Membadankan Semangat dan Teladan St. Petrus Kanisius Lewat LKTD

Papan Tulis759 Views

Pendidikan karakter adalah pendidikan budi pekerti plus yang melibatkan aspek pengetahuan (cognitive), perasaan (feeling), dan tindakan (action). Budi pekerti, watak, atau karakter adalah bulatnya jiwa manusia sebagai jiwa yang berasas hukum kebatinan.

Orang yang memiliki kecerdasan budi pekerti itu senantiasa memikir-mikirkan dan merasa-rasakan serta selalu memakai ukuran, timbangan, dan dasar-dasar yang pasti dan tetap. Budi pekerti, watak, atau karakter bermakna bersatunya gerak pikiran, perasaan, dan kehendak atau kemauan, yang menimbulkan tenaga.

“Budi” itu berarti pikiran – perasaan – kemauan, sedangkan “pekerti” itu artinya “tenaga”. Jadi, “budi pekerti” itu sifatnya jiwa manusia, mulai angan-angan hingga terjelma sebagai tenaga. Dengan “budi pekerti”, tiap-tiap manusia berdiri sebagai manusia merdeka (berpribadi), yang dapat memerintah atau menguasai diri sendiri.

LKTD untuk pengurus OSIS diharapkan mampu membentuk semangat kepemimpinan yang utuh dan tangguh.

Manusia yang beradab merupakan tujuan pendidikan. Pendidikan berkuasa untuk mengalahkan dasar-dasar jiwa manusia yang bersifat negatif. Dengan demikian, pendidikan memperhatikan keseimbangan cipta, rasa, dan karsa tidak hanya sekadar proses alih ilmu pengetahuan saja atau transfer of knowledge, tetapi sekaligus sebagai proses transformasi nilai (transformation of value).

Dengan kata lain, pendidikan adalah proses pembentukan karakter manusia agar menjadi sebenar-benarnya manusia. Pembentukan karakter peserta didik melibatkan tri pusat pendidikan, yaitu keluarga, sekolah, dan masyarakat secara sinergis.

Pengembangan karakter ini perlu memperhatikan perkembangan budaya bangsa sebagai sebuah kontinuitas menuju ke arah kesatuan kebudayaan dunia (konvergensi), dan tetap memiliki sifat kepribadian di dalam lingkungan kemanusiaan.

Penguatan Profil Pelajar Pancasila semakin terlihat jelas dalam setiap dinamika yang ada. Pembadanan karakter beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia, berkebhinekaan global, bergotong royong, mandiri, bernalar kritis, dan kreatif semakin terwujud nyata.

Manusia yang beradab merupakan tujuan pendidikan.

Pribadi utuh dan seimbang

Latihan Kepemimpinan Tingkat Dasar (LKTD) merupakan bagian dari kegiatan pembentukan kepribadian siswa seperti tertuang dalam visi SMP Kanisius Kalasan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, yakni “Sebagai Komunitas Pendidikan yang Trasformatif dan Menumbuhkan Kemerdekaan Berpikir demi Terwujudnya Sekolah yang Unggul, Peduli, dan Melayani”.

Kegiatan ini mencoba untuk membentuk siswa menjadi seorang pemimpin yang bukan hanya mau didengar tetapi juga mendengar dan melayani. Kegiatan LKTD SMP Kanisius Kalasan ini dijiwai dari semangat St. Petrus Kanisius yang selalu ingin bertumbuh lebih baik dan selalu lebih baik lagi (semangat magis). 

Ketika berbicara, seorang pemimpin (leader) yang berkepribadian mandiri, optimal, dan utuh harus memiliki keunggulan, kejujuran, kepedulian, kedisiplinan, dan kemerdekaan sehingga diharapkan akan mampu menggerakkan perubahan.

SMP Kanisius Kalasan adalah salah satu lembaga pendidikan formal yang berkonsentrasi dalam pembentukan karakter peserta didiknya memiliki tagline “Karakter Hebat Prestasi Dapat”. Melalui berbagai dinamika pembelajaran, SMP Kanisius Kalasan menyiapkan peserta didik menjadi pribadi berkarakter yang berkualitas.

Salah satu dinamika pembelajaran yang membentuk karakter adalah LKTD. LKTD menjadi salah satu formasi pembentukan karakter yang bisa mengarahkan peserta didik untuk melatih dan mengembangkan kecakapan menjadi seorang pemimpin.

Pemimpin yang dimaksud di sini adalah pemimpin untuk dirinya sendiri terlebih dahulu. Setelah bisa memimpin dirinya sendiri, barulah memimpin orang lain. Sebagai langkah awal, kegiatan LKTD bertujuan untuk membekali pengurus OSIS supaya memiliki kompetensi dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab yang ada pada dirinya dengan memberikan pengalaman menjadi pribadi yang tangguh.

Generasi muda adalah penerus tongkat estafet pembangunan negara Indonesia. Oleh karena itu, pihak sekolah bisa dikatakan sebagai fasilitator yang harus bisa memberikan pendidikan karakter yang baik bagi peserta didik.

LKTD SMP Kanisius Kalasan yang mengambil tema “Menjadi Pemimpin Tangguh” merupakan salah satu langkah dalam menyiapkan generasi muda Indonesia dengan konsep dasar memformasi peserta didik yang tergabung dalam pengurus OSIS untuk memiliki dan mempunyai semangat kepemimpinan yang bermutu, baik tangguh secara fisik, mental, maupun pikiran sehingga menjadi pribadi yang utuh. 

Pelaksanaan LKTD untuk pengurus OSIS ini diharapkan mampu membentuk semangat kepemimpinan yang utuh dan tangguh, yang dibangun berdasarkan kesadaran diri, ingenuitas, cinta kasih, dan heroisme.

Semangat kepemimpinan itu diharapkan menjadi cara hidup yang dihayati peserta didik yang tergabung dalam pengurus OSIS SMP Kanisius Kalasan secara konsisten, supaya bisa menjadi role model bagi para peserta didik lainnya.

Ketika berbicara, seorang pemimpin (leader) diharapkan akan mampu menggerakkan perubahan.

Berbagi Praktik Baik Lewat Kolaborasi

SMP Kanisius Kalasan bekerja sama dengan SMA Kolose De Britto untuk mendampingi peserta didik dalam dinamika LKTD. Kegiatan LKTD bagi pengurus OSIS ini dirumuskan dengan tema “Menjadi Pemimpin Tangguh” yang mengasah nilai-nilai dasar yang diyakini, yakni 1) Kesadaran diri, untuk mengetahui kelebihan dan kelemahan yang dimiliki; 2) Ingenuitas, dapat menggunakan kekuatan berinovasi dan beradaptasi dalam perubahan zaman; 3) Cinta kasih, untuk menjadi pemimpin yang bisa melayani; 4) Heroisme, bisa selalu membayangkan masa depan yang lebih baik dan berjuang guna mewujudkannya.

Nilai-nilai kepemimpinan ini diterjemahkan dalam proses dan dinamika seharian penuh guna membadankan arti sebuah kepemimpinan pada peserta didik.

Bentuk kegiatan selama LKTD berlangsung terdiri dari 1) Orasi: berbicara di depan umum (melatih komunikasi dan mental); 2) Peregrinasi: berjalan kaki (melatih mental dan fisik); 3) Kerja bakti: kerja dan aksi sosial (melatih kepekaan dan kepedulian); 4) Dinamika kelompok meliputi wide games sebagai sarana untuk menanamkan butir-butir kepemimpinan dan sharing kelompok sebagai sarana untuk berbagi pengalaman dan peneguhan antarpeserta; dan 5) Journaling/refleksi.

Hal ini sesuai dengan sistem pendidikan yang dikemukakan Ki Hadjar Dewantara, yaitu ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, dan tut wuru handayani sebagai wasiat luhur yang patut diterapkan dalam mengembangkan karakter peserta didik.

Pendidikan karakter harus bercorak nasional dengan menerapkan cara-cara pemberian contoh, pembiasaan, wulang-wuruk, laku, dan pengalaman lahir batin. Maka, sebagai salah satu lembaga pendidikan formal, SMP Kanisius Kalasan mengambil bagian dalam pembentukan karakter untuk mewujudkan Profil Pelajar Pancasila dan nilai-nilai Kanisius dalam setiap dinamika yang terjadi untuk membentuk generasi muda yang mampu melanjutkan tongkat estafet pembangunan bangsa.

Berdasarkan tujuan pendidikan tersebut, SMP Kanisius kalasan mencoba mendidik para siswa untuk bisa menjadi pribadi yang lepas bebas (merdeka) dengan selalu berpikir positif dan optimistis untuk tantangan-tantangan yang dihadapi meskipun dengan segala risiko yang diterima.

Mengapa? Sebab, “kebebasan tanpa tanggung jawab itu buta, sedangkan tanggung jawab tanpa kebebasan itu kosong”. Hal ini didasarkan pada ajaran St. Petrus Kanisius tentang penyerahan diri sepenuhnya kepada-Nya. 

Mengingat tidak ada pribadi yang ideal dan sempurna di dunia ini, maka mendidik siswa untuk berani serta bisa membuat keputusan akan sebuah pilihan adalah sebagai salah satu bentuk menjadi pribadi berkarakter demi kemulian-Nya yang lebih besar. 

Heffi Widyaningrum, S.Pd.Si.

Guru SMP Kanisius Kalasan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *