Memahami Cara Berpikir Anak-anak

Pelita548 Views

Setiap orang dewasa yang pernah bergaul dengan anak-anak tahu, dari pengalaman mereka yang menyakitkan, betapa tidak rasionalnya cara berpikir seorang anak. Meskipun demikian, hanya sedikit orang dewasa yang menyadari sifat dasar dan taraf ketidakrasionalan masa kanak-kanak. Lebih sedikit lagi mereka yang dapat menangani hal ini secara konstruktif sehingga dapat memperkukuh hubungan orang tua dan anak.

Anak-anak mungkin menyadari ada banyak orang lain di samping diri mereka sendiri di dunia ini, tetapi mereka tidak mau tahu bahwa kepentingan dan kebutuhan orang lain pun harus diperhatikan pula. Sejauh anak terlibat, orang-orang lain tidaklah begitu penting dan dianggap tidak lebih daripada benda-benda mati.

Waktu anak masih sangat kecil, dia bahkan tidak menyadari bahwa orang lain memiliki perasaan. Seorang bayi mungkin terkekeh-kekeh sambil menggaruk-garuk pipi ibunya hingga berdarah. Mungkin dia begitu saja menginjak muka ibunya karena dia tergesa-gesa “mengejar” mainannya sementara muka si ibu menghalangi jalannya. Ketika anak makin besar, mungkin dia tahu bahwa orang lain juga memiliki perasaan, tetapi dia belum menganggap kenyataan ini cukup penting untuk memperbaiki tingkah lakunya terhadap orang lain.

Anak yang masih sangat kecil bahkan akan berusaha menyobek surat kabar yang sedang dibaca oleh ibunya bila dia menginginkan perhatian dari si ibu. Ini menciptakan masalah-masalah yang berulang kali dialami orang tua yang memiliki lebih dari satu anak.

Tidak peduli betapapun orang tua berusaha untuk bertindak adil dalam membagi perhatian dan kasih sayangnya terhadap dua orang atau lebih anaknya, masing-masing anak akan merasa dibohongi dan marah karena dia menerima kurang dari 100%.

Pertengkaran dan perkelahian di antara sesama saudara kandung tidak dapat dihindarkan. Apalagi, bila orang tua menengahi, tidak peduli betapapun adilnya orang tua membuat keputusan, paling tidak satu di antara anak-anak itu pasti akan merasa dirugikan dan marah kepada orang tuanya.

Berikut ini contoh situasi yang mungkin cukup dapat membuat para orang tua menjadi kesal. Seorang ibu membeli dua buah bola karet yang sama untuk dua orang anaknya. Di depan mata telanjang, dan mungkin juga di bawah mikroskoр, kedua bola itu benar-benar sama. Meskipun demikian, salah seorang dari anak-anak itu akan merasa bahwa anak yang lain telah mendapat bola “yang lebih baik” dan karenanya dia menjadi kurang senang.

Tidak satu pun dari apa yang dikatakan ibunya dapat meyakinkan anak tersebut. Bahkan bila tukar-menukar dilakukan, anak yang merasa tidak puas ini akan menginginkan kembali bola yang semula dimilikinya, tidak ada jalan keluar rasional yang memadai untuk memecahkan masalah ini karena pada dasarnya anak itu merasa tidak senang, karena tidak memiliki kedua bola tersebut.

Inilah barangkali satu-satunya “jalan keluar” yang akan memuaskannya, tetapi tentu hal ini tidak mungkin, karena kebutuhan dan perasaan saudaranya pun harus dipertimbangkan juga. Namun, si anak dalam belenggu akan marah bila ada bagian dari alam lingkungannya yang diberikan kepada orang lain dan bukan kepada dirinya.

Dari kisah ini bisa disimpulkan, anak ini berpikir bahwa ibunya lebih mementingkan orang lain daripada mementingkan dirinya yang tentu membuatnya sakit hati dan kecewa. Bukan hanya itu, dia merasa dibohongi oleh ibunya sehingga dia ingin barang miliknya kembali kepada dirinya sendiri karena anak itu merasa tidak puas dengan apa yang dia lihat sendiri.

Perasaan keadilan memainkan peran penting dalam bagaimana seseorang merasakan suatu situasi, meskipun secara objektif tidak ada perbedaan yang nyata. Dalam kasus ini, meskipun kedua bola tersebut benar-benar sama secara fisik, anak yang merasa bola yang diterimanya kurang “baik” atau “tidak adil” mungkin merasa tidak puas, karena perasaan tersebut lebih dipengaruhi oleh faktor psikologis dari pada kenyataan objektif. 

Hal ini mencerminkan bagaimana keadilan subjektif dan preferensi pribadi bisa lebih kuat memengaruhi perilaku dan perasaan seseorang dari pada fakta yang ada, bahkan jika terjadi tukar-menukar, anak tersebut tetap merasa bahwa bola yang dimilikinya sebelumnya adalah yang terbaik bagi dirinya, menunjukkan adanya efek kepemilikan (endowment effect) yang membuat seseorang lebih menghargai barang yang dimilikinya. 

Dengan kata lain, ketidakadilan dan keinginan untuk memiliki sesuatu yang dirasa lebih bernilai dapat memengaruhi keputusan dan perasaan, meskipun dalam kenyataannya tidak ada perbedaan yang signifikan antara kedua benda tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *