Pondok Pesantren Al-Mizan yang berada di Majalengka, Jawa Barat adalah satu dari banyak pesantren yang terbuka untuk digunakan sebagai tempat belajar budaya bersama oleh sekolah-sekolah Katolik yang berada di Jakarta.
K.H. DR. Maman Imanulhaq, M.M. salah seorang pembina Pondok Pesantren Al-Mizan, yang juga anggota DPR RI 2024 – 2029 dan duduk di Komisi VIII yang membidangi agama, sosial, pemberdayaan perempuan, dan perlindungan anak sangat menyambut baik apabila pondok pesantren asuhannya dijadikan tempat studi ekskursi bersama sekolah-sekolah Katolik untuk saling belajar, berbagi pengalaman dan mendiskusikan masa depan budaya bangsa secara bersama-sama.
Oleh sebab itu, ketika SMA Kolese Gonzaga Jakarta Selatan mengajukan permohonan untuk mengadakan studi budaya antara para santri Al-Mizan bersama siswa-siswi Gonzaga kelas XII, permohonan itu segera direspons dan diterima dengan sukacita. Kampus pondok pesantren yang cukup luas itu akhirnya bisa menampung hampir 300 siswa-siswi dan guru pada 16 – 17 September 2025 yang lalu.
Kang Maman, demikian panggilan akrabnya, bersama staf pimpinan pondok dan para santri bersedia menerima dan memfasilitasi Kolese Gonzaga untuk belajar budaya bersama yang tidak terhenti hanya pada tataran teoretis belaka, tetapi juga pada praksis kehidupan.
Kesibukan sebagai anggota parlemen maupun tugas partai bukan menjadi penghalang bagi Kang Maman untuk hadir dalam studi ekskursi ini sebagai narasumber utama. Tugas dan pekerjaan parlemen telah diselesaikan sebelum menerima Kolese Gonzaga selama di pondok.
Bagi Kang Maman, menyerap aspirasi, berbagi informasi, dan membuat diri lebih dekat dengan masyarakat, meski bukan rakyat daerah pemilihannya, memiliki arti penting sebagai wakil rakyat, di samping semangat yang selalu menyala yang menjadi panggilan jiwanya dalam praksis keseharian sebagai anggota parlemen sehingga menemani guru dan siswa SMA Kolese Gonzaga menjadi pilihan kegiatan tanpa meninggalkan tugas utama di Senayan,
Ketika ada demonstrasi massa pada akhir Agustus 2025 yang ditujukan ke DPR dan sebagian masyarakat menyorot kinerja dan penghasilan yang didapat dari anggota dewan, Kang Maman tidak terlalu merisaukannya. Mengapa? Karena berapa pun penghasilan yang diperoleh dari uang rakyat juga akan dikembalikan kepada rakyat.
Dikisahkannya, penghasilan sebagai anggota dewan telah diserahkan ke pengurus Yayasan Al-Mizan yang seterusnya digunakan untuk mencukupi keperluan yayasan yang hampir seluruh kegiatannya untuk pengembangan dan pendidikan santri, masyarakat, dan alam lingkungan pondok.
Keteguhan komunitas Al-Mizan akan eksistensi Pancasila dan NKRI yang menjadi semangat dalam kehidupan keseharian pondok pesantren rasanya tidak diragukan lagi. Lagu Indonesia Raya selalu berkumandang untuk mengawali suatu pertemuan. Penyadaran akan keberagaman seakan menjadi napas kebersamaan.
Pondok pesantren memberikan kesempatan para tamu untuk berdoa secara kolegial menurut agama yang sebagian besar menjadi agama anggota komunitas tamu sehingga ketika Kolese Gonzaga berdoa secara Katolik, para santri juga khusyuk mendengarkannya dan bahkan ikut “menerima berkat” dari romo yang memberikan berkat.
Kemiripan pembinaan siswa seperti olah batin (discernment), melakukan refleksi (examen/eksamen) yang dilakukan di kolese Jesuit, rupanya juga biasa dilakukan untuk pembinaan santri Al-Mizan. Para santri tidak begitu asing dengan kegiatan discernment, examen, maupun kegiatan olah batin lainnya.
Suatu pagi para santri dan siswa Gonzaga diajak membuat eksamen secara bersama-sama di lapangan bola. Kang Maman mengajak siswa dan santri untuk terus mengasah mata batin ketika akan membuat keputusan, apalagi keputusan yang akan dibuat adalah keputusan yang bisa berdampak pada banyak orang. Setelah selesai melakukan eksamen, siswa dan santri pun diajaknya membuat evaluasi, seperti layaknya pendidikan Ignasian.

Mendampingi ratusan siswa Gonzaga yang semuanya adalah siswa kelas XII yang menyatu dengan para santri yang sebagian besar adalah kelas XI, kelas X, atau bahkan pelajar Tsanawiyah/SMP memberikan kesan yang mendalam bahwa para santri memiliki kepercayaan diri dalam diskusi meski lawan bicaranya lebih senior.
Di sisi lain, santri juga bisa menghargai siapa pun yang diajak bicara, termasuk mereka, kelompok yang dianggap minoritas dalam hal suku, ras, dan agama, sehingga semua siswa merasakan ada kesetaraan tanpa ada rasa diferensiasi.
Rm. Eduardus C. Ratu Dopo, SJ selaku Kepala SMA Kolese Gonzaga memilih Pondok Pesantren Al-Mizan sebagai tempat studi ekskursi karena pondok pesantren ini dinilai memiliki komitmen kebangsaan yang sudah teruji.
Al-Mizan terus berdiri paling depan dalam merawat dan menjaga kebhinekaan sehingga apa yang sudah dilakukan di Kolese Gonzaga tentang keberagaman semakin mendapat peneguhan dan dukungan dari banyak pihak.
Tidak berlebihan apabila bangsa ini berharap kepada para santri dan pondok pesantrennya bersama siswa dan sekolah umum di negeri ini untuk terus menjaga keutuhan bangsa dengan cara terus saling berbagi tentang budaya kebangsaan yang ditanamkan dan dikembangkan di sekolah masing-masing.
Kemiripan budaya pendampingan pada santri nahdliyin dan pendidikan di kolese Jesuit tentang pluralisme dan kebangsaan bisa dikembangkan di lebih banyak sekolah di seantero negeri.
Pada acara ekspresi seni budaya malam hari, Kang Maman dan para santri mempersembahkan alunan lagu-lagu kekinian maupun lagu daerah dan tarian. Sedangkan Rm. Edu dan siswa Gonzaga, yang mewakili masyarakat perkotaan, menghadirkan lagu-lagu berbagai genre. Hal ini menegaskan bahwa musik adalah bahasa cinta universal yang bisa diterima oleh siapa saja tanpa membedakan. Bersyukur karena Al-Mizan memberikan ruang bagi para santri untuk mengumandangkan dan mengembangkan suara sebagai anugerah dan talenta dari Tuhan.
Dalam upaya merawat lingkungan, Ponpes Al-Mizan Majalengka mengembangkan pondok pesantren ekologis yang letaknya tidak begitu jauh dari kampus utama. Sejalan dengan ensiklik kepausan Laudato Si’ untuk menjaga bahwa bumi menjadi rumah tinggal bersama yang harus terus menerus dirawat, ponpes ekologis mengajarkan dan mempraktikkan bagaimana merawat bumi agar bisa nyaman untuk dihuni bersama.
Salah satu upaya untuk itu, Kolese Gonzaga menyumbangkan dan menanam 30 pohon tanaman keras dengan berbagai variasi di kampus Al-Mizan Jatiwangi.
Al-Mizan, kata dari bahasa Arab yang memiliki arti timbangan, bisa dimaknai sebagai bentuk keadilan yang tengah dicontohkan ataupun sedang diperjuangkan di tengah masyarakat oleh Pondok Pesantren Al-Mizan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Apa yang telah menjadi praksis kehidupan bersama telah memberikan rasa keadilan bagi umat manusia, masyarakat, dan lingkungan.
Satu hari bersama santri Al-Mizan memang belum cukup untuk mengatakan banyak hal tentang pendidikan di Ponpes Al-Mizan Majalengka. Akan tetapi, dengan menyaksikan kehidupan keseharian para santri lebih dekat, tidak berlebihan untuk mengatakan bahwa SMA Kolese Gonzaga bisa belajar keadilan dari Al-Mizan.
Albertus Bambang Utomo Guru SMA Kolese Gonzaga Jakarta














