Membalas Kasih Ibu Pertiwi

Salah satu keprihatinan Gereja saat ini adalah masalah lingkungan hidup. Menanggapi hal tersebut, Gereja kemudian mengeluarkan sebuah ensiklik Laudato Si’. Ensiklik Laudato Si’ merupakan ajakan bagi semua orang untuk mencintai, menjaga, dan melestarikan alam ciptaan yang kita tempati sekarang ini. Ensiklik ini dikeluarkan pada tanggal 24 Mei 2015 oleh Paus Fransiskus. Sri Paus melihat penyebab kerusakan alam merupakan ulah manusia yang terlalu berlebihan dalam mewujudkan keinginannya.

“Saudari ini sekarang menjerit karena segala kerusakan yang telah kita timpakan padanya, karena penggunaan dan penyalahgunaan kita yang tidak bertanggung jawab atas kekayaan yang telah diletakkan Allah di dalamnya. Kita berpikir bahwa kita adalah tuan dan penguasanya yang berhak untuk menjarahnya. Kekerasan yang ada dalam hati kita yang terluka oleh dosa, tercermin dalam gejala-gejala penyakit yang kita lihat pada tanah, di dalam air, di udara, dan pada semua bentuk kehidupan” (Laudato Si’ art. 2).

Betapa berartinya Santo Fransiskus Assisi menyebut bumi ini sebagai “ibu pertiwi” yang selalu memberi dan menyediakan kebutuhan manusia. Kata-kata ini baik dijadikan tolok ukur untuk melihat relasi kita dengan alam ciptaan yang ditempati ini. Apakah selama ini, kita telah membalas kasih yang diberikan oleh ibu pertiwi itu? Ataukah kita hanya menempatkannya lebih rendah dari derajat kita sehingga diperlakukan sesuka hati? Paus Fransiskus berkata, “Kejahatan terhadap alam adalah dosa terhadap diri kita sendiri dan dosa terhadap Allah.”

Saat ini, banyak fenomena alam dan kemanusiaan yang perlu mendapat perhatian dalam perjalanan hidup ke depan. Dalam lingkup geografis, kita mengalami kemarau yang berkepanjangan, polusi, banjir, tanah longsor, dan lain sebagainya. Dalam segi kehidupan sosial, kita melihat gap antara kaum borjuis dan proletar, yang kaya makin “ganas” dan yang miskin makin menderita. Peristiwa-peristiwa itulah yang menuntut Gereja untuk bertindak dan mengambil langkah yang tepat. 

Salah satu contoh kasus tentang krisis alam adalah pembuangan limbah makanan.
Menteri PPN/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Suharso Monoarfa menyebut, limbah makanan yang terbuang atau food loss and waste di Indonesia mencapai 23-48 juta ton per tahun pada periode 2000-2019. Angka ini setara 115 kg – 184 kg sampah makanan per kapita per tahun (CNN Indonesia, 9/6/2021). Tentu saja hal tersebut menimbulkan dampak yang besar bagi kemiskinan dan lingkungan hidup. Ini merupakan suatu ironi. Satu sisi, banyak makanan terbuang, di sisi lain banyak orang yang menderita kelaparan.

Saat ini kita membutuhkan pendekatan integral terhadap masalah kemiskinan sekaligus rusaknya lingkungan. Ekologi integral mempelajari hubungan antara organisme-organisme dan lingkungan tempat mereka berkembang. Ketika berbicara mengenai lingkungan, kita merujuk pada suatu relasi yang tak terpisahkan antara alam dan manusia. Kita merupakan bagian dari alam, termasuk di dalamnya, dan terjalin dengannya.

Kita hidup dalam suatu ekosistem yang saling membutuhkan. Dalam ekosistem itu, kita harus menyadari bahwa seluruh ciptaan (bukan hanya manusia) memiliki peran masing-masing dalam menciptakan keharmonisan alam. Oleh karena itu, kita pun harus menanamkan pola pikir bahwa alam merupakan ciptaan Allah yang ikut membentuk kehidupan setiap orang. Sebenarnya, kehidupan manusia sangat tergantung pada alam, tetapi banyak orang tidak menyadari hal tersebut.

Persoalan lingkungan hidup tidak dapat dipisahkan dari konteks manusia, keluarga, pekerjaan, dan hubungan setiap orang dengan dirinya sendiri. Hubungan tersebut menghasilkan cara tertentu untuk saling berinteraksi, memberi, dan memelihara antara sesama manusia dan alam semesta. Hal utama yang mau ditekankan dalam upaya mengatasi krisis ini adalah upaya yang terus-menerus antara organisme-organisme (manusia dan alam) dalam suatu ekosistem yang saling menjaga dan memperhatikan. Manusia juga berdasarkan konteks dan kemampuannya ikut melakukan sesuatu yang terus-menerus dalam pelestarian alam dan membangun pola pikir bahwa alam merupakan bagian integral dari kehidupan manusia. 

Upaya-upaya yang dapat dilakukan dalam mengatasi persoalan di atas yaitu pendidikan ekologis. Pendidikan ini tidak hanya diperoleh di sekolah, tetapi sangat memungkinkan untuk diperoleh di rumah. Sejak kecil, seorang anak mulai diperkenalkan dengan nilai-nilai cinta lingkungan. Misalnya, dilarang membuang sampah sembarangan, ditegur jika menyisakan makanan di piring, dan lain sebagainya. Dengan demikian, mulai terbentuk pola pikir yang baik untuk mencintai alam ini.

Usaha pelestarian alam membutuhkan komitmen bersama. Setiap orang perlu diingatkan dan saling mengingatkan. Dalam Gereja Katolik, seluruh umat Allah (imam, religius, awam) harus bersama-sama mengusahakan pelestarian alam dan mengurangi ketimpangan sosial. Dalam hal ini, otoritas Gereja memiliki peran penting untuk mengingatkan jemaat dan apa yang perlu dilakukan. Di pihak lain, jemaat atau umat Allah pun harus memiliki kesadaran dan komitmen dalam menanggapi seruan yang disampaikan oleh otoritas Gereja tersebut. Dengan demikian, ada langkah dan usaha yang hendak diwujudkan bersama demi suatu kondisi hidup yang lebih baik dan harmonis.

Hendrikus Ance

Ilustrasi: www.pexels.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *