Sleman. Para siswa dari berbagai sekolah di Indonesia, Filipina, Thailand, Kamboja, Vietnam, Macau, hingga Tiongkok berkumpul di Yogyakarta untuk mengikuti program pertukaran budaya dan aksi sosial.
Mereka datang mengikuti acara De Britto International Youth Camp (DIYC) 2024 dengan mengusung tema “Holding Hand On Care for Our Common Home” pada Kamis-Senin, 25-29 April 2024.

Kegiatan yang diselenggarakan SMA Kolese De Britto Yogyakarta ini bertempat di kompleks SMA Kolese De Britto Yogyakarta dan Laboratorium Alam SMA Kolese De Britto, serta beberapa lokasi wisata budaya edukatif di Yogyakarta, antara lain Kebun Binatang Gembira Loka, Keraton Kesultanan Yogyakarta, dan Candi Prambanan.
H.J. Sriyanto dari Tim Humas DIYC 2024 menyatakan, melalui kegiatan bertaraf internasional ini, SMA Kolese De Britto berupaya memfasilitasi pertemuan antara kaum muda dari berbagai negara untuk bertemu, mengembangkan rasa saling menghormati, memahami, sekaligus membangun jaringan global.
Tema “Holding Hand On Care for Our Common Home” mengajak para peserta untuk berbagi keprihatinan, memperdalam pemahaman tentang upaya-upaya merawat bumi rumah kita bersama, serta berjalan bersama dengan mereka yang rentan dan terpinggirkan. Selain itu, SMA Kolese De Britto ingin mengenalkan budaya Indonesia kepada warga negara global.
“Melalui serangkaian kegiatan yang dirancang dengan menarik dan menyenangkan serta edukatif, SMA Kolese De Britto berharap dapat menginspirasi kolaborasi positif yang menciptakan dampak nyata dalam menjaga dan merawat bumi kita, serta meningkatkan kesadaran akan pentingnya kepedulian terhadap sesama manusia,” jelas Sriyanto.

Selama kegiatan berlangsung, para peserta akan mengikuti berbagai kegiatan, seperti sharing dan diskusi untuk saling berbagi pengalaman dan harapan mereka terkait dengan isu-isu lingkungan, budaya, dan sosial di negara masing-masing; imersi lapangan dengan mengunjungi berbagai tempat di Yogyakarta untuk mempelajari praktik-praktik pelestarian lingkungan, budaya, dan sosial yang dilakukan masyarakat setempat; serta merumuskan aksi dengan cara bekerja sama merumuskan aksi nyata yang dapat mereka lakukan untuk berkontribusi dalam pelestarian lingkungan, budaya, dan sosial di negara masing-masing.
Rangkaian acara dilaksanakan selama lima hari dengan fokus tema masing-masing. “To Know and To Mingle” adalah tema di hari pertama yang berfokus kepada pengenalan dan adaptasi para peserta DIYC. Pada hari pertama ini peserta juga akan mengenal dan belajar bahasa Indonesia.
Hari kedua dan ketiga yang bertemakan “To Listen & To Find” diisi dengan serangkaian kegiatan di berbagai tempat. Bertempat di Kebun Binatang Gembira Loka, peserta akan berdiskusi tentang persoalan konservasi lingkungan dan praktik pengelolaan sampah.
Selain itu, peserta akan dikenalkan dengan batik sekaligus praktik membatik di Giriloyo, Imogiri, Kabupaten Bantul. Mereka juga akan beraktivitas bersama anak-anak di Pingit dan Bong Suwung, Kota Yogyakarta. Melalui serangkaian kegiatan tersebut diharapkan peserta mampu menemukan dan membangun kesadaran sosial dan ekologis.
Hari Keempat bertemakan “To Reflect” sebagai kegiatan akhir para peserta di luar kompleks SMA Kolese De Britto. Para peserta diajak untuk berkunjung dan berdialog bersama perwakilan keluarga Keraton Yogyakarta dilanjutkan kunjungan ke situs Candi Prambanan. Hari kelima, hari terakhir dan perpisahan dengan tema “To Rejoice” akan dilaksanakan di Laboratorium Alam SMA Kolese De Britto.
Melalui aktivitas-aktivitas tersebut, para peserta diharapkan dapat meningkatkan pemahaman terkait kepedulian mereka terhadap isu-isu lingkungan, budaya, dan sosial di negara masing-masing. Sebab, kegiatan ini menjadi wadah para siswa untuk belajar dan bertukar ide mengenai permasalahan di negara masing-masing. Hasil aksi yang mereka dapatkan setelah kegiatan ini berlanjut sampai puncaknya, yakni September 2024 setelah kembali ke negara masing-masing. Para siswa akan kembali berkumpul secara online untuk membandingkan aksi yang telah mereka lakukan.

“Puncak dari acara ini justru memang lebih ke berkomitmen untuk membuat aksi yang bisa membawa kebaikan lebih baik,” ujar Paulina Rian Kunti Kusuma Dewi, salah satu panitia De Britto International Youth Camp.
“Dengan adanya De Britto International Youth Camp diharapkan para peserta memiliki semangat pembaruan yang menggelora untuk terus memperjuangkan perubahan positif bagi dunia. SMA Kolese De Britto percaya bahwa melalui kolaborasi dan kerja sama, kita dapat menciptakan perubahan yang berarti dalam masyarakat global,” imbuh Sriyanto memungkasi.













