Ketika kita menonton sebuah pertandingan olahraga, sepak bola misalnya, kita bisa melihat hampir seluruh pemain di lapangan. Segala perbuatan yang dilakukan si pembawa bola secara detail bisa kita lihat. Akan tetapi, setiap perbuatan yang dilakukan pemain terkadang tidak sesuai dengan harapan kita, terkadang kita merasa punya pilihan yang lebih baik daripada yang telah dilakukan oleh pemain. Kira-kira seperti itulah examen, proses pengambilan jarak untuk melihat tindakan yang telah kita lakukan.
Examen harian adalah salah satu teknik berdoa reflektif harian yang dikenalkan oleh Santo Ignatius Loyola. Teknik berdoa ini berguna untuk melihat kejadian dalam satu hari untuk melihat gerak Roh Kudus dan arahan-Nya bagi kita. Metode yang digunakan dalam examen diambil dari Latihan Rohani Santo Ignasius Loyola. St. Ignatius menyadari bahwa hati kita menjadi arena berbagai dorongan yang mengatur sikap dan tindakan kita (LR 32).
Examen sendiri berperan dalam membangun kesadaran diri. Dengan melakukan examen secara rutin, lama-kelamaan kita akan makin sadar akan perbuatan-perbuatan yang kita lakukan. Examen juga membantu kita dalam memilih pilihan sehari-hari. Kita menjadi sadar apakah pengalaman yang telah kita lakukan baik atau buruk. Dengan sadar akan perbuatan yang telah kita lakukan, ke depannnya kita menjadi sadar dengan apa yang akan kita pilih.
Misalnya, seseorang sering berkomentar di media sosial. Dalam unggahan-unggahan yang baginya menarik, ia hampir selalu memberi komentar. Dengan melakukan examen secara rutin, ia disadarkan apakah komentarnya membawa hal positif atau negatif bagi orang lain.
Examen juga bisa berperan penting dalam menjaga integrasi bangsa Indonesia. Examen membantu seseorang untuk sadar akan perbuatannya. Pada tahun 2021, Microsoft menyatakan bahwa sepanjang tahun 2020, warganet Indonesia adalah yang paling reaktif di antara negara lainnya. Bukannya merefleksikan pernyataan tersebut, kebanyakan warganet Indonesia justru menanggapi pernyataan tersebut dengan komentar-komentar yang kurang senonoh.
Kereaktifan kebanyakan warganet tersebut disebabkan karena kurangnya penyadaran diri dari apa yang mereka lakukan. Jika terus dibiarkan, hal tersebut bisa berbahaya, karena sikap reaktif sangat bisa memicu perpecahan. Dalam hal ini, examen bisa menjadi salah satu sarana bagi kita untuk melihat apakah perbuatan yang telah kita lakukan masih buruk dan bisa mengusik orang lain.
Selain untuk penyadaran, manfaat examen dalam kehidupan sehari-hari antara lain adalah untuk membuat pilihan yang lebih baik. Pilihan-pilihan yang muncul bukan lagi baik atau buruk, melainkan baik atau lebih baik. Dengan melakukan examen secara rutin, pilihan-pilihan yang buruk perlahan-lahan kita eliminasi supaya ke depannya kita tidak menghadapi masalah yang sama.
Examen akan benar-benar bermanfaat ketika kita melakukannya dengan penghayatan. Butuh kerendahan hati untuk bisa menerima kerapuhan diri sendiri, khususnya dalam perdebatan. Belum tentu apa yang kita ketahui adalah benar, sekalipun kita adalah ahli. Marilah kita menjaga integrasi bangsa Indonesia dengan menyadari apa yang kita lakukan.
Christophorus Giovanni Alvin Andikaputra
Seminaris Tahun Keempat Seminari Mertoyudan Magelang














