Ketika Anak Menjadi Pelatih Algoritmanya Sendiri

Pelita132 Views

Ada satu hal yang semakin sulit dilakukan orang tua sekarang, yakni memastikan anak tidak melihat sesuatu yang belum waktunya mereka lihat. Dulu, orang tua masih bisa mengontrol majalah apa yang dibeli, film apa yang ditonton, atau teman bermain dengan siapa anak bergaul.

Sekarang, sebuah ponsel dapat membuka dunia dalam hitungan detik. Anak tidak perlu mencarinya. Kadang, justru konten itu yang datang sendiri.

UNICEF mencatat 99,4 persen anak di Indonesia telah menggunakan internet, dengan rata-rata penggunaan 5,4 jam sehari. Dalam kajian yang sama, 50,3 persen anak pernah melihat gambar seksual di media sosial dan 42 persen pernah mengalami sesuatu di internet yang membuat mereka tidak nyaman atau takut. Yang lebih mengkhawatirkan, hanya 37,5 persen yang pernah mendapatkan informasi mengenai cara menjaga keamanan ketika berada di dunia daring.

Internet tidak menciptakan kesombongan, iri hati, hawa nafsu, kerakusan, kemarahan, ketamakan, dan kemalasan. Tujuh dosa besar itu sudah ada jauh sebelum internet. Tetapi dunia digital memberi semua itu panggung yang luar biasa besar.

Kesombongan bisa menjadi flexing. Iri hati tumbuh dari melihat kehidupan orang lain yang tampaknya selalu lebih indah. Kemarahan bisa berubah menjadi rage bait. Hawa nafsu menjadi komoditas visual. Kemalasan menemukan bentuknya dalam endless scrolling.

Mengapa konten semacam itu begitu mudah ditemukan? Salah satu jawabannya sederhana: konten yang membuat manusia bereaksi cenderung mudah mendapatkan perhatian. Algoritma tidak perlu membenci manusia untuk menghasilkan masalah. Ia hanya perlu bekerja sesuai tujuan yang diberikan kepadanya: menemukan apa yang kemungkinan besar akan membuat kita terus melihat, mengklik, berkomentar, atau kembali lagi.

Di sinilah hubungan kita dengan algoritma menjadi menarik. Kita sering merasa algoritma yang menentukan apa yang kita lihat. Padahal kita pun terus-menerus memberikan data kepadanya. Kita menonton. Algoritma belajar. Kita menyukai. Algoritma belajar. Kita berhenti lebih lama pada sebuah video. Algoritma belajar. Kemudian, ia memberikan video yang mirip. Kita menonton lagi. Kita menggunakan algoritma, tetapi pada saat yang sama kita juga melatihnya.

Hal ini menjadi lebih serius ketika yang dilatih itu adalah anak dan remaja. Otak mereka masih berkembang. Masa remaja ditandai dengan sensitivitas yang relatif tinggi terhadap reward, sementara sistem pengendalian diri yang berkaitan dengan korteks prefrontal masih mengalami perkembangan. Karena itu, bukan berarti remaja tidak mampu berpikir, melainkan proses mengambil keputusan dan mengendalikan dorongan masih terus dibentuk.

Dalam psikologi belajar dikenal konsep reinforcement: perilaku yang mendapat ganjaran lebih mungkin diulangi. Dalam dunia digital, ganjarannya bisa sangat kecil—sebuah video lucu, komentar yang membuat senang, kejutan pada video berikutnya—tetapi terus datang.

Bayangkan kebiasaan sederhana: bosan, buka ponsel. Marah, cari konten yang membenarkan kemarahan. Ingin diakui, unggah sesuatu. Kesepian, scrolling. Tidak ada satu tindakan yang secara otomatis “merusak otak”. Klaim seperti itu terlalu mudah. Yang perlu diperhatikan adalah pengulangannya. Apa yang dilakukan seseorang berulang-ulang akan ikut membentuk kebiasaannya.

Karena itu, saya merasa perdebatan mengenai anak dan internet sering berhenti terlalu cepat pada soal sensor. Blokir situs tertentu? Perlu. Batasi usia? Perlu. Awasi penggunaan internet? Perlu. Tetapi kita tahu batas itu tidak pernah sempurna. Konten dapat pindah platform.

Akun baru dapat dibuat. Anak tumbuh. Pengawasan orang tua berkurang. Pada akhirnya akan tiba saat seorang anak berhadapan dengan internet tanpa pagar yang dibuat orang lain. Apa yang akan terjadi saat itu? Menurut saya, pendidikan harus menyiapkan jawabannya.

Anak tidak cukup diajari mengatakan, “Ini dilarang.” Mereka perlu belajar mengatakan, “Mengapa saya tertarik pada ini?” Mengapa saya terus melihat video semacam ini? Mengapa saya merasa harus mengetahui kelanjutannya? Mengapa saya semakin marah setelah menonton konten tertentu? Apakah saya benar-benar ingin melihat lebih banyak hal seperti ini?

Satu pertanyaan yang sering tidak kita ajarkan: apa yang sedang saya ajarkan kepada algoritma tentang diri saya? Literasi digital seharusnya sampai ke tahap ini. Anak perlu memahami bahwa like, follow, pencarian, durasi menonton, bahkan keputusan untuk terus berhenti pada sebuah konten, ikut membentuk apa yang akan ditawarkan kepadanya berikutnya. Maka unfollow, mute, block, dan not interested bukan sekadar tombol. Itu bisa menjadi latihan mengambil keputusan.

Kalau seorang anak belajar berhenti memberi perhatian kepada sesuatu yang sebenarnya ia tahu tidak baik baginya, ia sedang belajar lebih dari sekadar menggunakan aplikasi. Ia sedang belajar mengatur dirinya sendiri.

Saya tidak sedang mengatakan bahwa semua tanggung jawab harus diberikan kepada anak. Sama sekali tidak. Platform tetap harus bertanggung jawab. Negara tetap perlu membuat aturan. Orang tua tetap perlu menjaga. Anak tidak boleh dibiarkan sendirian menghadapi industri yang jauh lebih besar dan lebih canggih daripada dirinya. Tetapi perlindungan yang hanya bergantung pada pagar akan selalu memiliki kelemahan: suatu hari anak akan keluar dari pagar itu.

Karena itu, mungkin tujuan akhirnya bukan membuat anak hidup di internet yang steril dari hal buruk. Itu hampir mustahil. Tujuannya adalah membuat mereka cukup terlatih untuk menghadapi hal buruk tanpa otomatis menyerahkan perhatian kepadanya. Sebab, kita tidak selalu dapat menentukan apa yang muncul di layar seorang anak. Tetapi kita masih dapat mengajarkan menentukan apa yang layak diberi tempat di dalam pikirannya.

Ada ironi kecil di sini. Kita takut algoritma membentuk generasi muda. Ketakutan itu masuk akal. Namun, algoritma juga sedang menunggu instruksi dari penggunanya. Barangkali pertanyaan yang lebih penting bukan hanya, “Apa yang algoritma lakukan terhadap anak?” melainkan: “Anak seperti apa yang sedang kita bentuk ketika kita mengajarkan memilih apa yang algoritma pelajari tentang dirinya?”

Pada zaman ketika hampir semua hal bisa muncul di depan mata, kemampuan untuk berkata “tidak” mungkin justru menjadi salah satu bentuk pendidikan yang paling penting.

Philipus Indra Pratam Paramasatya 
Siswa Seminari Menengah Santo Petrus Canisius Mertoyudan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *