar sejauh ia tetap lekat pada Sang Kebijaksanaan. Oleh sebab itu, kendati kita hidup dalam zaman teknologi, hubungan dengan Sang Kebijaksanaan harus senantiasa terbina.

Hubungan itu dapat terjadi melalui doa dan Ekaristi, karena Sang Kebijaksanaan itu tidak bisa dihubungi lewat teknologi, secanggih apa pun. Ia hanya dapat dijumpai dengan cara-cara humanitas yang nyata bukan maya.

Fr. Vincentius Eduard Januardi

Calon imam diosesan Keuskupan Tanjungkarang, sedang menempuh pendidikan calon imam di Seminari Tinggi Santo Petrus Pematangsiantar dan Fakultas Filsafat Universitas Katolik Santo Thomas Medan.

Sumber Referensi:

Pesan Paus Fransiskus Pada Hari Komunikasi Sosial Ke-58 “KECERDASAN ARTIFISIAL DAN KEBIJAKSANAAN HATi: Menuju Komunikasi yang Sungguh Manusiawi”.

Baudrillard, Jean. (1994). Simulacra and Simulation (Sheila Faria Glazer, Penerjemah). Michigan: The University of Michigan Press.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *