Apakah keindahan selalu identik dengan sesuatu yang rapi, harmonis, dan sempurna? Lalu, adakah tempat bagi dosa, luka, keburukan, dan ketidaksempurnaan dalam pengalaman estetis dan kehidupan beriman?
Dalam tulisan “Karl Rosenkranz: Dosa dan Jelek Itu Estetis”, Yohanes Deo Yudistiro, SJ mengajak pembaca mengenal pemikiran Karl Rosenkranz, filsuf Jerman yang menggugat pandangan estetika klasik yang hanya berpusat pada keindahan. Baginya, estetika yang menyingkirkan kejelekan justru gagal menggambarkan kehidupan manusia secara utuh.
Melalui karyanya The Aesthetics of Ugliness, Rosenkranz menunjukkan bahwa kejelekan bukan sekadar kekacauan yang harus dibuang. Dalam seni, keburukan dapat diolah melalui satir, komedi, dan parodi untuk membongkar kepalsuan, menyingkap kebusukan sosial, serta membantu manusia melihat kenyataan secara lebih jujur.
Pemikiran tersebut kemudian dipertemukan dengan seruanO felix culpa (O Dosa yang Menguntungkan) dalam tradisi Gereja. Dosa memang tidak dibenarkan, tetapi Allah dapat bekerja di tengah sejarah manusia yang retak. Kejelekan tidak selalu menjadi akhir cerita, sebab dalam terang rahmat, luka dan kehancuran pun dapat ditransformasikan menjadi jalan menuju penebusan.
Tulisan ini mengajak kita menyadari bahwa iman dan seni tidak harus melarikan diri dari kenyataan yang kelam. Justru dengan berani menatap dosa, penderitaan, dan ketidaksempurnaan, kita dapat menemukan harapan serta karya keselamatan Allah yang hadir di dalamnya.
Temukan refleksi selengkapnya dalam Majalah ROHANI Edisi Juli 2026 dengan tema:
Sahabat dalam Tuhan
📬 Pemesanan dan langganan:
Anang Pramuriyanto
📱 0812-2522-5423
Felix Kris
📱 0895-4139-26111
Majalah tersedia dalam edisi cetak dan digital. Harga edisi cetak Rp20.000,00, belum termasuk ongkos kirim.
🕊️ Mari bagikan informasi ini kepada keluarga, sahabat, komunitas, dan siapa pun yang ingin memperluas wawasan iman serta menemukan karya Tuhan di tengah keindahan maupun kerapuhan hidup.
Selamat membaca. Tuhan memberkati!
Felix Kris Alfian













