Doa Indulgensi Arwah: Wujud Cinta pada Leluhur

News1304 Views

Sleman. Umat Lingkungan Santo Valentinus, Paroki Santo Petrus dan Paulus Klepu, Sleman, D.I. Yogyakarta menutup rangkaian doa indulgensi bagi arwah di Ngebrag (kompleks) Makam Sentul, Daratan Kidul, Sendangarum, Minggir, Sleman pada Jumat malam, 8 November 2024.

Kegiatan ini menjadi momen penting bagi umat untuk mendoakan dan mengenang keluarga serta sahabat yang telah berpulang, sejalan dengan tradisi Katolik dalam memperingati arwah orang beriman.

Herkulanus Giyono selaku prodiakon menjelaskan, tata cara doa ini dilakukan secara rutin pada tanggal 1 – 8 November sesuai tuntunan dan ketentuan Gereja Katolik.

“Sembahyangan atau doa indulgensi arwah ini merupakan doa untuk memohon penghapusan siksa dosa bagi arwah orang yang sudah meninggal dunia. Tujuannya untuk mendoakan arwah leluhur yang dimakamkan di Makam Sentul, khususnya, dan di makam-makam lain pada umumnya,” terang Giyono.

Herkulanus Giyono (kanan). Doa indulgensi sudah menjadi bagian kegiatan umat dalam hidup menggereja,

Acara dimulai dengan berdoa di Makam Sentul. Puluhan umat yang terdiri dari beberapa anak-anak dan mayoritas umat dewasa hingga lanjut usia berkumpul dengan duduk lesehan mengelilingi berkat berupa makanan yang umumnya disajikan saat kenduri. Isi berkat berupa tumpeng, kolak, ingkung, gulai ayam, kerupuk, rempeyek, dan sebagainya.

Doa indulgensi dipimpin oleh Giyono dibantu Anastasia Partini, rekan prodiakon lingkungan. Mereka memandu umat dalam doa khusus bagi jiwa-jiwa yang berada di Api Penyucian agar dapat memperoleh pengampunan dosa dan diterima di hadirat Tuhan.

Kedua prodiakon ini menggunakan buku panduan berjudul Doa Indulgensi Arwah karya Rm. L. Prasetya, Pr yang memuat doa untuk pembebasan jiwa-jiwa di api penyucian dan doa rosario sederhana.

Menurut Giyono, doa ini penting untuk dilaksanakan karena sudah menjadi bagian kegiatan umat dalam hidup menggereja, sekaligus wujud cinta pada leluhur dengan mendoakan keselamatan jiwa-jiwa yang telah berpulang ke hadapan-Nya.

Umat Lingkungan Valentinus pun memiliki kesadaran akan pentingnya rahmat indulgensi bagi jiwa leluhurnya yang diwujudkan dalam kegiatan ini. Umat pun sungguh antusias mengikutinya. “Rahmat indulgensi ada dua, yakni indulgensi penuh dan indulgensi sebagian. Untuk mendapat rahmat indulgensi penuh, yaitu dengan cara didoakan secara rutin,” sebut Giyono.

Doa indulgensi arwah di Makam Sentul ditutup dengan penuh hikmat, tetapi juga dengan sukacita karena umat percaya doa-doa mereka telah membantu jiwa-jiwa menuju kedamaian yang kekal. Pada momen itu, umat Lingkungan Valentinus merasakan kedekatan spiritual yang mendalam, baik dengan mereka yang telah berpulang maupun dengan sesama umat di komunitas mereka.

“Sembahyangan indulgensi baik untuk dilaksanakan rutin dengan harapan memperoleh beberapa nilai kesadaran akan keberadaan kita di dunia ini berkat para leluhur. Kematian hanya memisahkan raga, tapi kita tetap menjadi bagian dari persatuan para kudus. Kasih Allah yang maharahim sungguh sempurna bagi kita yang masih hidup di dunia maupun bagi jiwa yang sudah berpulang ke hadapan-Nya,” tutur Giyono.

Meski gerimis tiba-tiba turun ketika doa berlangsung, umat yang duduk di luar tetap mengikuti secara khidmat hingga selesai. Usai berdoa, umat bergotong royong untuk memindahkan seluruh makanan dari kompleks makam ke salah satu rumah umat Lingkungan Valentinus untuk menikmatinya bersama-sama.

Beberapa orang membagi-bagi ke dalam piring secara merata hingga semua umat yang hadir mendapatkan hidangannya. Ada beberapa macam makanan yang dimasak sendiri oleh para ibu di rumah Katarina Mulyani selaku ketua lingkungan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *