Imam Bukan Penguasa Altar, tetapi Pelayan Suka Duka Umat 

News1756 Views

Manggarai Barat. Uskup Labuan Bajo Mgr. Maksimus Regus merayakan Misa pemberkatan minyak, pembaharuan janji imamat, serta syukur atas pesta perak dan panca windu imamat dari beberapa imam di Gereja Katedral Roh Kudus Labuan Bajo pada Kamis, 10 April 2025.

Imam yang merayakan pesta pancawindu imamat adalah Rm. Benediktus Bensi, Pr dan Rm. Martinus Tolen Tino, Pr. Sedangkan imam yang merayakan pesta perak imamat Rm. Ferdinandus Manyus, Pr, Rm. Emilianus Jehadus, Pr, Rm. Yeremias Bero, SVD, dan Rm. Agustinus Naba, SVD.

Mgr. Maksi menjelaskan, dengan tema “Tuhan Mengurapi Aku; Ia Telah Mengutus Aku untuk Menyampaikan Kabar Baik”, ada tiga hal yang dirayakan, yakni pembaruan imamat, pemberkatan minyak kudus, serta syukuran pesta perak dan panca windu imamat.

Perutusan para imam adalah pengakuan bahwa Kristus menjadi kompas sejarah pelayanan. “Bukan hanya arah, tetapi jalan itu sendiri. Perutusan bukan soal hasil, tetapi kesetiaan dalam langkah, merintangi lembah dan bukit dengan semangat yang tak pernah redup. Karena itu, para imam harus memiliki patokan layanan perutusan. Harus ada tubuh-tubuh keberhasilan. Hasil itu nomor kedua, yang penting adalah kesetiaan dan sukacita,” tutur Mgr. Maksi.

Para imam harus memiliki patokan layanan perutusan.

Perutusan ini pun mesti selalu terikat pada maksud perutusan itu sendiri, yaitu pelayanan. Hal yang lebih diutamakan dalam pelayanan sejati bukanlah aksi memamerkan kemampuan atau pertunjukan kemuliaan diri. Para imam bukan penguasa altar, tetapi pelayan suka dan duka umat, Gereja, dunia, dan kehidupan.

“Imamat bukan sebuah bentangan karpet merah yang menggoda kita dalam glorifikasi status kita, tetapi jalan setapak penuh debu, keheningan, kesunyian, bahkan kesetiaan. Imamat kita adalah potret keraguan, dan dia rapuh,” pandang Mgr. Maksi mengingatkan.

Ia juga menyoroti para imam yang kadang-kadang pura-pura kuat, padahal rapuh. Mereka jago menyembunyikan kesulitan dan kesedihan dalam hidupnya. Meski sakit, mereka jarang sekali mengakuinya. “Sembunyi di dalam kamar, sampai orang tidak menemukan mereka. Hampir tidak pernah dari para imam itu kalau sakit, bicara bahwa dirinya sekarang sakit,” sebut Mgr. Maksi.

Sementara itu, Rm. Beni mewakili para imam yang merayakan panca windu dan pesta perak menyatakan, “Kami tidak berjalan sendirian dalam kehidupan panggilan menjadi imam dan tugas pelayanan. Tuhan setiap saat berjalan bersama kami. Dia membuat garis lurus yang tidak terselami dalam kehidupan kami. Ketika kami dalam kehidupan dalam garis yang berbentuk bengkok, Tuhan meluruskannya. Dengan berbagai cara Tuhan meyakinkan kami dalam bentuk dukungan dari Bapa Uskup, rekan imam, dan umat yang kami layani. Dukungan dari umat merupakan tanda penyertaan Tuhan bagi kami.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *