Bantul. Panitia Hari Paroki St. Theresia Sedayu, Kevikepan Yogyakarta Barat, Timja Peduli Difabel Sedayu, Relawan Forum Masyarakat Katolik Indonesia (FMKI), dan Komisi Perdamaian, Keadilan dan Keutuhan Ciptaan (KPKC) Kevikepan Yogyakarta Barat kembali menyelenggarakan Misa inklusi pada Minggu, 27 Oktober 2024 di Gereja St. Theresia Sedayu, Bantul, D.I. Yogyakarta.
Misa inklusi ini rutin diselenggarakan setiap tahunnya dan kali ini merupakan Misa inklusi yang keempat. Beberapa imam yang turut ambil bagian memimpin Misa ini ialah Rm. Antonius Hadi Cahyono, Pr, Rm. Adolfus Suratmo Atmomartaya, Pr, Rm. Yohanes Dwi Harsanto, Pr, Rm. Alfonsus Rodriguez Yudono Suwondo, Pr, Rm. Dominicus Bambang Sutrisno, Pr, Rm. Cosmas Christian Timur, Pr, dan Rm. Antonius Koko Kristanto, Pr.
Misa untuk para disabilitas ini diselenggarakan bukan tanpa alasan. Panitia menyadari, sejauh ini Gereja sangat memperhatikan para disabilitas, tetapi masih banyak disabilitas yang belum mengikuti Perayaan Ekaristi dan merasakan sungguh-sungguh kegiatan Gereja.

Keluarga besar Paroki Sedayu berharap paroki-paroki lain tergerak untuk ikut peduli terhadap kaum disabilitas dan kiranya para disabilitas turut ambil bagian dalam tugas pelayanan Gereja. Artinya, mereka dilibatkan dalam kegiatan-kegiatan lingkungan, Perayaan Ekaristi, dan lain sebagainya. “Kalau tidak diajak, mereka akan diam saja di rumah dan merasa tidak diperhatikan,” tegas Maria Tri Suhartini, ketua panitia.
Tempat duduk Gereja St. Theresia Sedayu hampir semua terisi oleh umat. Berdasarkan buku daftar hadir, para disabilitas yang mengikuti Misa inklusi ini sekitar 150 orang, tetapi yang datang lebih dari itu karena orang tua juga ikut mendampingi. Jadi, umat yang hadir berkisar 300 orang.
Jenis disabilitas mereka pun bermacam-macam, mulai dari fisk, mental, dan intelektual. Melalui Misa inkulis, diharapkan Gereja makin peduli dengan para disabilitas supaya mereka merasa dicintai dan makin berpartisipasi dalam pelayanan Gereja.
Kerja keras panitia untuk mensukeskan acara ini tidak mengkhianati hasil. Mereka sudah memfasilitasi segala kebutuhan para difabel.

Pertama-tama, yang dilakukan panita adalah mendatangi dan berkomunkasi dengan paroki-paroki di sekitar Sedayu untuk melibatkan difabel dalam perayaan Misa Kudus ini. Kemudian, mereka menyiapkan mental serta apa saja yang dibutuhkan para difabel supaya melakukan tugasnya dengan baik.
Salah satunya menyiapkan ramp karena ada imam yang menggunakan kursi roda, seperti Rm. Bambang. Selain itu, panitia juga menghadirkan juru bahasa isyarat untuk yang tuli. Dengan demikian, Perayaan Ekaristi berjalan dengan lancar.
Tema yang diusung adalah “Aku Disayangi Grejaku”. Tri kemudian mengatakan, “Para difabel setelah mengikuti perayaaan ini, melalui sapaan-sapaan dari romo, suster, dan umat yang hadir diharapkan dapat tergerak hatinya. Dengan segala keterbatasannya, mereka bisa berkontribusi dalam pelayanan karena cinta yang diberikan oleh Gereja, umat, dan orang-orang di sekitarnya. Dalam artian, saling memberi energi untuk bisa membangun Gereja.”
Seruan yang sama juga disampaikan oleh Rm. Bambang. “Para difabel harus bisa menghargai diri dan menggunakan diri. Jangan hanya karena difabel, bakat yang ada dipendam. Justru bakat itu harus dikembangkan supaya tidak dipandang sebelah mata oleh manusia lain,” pesannya.
Usai Misa, para difabel menghibur para umat. Abeth (buta total dan hambatan intelektual) yang berdarah Batak tampil sebagai penyanyi bersama Benic (low vision dan hambatan intelektual) yang memainkan cajon ditemani para gurunya yang bermain keyboard dan gitar.













