Kebahagiaan dari Allah Bukan Janji Kosong

Pelita500 Views

Semua manusia ingin bahagia. Proses dan perjuangan mencari kebahagiaan ini adalah primal force yang mendorong seluruh upaya hidup kita. Namun, di sini kita tiba di persimpangan jalan yang dilematis.

Realitasnya kita semua berupaya mencari kebahagiaan, tetapi lebih sering berjumpa dengan rasa sakit, kekecewaan, dan penderitaan. Memperjuangkan cinta yang bertepuk sebelah tangan, berusaha setia dalam perkawinan yang sulit, bekerja dalam lingkungan perusahaan yang toxic, dan lain sebagainya.

Jika kita ditanya, “Kenapa masih bertahan?” mungkin secara sederhana kita bisa menjawab, “Mau bagaimana lagi?” Berbagai tanggung jawab atau ketakutanlah yang kadang menjadikan hidup dewasa kita semakin “jauh” dari kata bahagia.

Namun, ini tentu tidak benar, karena premis pertama di atas: manusia ingin bahagia dan hidup untuk bahagia. Oleh karena itu, semua tindakan kita terarah pada perolehan kebahagiaan, dalam bentuk yang paling aneh dan kacau sekali pun.

Kembali ke persimpangan jalan tadi, kita pun ditawari janji kebahagiaan oleh Tuhan kita Yesus Kristus. Namun, rasanya bentuknya lebih aneh lagi!

Dalam khotbah-Nya di bukit, Yesus menyampaikan Delapan Sabda Bahagia. Namun, ini sangat sulit untuk dipahami, apalagi dihidupi. Bagaimana mungkin saya hidup bahagia ketika saya tidak punya apa-apa?

Dia pun menjanjikan kebahagiaan untuk orang lemah lembut, pembawa damai, serta rela dianiaya karena Dia. Namun, nyatanya dunia tidak sebaik itu! Hidup sesuai anjuran Yesus pada esensinya melawan arus dunia, dan ini sangat berat, bahkan kadang-kadang terasa mustahil.

Logikanya, sesuai dengan harapan dan tawaran dunia saja hidup ini sudah berat, apalagi melawan arus? Mari kita dalami maksud dan ajakan Yesus ini.

Pertama-tama, kita harus membuat pembedaan antara kebahagiaan dan kesenangan. Kesenangan bersifat sementara dan mudah diraih, sebaliknya, kebahagiaan bersifat lebih bertahan lama dan lebih sulit dicapai.

Kita senang ketika mendapatkan nilai yang baik, tetapi kita baru bahagia ketika mendengar ungkapan kebanggaan dari orang tua kita. Perbedaan kedua hal ini amat tipis sehingga terkadang makna sejati kebahagiaan menjadi kabur.

St. Thomas Aquinas menuliskan: “Semua orang ingin bahagia, tetapi tidak semua orang mencari kebahagiaan yang benar.” Kebahagiaan yang benar adalah kebahagiaan yang bertahan selamanya dan sungguh memenuhi seluruh hasrat kita sehingga tidak tersisa lagi apa pun untuk diinginkan.

Dari pengertian di atas itu, makna “berbahagialah orang yang miskin” berarti kebahagiaan tidak terletak pada pencarian kekayaan yang tanpa henti, mereka yang berani melepaskan adalah mereka yang dapat menerima sepenuhnya.

“Berbahagialah orang yang berdukacita” berarti hidup ini bukan hanya untuk bersenang-senang tiada henti, sekaligus pengingat bahwa mengikuti Yesus berarti berani memanggul salib dan menyangkal diri sendiri.

“Berbahagialah orang yang lemah lembut, … lapar dan haus akan kebenaran, … murah dan suci hatinya, … membawa damai, … dianiaya oleh sebab kebenaran” adalah berbagai keutamaan yang menjadi panduan kita menjalani hidup sebagai murid Yesus. Panggilan hidup ini dilihat sebagai penderitaan oleh dunia, tetapi Yesus menunjukkan ada makna mendalam di balik “penderitaan” itu.

Janji Yesus atas kebahagiaan ini bukanlah janji kosong, karena Dia memang tidak menjanjikan “perasaan” tetapi “persekutuan”. Kebahagiaan yang sejati bukan soal suasana hati, tetapi persatuan dengan Allah Sang Kebahagiaan itu sendiri. Kendati ini memang baru tercapai di kehidupan mendatang tetapi dalam hidup di dunia kita sudah bisa menemukan benih-benihnya, khususnya ketika kita berani mengasihi meski dibenci, mengampuni meski rasanya pedih, dan tetap setia meski tidak dihargai.

Kita dipanggil untuk percaya bahwa setiap kebaikan yang tetap dilakukan di tengah kekecewaan, setiap air mata yang tidak sia-sia—semuanya adalah bagian dari jalan bahagia yang dijanjikan Yesus. Dunia mungkin menyebutnya bodoh, tetapi di mata Allah, itu adalah langkah menuju kepenuhan.

Kebahagiaan sejati bukanlah keadaan tanpa penderitaan, melainkan hati yang tidak kehilangan kasih di tengah penderitaan. Maka, kekuatan dan pendorong utama kita adalah keyakinan bahwa Yesus mencintai kita secara mendalam dan terus menyertai dalam segala perjuangan kita.

Wilbert Evensus

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *