Yogyakarta. Indonesia merupakan negara yang memiliki berbagai keberagamaan seperti agama dan budaya. Perbedaan itu tentunya bukan menjadi penghalang bagi siapa pun untuk saling berbagi, salah satunya Gereja Katolik Santo Yusuf Bintaran, Yogyakarta. Pada momen puasa Ramadan ini, Gereja Bintaran berbagi takjil secara gratis bagi umat Islam. Kegiatan ini merupakan salah satu bentuk toleransi antarumat beragama.
Kegiatan pembagian takjil dilaksanakan pada Kamis, 14 April 2023. Kegiatan pembagian takjil ini berbeda pada umumnya. Biasanya, pembagian takjil dilakukan di jalan, sedangkan Gereja Bintaran memilih untuk mendatangi secara langsung tempat yang menerima takjil gratis, yaitu Masjid At-Tauhid Bintaran dan Masjid Ar Ridho agar tepat sasaran. Pembagian takjil ini diikuti oleh romo, suster, Bidang Kemasyarakatan, dan panitia Paskah.
Pembagian takjil oleh Gereja Bintaran sudah menjadi kebiasaan setiap tahun ketika bulan puasa. Kegiatan pembagian takjil ini menjadi salah satu dari program tim Hak Akademik Bidang Kemasyarakatan. Gereja sendiri ingin terlibat secara langsung dengan masyarakat tanpa harus memandang latar belakang perbedaan agama, suku, bahasa, dan adat istiadat.
Romo Yohanes Triwidianto, Pr turut terlibat langsung ke tempat penerima takjil sekaligus untuk menjalin silaturahmi bersama masyarakat. “Kalau kita turut terlibat langsung, mereka juga pasti menyambut dengan baik. Kami memang sudah bekerja sama dengan pihak RT dan RW di lingkungan ini. Awalnya memang mengalami kendala, tetapi seiring berjalannya waktu, masyarakat sudah welcome. Beberapa umat Katolik di gereja ini juga cukup aktif di lingkungan masyarakat,” tuturnya.
Pada Idul Fitri tahun sebelumnya, halaman depan Gereja Bintaran pun dijadikan sebagai tempat salat bagi umat Islam. Umat Gereja Katolik Santo Yusuf, Bintaran juga turut hadir untuk menjaga keamanan, menyiapkan makanan serta minuman yang akan dihidangkan kepada umat Isalm setelah melakukan salat.
“Saya bersyukur kegiatan ini sudah menjadi kebiasaan sehingga hubungan dengan umat muslim semakin kukuh. Walaupun banyak cobaan dari luar yang ingin memecahkan persaudaraan, kita tetap menjaga kerukunan, semakin kuat. Perbedaan itu ada tetapi kita diciptakan untuk tujuan saling mengasihi, mengisi, dan melayani,” tutur Romo Triwidianto.








