Jembatan yang Baik di “Rimba” Kesehatan

Pengambilan Janji Jabatan dan Pelantikan Direktur Rumah Sakit Santa Elisabeth

News1700 Views

Bantul. Awal tahun 2024, Rumah Sakit (RS) Santa Elisabeth Ganjuran, Bantul, D.I. Yogyakarta dipimpin oleh direktur baru, dr. Tandean Arif Wibowo, M.P.H. untuk masa jabatan 1 Januari 2024 – 31 Desember 2025. Sebelumnya, selama hampir 10 tahun (1 Juni 2023 – 31 Desember), rumah sakit yang bersanding dengan Candi Ganjuran ini dipimpin dr. Victorius Adi Mulyanto, M.P.H. yang kini mendapat tugas baru sebagai direktur RS Panti Rini Kalasan, Sleman.

Pengambilan janji jabatan dan pelantikan direktur Rumah Sakit Santa Elisabeth Ganjuran dilaksanakan pada Senin, 8 Januari 2024 di halaman RS Santa Elisabeth Ganjuran. Pengambilan janji jabatan dilakukan oleh Ketua Umum Pengurus Yayasan Panti Rapih, Ir. Ambrosius Koesmargono, Ph.D., bersama Vikep Yogyakarta Barat, Rm. A.R. Yudono Suwondo, Pr, sebagai rohaniawan pendamping.

Pengambilan janji jabatan dan pelantikan dr. Tandean Arif Wibowo, M.P.H. sebagai Direktur Rumah Sakit Santa Elisabeth Ganjuran. (Foto: UTUSAN/Slamet Riyadi)

Koesmargono menyatakan pihaknya berusaha melakukan peremajaan, penyegaran, dan pemimpin baru di rumah sakit supaya bisa mengikuti tantangan industri kesehatan.

“Kami mohon bimbingan dari Dinas Kesehatan supaya RS Santa Elisabeth tetap bisa berjalan dengan baik. Moga-moga IMB (Izin Mendirikan Bangunan) bisa keluar dan kami bisa membangun gedung administrasi yang sudah dicita-citakan dr. Adi,” ucap Koesmargono.

Ia mengucapkan terima kasih kepada dr. Adi yang sudah sepuluh tahun memimpin RS Santa Elisabeth serta berharap dr. Tandean bisa melanjutkan sehingga bisa melayani seluruh masyarakat yang membutuhkan, khususnya di daerah Bantul. “Sesuai cita-cita pendiri Kongregasi Suster-suster Cintakasih St. Carolus Borromeus, Bunda Elisabeth Gruyters, kami harus bisa melayani pasien sebagai tamu Ilahi,” tekad Koesmargono.

Sementara itu, dr. Adi mengucapkan terima kasih kepada siapa saja yang telah mendukungnya selama bertugas di RS Santa Elisabeth. “Terlebih, rumah sakit ini pernah mengalami masa-masa sulit, tetapi kami bisa berhasil melewatinya dengan luar biasa dan baik. Tentu dalam pengabdian saya selama hampir 10 tahun ini banyak hal yang tidak berkenan, banyak salah, sebagai manusia biasa, saya minta maaf,” ucap dr. Adi.

Secara khusus dr. Adi mengucapkan selamat kepada dr. Tandean atas tugas yang baru. “Mudah-mudahan RS Santa Elisabeth dapat berkembang dengan baik dan kami siap men-support,” janji dr. Adi.

Selanjutnya, dr. Tandean berterima kasih kepada seluruh Dewan Pengurus Yayasan Panti Rapih karena diberi kesempatan untuk berkarya di RS Santa Elisabeth Ganjuran.

“Sungguh amanah bagi saya bisa berkarya di RS Santa Elisabeth. Semoga saya dimampukan oleh Roh Kudus yang berkarya dalam diri saya sehingga saya mampu menjadi jembatan yang baik dan bisa mengabdi secara total guna mewujudkan pelayanan kesehatan yang profesional dengan mengutamakan mutu keselamatan pasien. Dengan demikian, RS Santa Elisabethmampu menjawab kebutuhan dan harapan masyarakat akan pelayanan yang lebih baik, aman, dan nyaman,” ujar dr. Tandean yang berkarya di RS Panti Rapih mulai tahun 2000, kemudian di RS Panti Nugroho Pakem, Sleman pada 2008 sampai 2020.

Ir. Ambrosius Koesmargono, Ph.D. menandatangani janji jabatan didampingi dr. Victorius Adi Mulyanto, M.P.H. (kiri) dan dr. Tandean Arif Wibowo, M.P.H. (Foto: UTUSAN/Slamet Riyadi)

Pada kesempatan ini, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bantul, dr. Agus Tri Widiantara, M.M.R. mengucapkan selamat datang kepada dr. Tandean di “rimba” kesehatan Kabupaten Bantul dengan segala pernak-perniknya.

Mengingat masa pandemi COVID-19, dr. Agus menyatakan kiprah RS Santa Elisabeth Ganjuran di bawah kepemimpinan dr. Adi sangat luar biasa dalam membantu Pemerintah Kabupaten Bantul untuk menanggulangi COVID-19.

Setelah pandemi COVID berakhir, dr. Agus menyebut masih ada tantangan lagi. Untuk itu, ia memohon bantuan dan kontribusi dr. Tandean bersama Dinas Kesehatan, rumah sakit lain, puskesmas, dan posyandu untuk mengatasi permasalahan-permasalahan kesehatan di Kabupaten Bantul.

Permasalahan utama di bidang kesehatan di Kabupaten Bantul ialah mengatasi angka kematian ibu. “Dibandingkan dengan kota dan kabupaten lain di DIY, Kabupaten Bantul masih yang paling tinggi. Ini adalah tantangan yang nanti kita coba atasi bersama,” ungkap dr. Agus.

Selain itu, menjelang Pemilu 2024, dr. Agus mengajak seluruh instansi kesehatan untuk bersama-sama mencegah para petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) di Kabupaten Bantul bertumbangan. Hal ini bercermin pada penyelenggaraan Pemilu 2019 yang memakan korban jiwa para petugas KPPS yang kelelahan.

“Harus ada kolaborasi, baik tenaga kesehatan, fasilitas pelayanan kesehatan, dari tingkat dasar sampai rujukan. RS Santa Elisabeth diharap bisa mendukung upaya-upaya kami untuk menanggulangi penyakit-penyakit yang diderita para petugas KPPS sehingga tidak ada lagi kematian karena kelelahan atau sudah ada komorbid,” tegas dr. Agus.

Dalam hal kebijakan pemerintah terkait BPJS Kesehatan, pada tahun 2024 dr. Agus berharap RS Santa Elisabeth Ganjuran sudah bisa mempersiapkan diri dengan KRIS (Kelas Rawat Inap Standar) sebagai pengganti kelas BPJS Kesehatan. “Semua rumah sakit harus mempersiapkan diri dan RS Santa Elisabeth Ganjuran hendaknya bisa mempertahankan jumlah kamarnya. Dengan adanya KRIS, jumlah kamarnya jadi berkurang banyak,” kata dr. Agus mengingatkan.

 Terakhir, dr. Agus juga berharap RS Santa Elisabeth Ganjuran bisa mendukung Pemerintah Kabupaten Bantul dalam mewujudkan harapan gubernur bahwa wajah terdepan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) ada di selatan. Dengan dibangunnya Jalur Jalan Lintas Selatan (JJLS), Jembatan Kretek II yang sudah selesai, dan Jembatan Pandansimo yang sekarang dalam proses pembangunan berdampak arus lalu lintas di Yogyakarta akan lebih banyak di wilayah selatan.

“Karena posisi RS Santa Elisabeth Ganjuran di wilayah selatan, maka kami berharap rumah sakit ini bisa meningkatkan kapasitas dan kemampuannya untuk bersiap menghadapi arus mobilisasi yang ada dan bisa memberikan pertolongan kepada masyarakat yang membutuhkan. Transportasi akan makin banyak melewati Bantul sehingga kemungkinan angka kecelakaan lalu lintas juga akan bertambah,” ujar dr. Agus.

Saat ini, lanjut dr. Agus, wajah DIY belum di selatan pun angka kecelakaan lalu lintas di Kabupaten Bantul juga masih paling tinggi. “Ini tantangan bagi kita di dunia kesehatan agar nantinya bisa berperan serta untuk mengatasi permasalahan-permasalahan tersebut,” pungkas dr. Agus.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *