Membumikan Lagu Inkulturasi Gereja

News1880 Views

Yogyakarta. Pusat Musik Liturgi (PML) sebagai lembaga yang masih concern dengan musik inkulturasi, mementaskan lagu daerah dan lagu inkulturasi dengan mengambil tajuk Gema Inkulturasi di Bumi Pertiwi pada Sabtu, 31 Mei 2025 di Auditorium Puskat Kotabaru Yogyakarta.

Acara yang terselenggara dalam rangkaian hari jadi PML ke-54 ini dilatarbelakangi sebuah keprihatinan penggunaan lagu inkulturasi yang masih kurang akrab atau kurang membumi di kalangan umat pada umumnya.

Pementasan kali ini tampak spesial karena menampilkan sajian kor anak-anak Vocalista Divina yang berjumlah empat puluh anak, asuhan Vivi Selvia Sembiring. Di samping itu juga menampilkan tiga puluh orang untuk kor dewasa Vocalista Sonora yang diampu oleh Elizabeth Twitien Sezi Colasina sebagai dirigennya, yang dalam kesehariannya sebagai pimpinan PML.

Kelompok kor menggunakan kostum bineka sebagai cerminan dari berbagai budaya di Indonesia. Iringan alternatif selain organ sebagai pengiring utama kor juga ditampilkan, yakni dengan menggunakan alat musik tradisional asli dari lagu tersebut sehingga dapat diketahui iringan dan dari mana lagu tersebut berasal. Di antara alat musik tersebut adalah gondra, gong, gendang, gamelan, gambo, kecapi, suling, rebana, bonang, kelentangan, serta kolintang.

Nukilan lagu pentas kali ini adalah Rahayu Pra Bangsa dan Numpak Prau Layar dari Jawa Tengah dengan iringan gamelan, dilanjutkan Sayang Sipatokaan serta Sayang Kane dari Minahasa dengan iringan Kolintang.

Kelompok kor menggunakan kostum bineka sebagai cerminan dari berbagai budaya di Indonesia.

Lagu Cahaya Suci dan Ya Tuhan Maha Pengampun gaya Sunda dengan iringan kecapi dan suling. Untuk lagu Marilah Umat Allah dan Nyanyian Syukur dari Camplong-Timor dengan iringan Gendang dan bonang.

Sementara lagu Agungkan Allah dari Timor dengan iringan gambo dan rebana, Tano Niha dari Nias dengan iringan gondra dan gong, Maria Kumang Benua dari Dayak dengan iringan kelentangan dan gendang, Dayung Palinggam dari Minang dengan iringan rebana. Untuk lagu Maria Bintang Pedoman serta lagu Alfa Omega dengan iringan piano sebagai lagu penutup.

Tampil pula bintang tamu pianis dari Jerman, Patrick J.D. Wijnhamer, yang mengiringi lagu inkulturasi Tano Niha dari Nias, Dayung Palinggam dari Minang, serta lagu Alfa Omega.

Disamping lagu-lagu tersebut, juga diketengahkan pembacaan puisi yang menggambarkan perjalanan panjang sejarah Pusat Musik Liturgi (PML) sejak berdiri hingga perkembangan sekarang, dengan ditimpali sajian lima penari putri sebagai latar belakang dan ilustrasi pendukung karakter dalam pembacaan puisi, yang merupakan sajian spesial dari kelompok mahasiswa Universitas Negeri (UNY) Yogyakarta.

Acara ini mendapat respons positif penonton, dengan enggannya penonton untuk meninggalkan tempat duduknya selama pertunjukan berlangsung. Kemeriahan lain juga didukung adanya doorprize yang disediakan panitia untuk para penonton yang beruntung. Acara ini disiarkan juga melalui channel YouTube PML-YK OFFICIAL.

Danan Murdyantoro 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *