Malang. Selasa, 4 Juni 2024, pada malam menjelang jenazah alm. Martinus Dwianto Setyawan diperabukan, keluarga menggelar Misa malam kembang yang dipimpin Rm. G.P. Sindhunata, SJ dan Rm. Nikolas Kristiyanto, SJ dari Kolese St. Ignatius (Kolsani) Yogyakarta di Gedung Persemayaman Jenazah Yayasan Gotong Royong, Malang.
Rm. Sindhu menyatakan ada banyak kenangan akan Dwianto. Salah satunya datang dari perjumpaan Rm. Sindhu dengan Rm. Y.B. Mangunwijaya, Pr di ruang tunggu Bandara Adisutjipto Yogyakarta ketika akan sama-sama terbang ke Jakarta untuk menghadiri pertemuan sastra yang diselenggarakan Lembaga Indonesia Prancis.

Rm. Mangun tiba-tiba mengatakan, “Romo ‘kan adiknya Mas Dwianto Setyawan. Saya iri pada Mas Dwi. Saya mempunyai mimpi untuk menulis cerita anak-anak.”
Rm. Sindhu terkejut, karena Rm. Mangun yang mendapatkan hadiah sastra dari buku-buku karyanya yang sangat elok, mengapa iri terhadap seorang pengarang cerita anak-anak bernama Dwianto Setyawan.
Rm. Mangun menyatakan, pendidikan sangat perlu dan hanya bisa dimulai pada masa anak-anak, setelah itu semuanya terlambat. Oleh karena itu, Rm. Mangun mendirikan sekolah yang sekarang dikenal sebagai Dinamika Edukasi Dasar di Yogyakarta.
“Inspirasinya justru dari anak-anak. Untuk itu, anak-anak harus dibangkitkan fantasinya lewat cerita. Dia, Rm. Mangun, tidak mampu. Mungkin, keiriannya terhadap Mas Dwi tidak akan terjadi walaupun dia seorang pengarang, intelektual, dan budayawan,” ungkap Rm. Sindhu.

Rm. Sindhu menyampaikan, betapa bakat yang dimiliki Dwianto harus dihargai karena telah melahirkan banyak cerita sastra anak yang sampai sekarang terus dikenang. Ada lebih dari 80 buku anak-anak yang ditulis Dwianto selama masa produktifnya.
Selanjutnya, Rm. Sindhu menceritakan salah satu pengorbanan Dwianto kepada Aris, putra tunggalnya. Beberapa tahun lalu, ketika Aris menderita sakit ginjal, dengan segala cara Dwianto mengusahakan supaya Aris bisa hidup dengan sehat, baik secara finansial maupun spiritual.
Sebenarnya Aris akan mendapat donor ginjal, tetapi akhirnya tidak bisa. Di ujung jalan buntu, Dwianto menyerahkan ginjalnya sendiri kepada anaknya. “Aris pun sehat. Tidak ada hal yang menakutkan karena semua berjalan lancar. Ginjal Aris beres dan bagus. Namun, tiba-tiba Aris meninggal dunia karena serangan jantung,” tutur Rm. Sindhu.

Pengorbanan ini seakan sia-sia. Seorang ayah memberikan ginjalnya kepada anak satu-satunya, tetapi anak itu akhirnya meninggal. “Ini saya kira sebuah kedukaan yang mendalam, tetapi kita mesti rela karena kedukaan ini tidak mudah. Sungguh, rencana Allah ini tak bisa dipikirkan oleh manusia. Saya pun tidak mengerti mengapa hal ini harus terjadi,” renung Rm. Sindhu.












