Jaringan Doa Bapa Suci Sedunia: Misi Belas Kasih untuk Dunia

News1844 Views

Jakarta. Jaringan Doa Bapa Suci Sedunia-Indonesia (Pope’s Worldwide Prayer Network/PWPN Indonesia) menggelar sarasehan bertajuk The Way of The Heart di Auditorium Lantai 7 Kolese Kanisius Jakarta pada Minggu, 23 Februari 2025.

Sarasehan menghadirkan Direktur Internasional PWPN Rm. Cristóbal Fones, SJ dari Vatikan dan Rm. G.P. Sindunata, SJ selaku Direktur Nasional PWPN Indonesia (2010—2023).

Rm. Cristóbal yang seorang musisi ini membuka sarasehan dengan mengajak peserta untuk bersama-sama menyanyikan lagu Taizé Bless the Lord, My Soul.

Dalam materinya, ia menjelaskan bahwa PWPN adalah karya Kepausan yang dipercayakan kepada Serikat Yesus (SJ) untuk melayani seluruh Gereja sebagai sebuah misi belas kasih untuk dunia. Karya ini didirikan pada tahun 1844 dengan nama Kerasulan Doa, yang kemudian berganti menjadi Jaringan Doa Bapa Suci Sedunia.

“Sekarang ini, PWPN telah hadir di lebih dari 90 negara dengan anggota lebih dari 22 juta umat Katolik,” terangnya.

Provinsial Serikat Jesus Provinsi Indonesia Rm. Benedictus Hari Juliawan, SJ (tengah, berkaus putih) turut hadir dalam sarasehan. 

Sebagai anggota PWPN, ada tiga misi yang dilaksanakan. Pertama, menjalin persahabatan dengan Tuhan dengan berfokus pada spiritualitas Hati Kudus Tuhan Yesus. Dalam hal ini, Jalan Hati (The Way of the Heart) adalah perjalanan terstruktur dalam sembilan langkah untuk membantu orang mengidentifikasi diri dengan Hati Yesus.

Kedua, kerasulan doa dengan mendoakan ujud-ujud doa Bapa Suci. “Setiap tahun, ada dua belas keprihatinan besar yang dipilih oleh Paus untuk kita doakan. Ada publikasi resmi dalam 22 bahasa yang di antaranya melalui The Pope Video dan aplikasi Click To Pray,” terang Rm. Cristóbal.

Ketiga, formasi orang muda. Eucharistic Youth Movement (EYM) merupakan bagian dari  PWPN sebagai gerakan internasional Gereja bagi anak-anak dan kaum muda.

Di sela presentasi serta penutupnya, Rm. Cristóbal membawakan lagu ciptaannya sendiri sembari memainkan gitar.

Selanjutnya, Rm. Sindhu menyampaikan materi tentang Jalan Hati. “Hampir tiga setengah abad, sejak tahun 1688, saat penampakan Hati Kudus Yesus kepada Santa Margareta Alacoque, Serikat Yesus lewat Santo Claudius de la Colombiere, SJ menerima tugas untuk mewartakan kekayaan Hati Kudus kepada dunia,” papar Rm. Sindhu.

Rm. Cristóbal menjadi pembicara pertama, dilanjutkan Rm. Sindhu (tengah).

Dua ratus tahun setelah penampakan, lanjut imam sekaligus budayawan ini, Kongregasi Jenderal Yesuit ke-23 tahun 1883 menetapkan dekret untuk menerima dan menyebarkan devosi itu dengan sukacita. Pada 1915, Kongregasi Jenderal ke-26 meneguhkan kembali komitmen Serikat untuk tugas tersebut.

Pada masa supresi dan pembubaran Serikat (1750-1773), Hati Kudus adalah sumber penghiburan dan kekuatan bagi para Yesuit untuk meneruskan misinya. Devosi kepada Hati Kudus Yesus tidak berhenti, sampai restorasi Serikat. Yesuit pun meneruskan misi Hati Kudus Yesus (yang terluka).

“Janji itu selalu diperbaharui dalam setiap periode Pater Jenderal. Juga pada zaman modern ini, Pater Pedro Arrupe, Pater Hans Peter Kolvenbach, Pater Adolfo Nicolas, mapun Pater Arturo Sosa,” sebut Rm. Sindhu.

Sarasehan ditutup dengan Perayaan Ekaristi di Kapel Kolese Kanisius dengan dipimpin Rm. Alexander Koko Siswijayanto, SJ selaku Direktur Campus Ministry Kolese Kanisius serta Rm. Cristóbal dan Rm. Sindhu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *