Jadi Guru Pembelajar, Tiru Yesus Dampingi Murid

News2027 Views

Sleman. Penyelenggara Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sleman mengadakan Pembinaan Peningkatan Kompetensi Guru Pendidikan Agama Katolik Pendidikan Tingkat Menengah Kabupaten Sleman pada Rabu, 20 Maret 2024 di Java Village, Pandowoharjo, Sleman, D.I. Yogyakarta.

Narasumber acara terdiri dari Rm. Paulus Erwin Sasmita., Ph.D., Pr (staf dan psikolog Seminari Tinggi St. Paulus Kentungan), FX. Siswo Murdwiyono, M.Si. (praktisi hipnoterapi), dan Drs. St. Kartono., M.Hum. (guru SMA Kolese De Britto).

CB. Ismulyadi, S.S., M.Hum. (Penyelenggara Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sleman) menyampaikan bahwa guru merupakan profesi yang sangat kompleks. Situasi yang dihadapi guru tidak pernah selalu sama. Guru menghadapi situasi dinamis, baik tentang kurikulum, metode, dan siswa.

Guru bertemu dengan para siswa berikut segala keunikan dan kekhasannya. Pemahaman dan penyadaran tersebut bukan menjadi halangan bagi para guru untuk terus mengembangkan potensinya. Keberadaan peserta dengan segala dinamika justru menjadi peluang bagi guru untuk mengembangkan diri, baik dalam ranah profesi, kompetensi maupun personality.

“Guru menjadi pembelajar. Guru, pribadi yang terbuka dan rendah hati untuk menerima wawasan dan mengembangkan pengetahuan untuk menunjang kegiatan belajar mengajar, secara khusus bagi dan bersama para siswa,” imbuh Ismulyadi.

CB. Ismulyadi, S.S., M.Hum. (Penyelenggara Katolik Kankemenag Kab. Sleman) menyampaikan pengantar dan sambutan.

Rm. Erwin yang mengampu materi “Cura Personalis: Better Teacher! Better Education!” mengajak para guru berdialog tentang pengalaman pendampingan bersama para siswa. Menurut Rm. Erwin, Yesus tidak hanya Nabi, bukan hanya disebut Tuhan, tetapi juga sekaligus seorang Guru.

Sebagai seorang Guru, Yesus mengenal betul para murid-murid-Nya. Dia mengajar, mendidik, dan mendampingi para murid-murid-Nya yang awalnya biasa-biasa saja menjadi luar biasa. Dia mengajak, melibatkan, sekaligus memampukan para murid-Nya sevisi dengan-Nya untuk melanjutkan tugas perutusan-Nya mewartakan Kerajaan Allah.

“Kita diajak untuk menimba semangat dan sekaligus meneladan Yesus dalam mendampingi para murid. Dengan merefleksikan kisah kehadiran Yesus dalam perjalanan para murid ke Emaus, kita ingin belajar dari Dia agar kita juga bisa menghargai setiap pribadi yang kita dampingi (ennoble), memampukan orang-orang yang kita layani (enable), serta memberdayakan siapa saja yang dipercayakan kepada kita (empower),” ujar Rm. Erwin.

FX. Siswo Murdwiyono, M.Si. (Praktisi Hipnoterapi) menyampaikan materi “Berkomunikasi dengan Pikiran Bawah Sadar”.

Sementara itu Siswo menyampaikan, “Hipnoteaching merupakan salah satu metode pembelajaran yang menggunakan kekuatan pikiran bawah sadar. Sebagai landasannya adalah ilmu hipnosis, yaitu seni berkomunikasi seseorang sehingga mengubah tingkat kesadarannya.”

Melalui topik “Berkomunikasi dengan Pikiran Bawah Sadar”, Siswo menegaskan bahwa hipnoteaching yang dipelajari adalah teknik dan seni mengajar yang menggunakan sugesti-sugesti positif dengan cara mengubah gelombang otak sehingga pembelajaran makin dipahami siswa, penuh antusias, kreatif, dan efektif.

Dalam materi “Menjadi Guru Bagi Muridku”, Kartono mengajak para guru untuk menelusur kesadaran menjadi pendidik. “Mengapa Bapak Ibu bertahan sebagai guru Pendidikan Agama Katolik sampai saat ini? Demi siapa Bapak Ibu menjadi guru Pendidikan Agama Katolik?” tanya Kartono.

Sambungnya, “Kita akan menemukan jati diri sebagai pendidik yang baik ketika kita sungguh mencintai anak didik dan jujur ingin membantu mereka untuk berkembang dan maju. Tanpa cinta dan kepekaan terhadap anak didik, akan sulit untuk membantu mereka. Dengan semangat cinta, kita dapat mengadakan pendekatan kepada anak, mengerti situasinya, dan dapat membantu secara tepat.”

Drs. St. Kartono, M.Hum. (Guru SMA Kolese De Britto) menyampaikan materi “Menjadi Guru Bagi Muridku”.

Pada akhir acara, Agung Widodo, M.Pd., Ketua Kelompok Kerja Guru Pendidikan Agama Katolik se-Kabupaten Sleman sekaligus guru di SMA N 1 Minggir, Sleman, menyatakan kesannya, “Saya memperoleh kesan mendalam dari pertemuan ini. Materi para narasumber menggugah dan menginspirasi saya, secara khusus sebagai guru. Saya lebih menghayati dan memaknai panggilan hidup sebagai pendidik dan pengajar. Selain ltu, saya diingatkan untuk menempatkan setiap murid sebagai pribadi yang unik, berharga, dan berbeda.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *