Empat Prinsip Hidup Damai dan Rukun ala Paus Fransiskus

News1614 Views

Jakarta. Agenda Paus Fransiskus selama di Indonesia pada Rabu sore, 4 September 2024 tidak hanya menjumpai kaum rohaniwan di Gereja Katedral Santa Maria Diangkat ke Surga, Jakarta. Setelah itu, Bapa Suci bergerak ke Gedung Grha Pemuda yang berada di belakang katedral.

Grha Pemuda berada di lokasi bersejarah. Di situlah Gedung Katholieke Social Bond (KSB, Perhimpunan Sosial Katolik) pernah berdiri dan sebagian kecil fondasinya masih dapat dilihat di sebelah pintu masuk Grha Pemuda. Di Gedung KSB inilah Kongres Pemuda II digelar pada Sabtu, 27 Oktober 1928, satu hari sebelum ikrar Sumpah Pemuda tercetus.

Bertempat di lantai empat Grha Pemuda, Paus Fransiskus berjumpa dengan 200 anak-anak muda dari Scholas Occurantes, gerakan pendidikan global yang diinisiasi Paus Fransiskus tahun 2001 (sebagai Uskup Agung Buenos Aires) dan diluncurkan secara global pada 2013. Gerakan ini mempunyai misi mengubah kehidupan kaum muda melalui metode pendidikan inovatif yang menggabungkan teknologi, olahraga, dan seni. Di Indonesia, gerakan ini bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi RI dan Gerakan 5P Global.

Perjumpaan ini dihadiri Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi RI Luhut Binsar Panjaitan, Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi RI Nadiem Makarim, Merry Riana (motivator), artis Merry Riana dan Happy Salma, serta presenter Nadia Mulya.

Begitu sampai di Grha Pemuda, Paus Fransiskus diantar untuk memasuki kubah instalasi seni Hati Polyhedron, yang memajang karya 1.500 anak muda Indonesia, termasuk yang baru saja ditulis oleh 200 anak-anak muda tentang mimpi-mimpi mereka.

Anna Nurawalia. Momen “ajaib” melihat Katedral Jakarta dan Masjid Istiqlal berdiri berhadapan. (UTUSAN/WILLY PUTRANTA)

Setelah Paus Fransiskus duduk di hadapan anak-anak muda dan para tamu, Anna Nurawalia, seorang guru sekaligus dosen, fasilitator anak, penyiar radio, serta ibu dari Pulau Buton, Sulawesi Tenggara dengan tangis haru mengungkapkan dirinya mengambil peran sebanyak mungkin semampunya agar dapat mengisi dunia pendidikan dan menyebarluaskan pesan tentang pentingnya edukasi untuk menuntaskan kemiskinan.

“Hari ini bukan sekadar sebuah pengalaman bagi saya, tetapi sebuah transformasi luar biasa. Kali pertama dalam hidup saya, saya mengunjungi, masuk dan menjadi bagian dalam katedral,” lanjutnya terbata hingga tangisnya tak terbendung lagi.

Di mata Anna, katedral merupakan tempat yang disucikan umat Katolik. “Ajaibnya, tepat di depan saya, berdiri pula masjid tempat saya biasanya beribadah. Ini merupakan simbol toleransi, di mana perbedaan harus kita hadapi dan kita jembatani,” tutur Anna.

Ia mengaku belajar toleransi melalui agama Islam yang dianutnya serta ketika bersama Scholas Occurantes yang mengajarkan toleransi yang sama. “Scholas lewat kurikulumnya melatih saya untuk melihat dunia dari pinggir jalan, rakyat miskin kota, anak-anak yang haus sekolah dan harusnya disekolahkan, menyadarkan mereka yang kaya materi bahwa hidup tidak hanya memikirkan diri sendiri,” urai Anna.

Selama Anna berbicara, Paus Fransiskus tampak mendengarkan dengan sepenuh hati, dengan didampingi Rm. Markus Solo Kewuta, SVD, dan sesekali mengangguk-angguk kecil.

Bapa Suci pun menyebut Anna berbicara dengan sangat bagus tentang realitas kehidupan. “Apa gunanya kita mengalami sesuatu yang berbeda dari apa yang kita ceritakan kepada orang-orang lain, terutama kepada anak-anak kita?” tanggapnya.

Ia pun menyebut ada empat prinsip agar bisa hidup dalam damai dan kerukunan. Pertama, kenyataan yang melebihi sebuah mimpi atau gagasan. “Kalau hanya membuat ide atau gagasan, bisa mengantar kita kepada konflik,” jelas Paus Fransiskus.

Kedua, persatuan yang mengatasi konflik. Ketiga, keseluruhan yang melebihi bagian demi bagian. Keempat, kenyataan yang melampaui sebuah ide atau pemikiran. “Kalau Anda menghidupi empat prinsip ini, maka Anda akan hidup di dalam perdamaian dan kerukunan. Sama seperti yang dikatakan Anna,” tegas Paus Fransiskus.

Bapa Suci terkesan kepada Anna yang disebutnya berbicara dengan hati. Berbicara dengan hati adalah sesuatu yang sangat indah. “Bagus, hebat!” puji Paus Fransiskus disambut tepuk tangan.

Luhut Binsar Panjaitan bersama dua remaja mengantarkan salah satu bibit mangrove untuk diberkati Paus Fransiskus. (UTUSAN/WILLY PUTRANTA)

Di pengujung perjumpaan ini, Paus Fransiskus memberkati salah satu bibit bakau atau mangrove yang bersama empat bibit lainnya akan ditanam di lima lokasi berbeda. Bapa Suci lantas menambahkan tanah ke dalam pot dan menyiraminya dengan air. Tanah dan air ini dibawakan oleh dua remaja, laki-laki dan perempuan, yang didampingi Luhut Binsar Panjaitan.

Dalam kesempatan terpisah, Luhut mengatakan bibit-bibit mangrove itu akan ditanam di lima provinsi, yakni di Pantai Indah Kapuk (PIK) Jakarta, Ibu Kota Nusantara (IKN) Kalimantan Timur, Maluku Utara, Sumatra Utara, dan Nusa Tenggara Timur.

“Kita punya research center mangrove di Bali, bekerja sama dengan Uni Emirat Arab. Jadi, mangrove ini mau kita kembangkan karena berfungsi untuk menunjang kehidupan di banyak pantai Indonesia,” terang Luhut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *