Seminggu setelah memastikan bahwa program live-in akan dilaksanakan, Putri mulai gelisah. Apa yang akan dilakukan, bagaimana tempat yang akan ditinggali, apa yang akan dibawa dan banyak lagi pertanyaan yang selalu timbul menjelang tidur.
Bu Cintya, ibunda Yola, tak kalah resah. Tidak bertemu anak perempuannya tiga hari, apa yang akan terjadi, apa yang akan dimakan, bagaimana tidurnya, apakah aman, dan pertanyaan-pertanyaan lain yang tidak habis muncul silih berganti.
Live-in yang diselenggarakan mulai Rabu, 19 November 2025 sampai Jumat, 21 November 2025 di Paroki Boro, Kalibawang, Kulonprogo, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) memang merupakan agenda rutin yang diselenggarakan SMP Stella Duce 1 Yogyakarta.

Bagi siswa dan orang tua yang baru pertama kali mengalami proses live-in ini, tentu bukan perkara yang mudah untuk sebuah perpisahan, walau sesaat. Hanya tiga hari, dua malam. Bagi orang dewasa, lokasi yang digunakan memang bukan lokasi yang sangat sulit, tetapi perpisahan merupakan kekhawatiran yang tak pelak harus diretas dengan keikhlasan.
Live-in, mau tidak mau merupakan pembelajaran yang tak mungkin terlupakan. Mozaik yang tertempel permanen di setiap siswa kelas 8. Sampai akhir nanti. Tak hanya siswa, live-in juga merupakan pengalaman yang bisa jadi menorehkan rasa sakit bagi orang tua yang ditinggal.
Bukan hanya siswa yang merasa tidak biasa, tetapi orang tua juga akan mengalami rasa kekosongan yang tidak biasa. Aktivitas riuh yang biasanya ada di rumah mendadak hening karena tak ada remaja yang penuh keluhan, keusilan, dan rengekan yang sepanjang hari terdengar.
Sementara, di belahan kehidupan lain, sebuah keluarga menambah kegaduhan dengan hadirnya 2-3 siswa yang belajar tentang hidup di rumahnya. Desa Boro mendadak riuh oleh kehadiran 169 siswa. Terbagi di enam dusun yang menjadi tujuan “belajar” para siswa.
“Saya tidak pernah memegang arit, karena memang di rumah tidak punya. Pertama memegang memang takut, tapi harus cari rumput untuk pakan kambing. Meski takut, tapi tetap saya gunakan. Dapat rumput dua ember. Lumayan….”

Memberi pakan ternak, ngarit, merupakan pengalaman pertama bagi Cinta. Tidak pernah terbayang oleh Cinta, jika memelihara ternak membutuhkan konsekuensi yang sangat melelahkan.
“Hebat, ya, sudah pakai traktor mbajak sawahnya. Aku takut kecebuuurrrr….”
Tidak semua anak memiliki kesempatan membajak sawah dengan traktor yang dimiliki induk semang. Namun, Liona dan Jona memiliki kesempatan luar biasa ini. Pak Martin, pemilik sawah dan juga induk semang mereka, memberikan izin Liona dan Jona untuk membajak sawah.
Membuat lemper merupakan aktivitas di salah satu dusun yang diikuti oleh kurang lebih 20 siswa. Menurut guru pendamping, para siswa sangat antusias saat belajar membuat lemper.
Lemper yang biasanya tersaji begitu saja di meja, saat live-in mereka merasakan bagaimana cara membuatnya. Ternyata rumit. Hal ini memberikan pemahaman bila segala sesuatu yang disajikan selalu melalui proses yang panjang, bahkan rumit.
Live-in merupakan sarana belajar senyatanya sangat menguji pengetahuan teoretis dan kemampuan adaptasi yang baik. Daya juang yang tinggi, pengetahuan tentang norma dan kesehatan, menjadi kombinasi yang wajib dimiliki oleh setiap pribadi.
Imelda Wiwit












