Dalam liturgi Gereja Katolik, Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus diperingati sesudah Hari Raya Tri Tunggal Maha Kudus. Saat Hari Raya ini, paroki-paroki akan melaksanakan penerimaan Sakramen Komuni Pertama bagi anggota Gereja yang sudah memenuhi persyaratan untuk menerima sakramen tersebut.
Pada Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus tahun lalu, kami mendapatkan anugerah untuk membersamai putra kami menerima Komuni Pertama.
Sebagai orang tua, ada beberapa poin yang bisa saya refleksikan, terkait proses mendampingi dan persiapan penerimaan Sakramen Komuni Pertama bagi anak-anak ini.
Pertama, menjadi lebih rajin pergi ke gereja.
Proses persiapan penerimaan Sakramen Komuni Pertama dimulai sejak sekitar empat bulan sebelum hari pelaksanaan. Selama empat bulan tersebut, anak-anak mendapatkan pelajaran, bimbingan, semacam mengikuti kelas persiapan di hampir setiap minggunya. Kelas ini bersifat wajib, kecuali jika ada peserta yang sakit dan tidak memungkinkan untuk hadir di kelas.
Di paroki kami, kelas persiapan ini diselenggarakan setiap Minggu pagi, sesudah Misa kedua, sekitar pukul sepuluh. Karena rumah kami agak jauh dari gereja, otomatis kami memilih ikut Misa yang kedua, dengan pertimbangan supaya sekalian setelah Misa bisa mengantarkan putra kami untuk mengikuti kelas persiapan.
Sebelum ada kelas persiapan penerimaan Sakramen Komuni Pertama ini, bisa dikatakan kami tidak rutin ke gereja seminggu sekali. Mungkin dua minggu sekali. Sebab, kami juga memiliki dua balita (kembar), yang tentu saja lebih repot ketika akan pergi ke gereja dan selama ada di gereja. Pergi ke gereja membawa balita itu, jika saya membuat istilahnya, seperti pindah momong. Kami harus mempersiapkan banyak hal, mulai dari snack hingga mainan supaya mereka tidak rewel selama Misa.
Kedua, lebih rajin berdoa dan berkegiatan di lingkungan.
Para peserta yang mengikuti kelas persiapan penerimaan Komuni Pertama diwajibkan untuk mendoakan novena persiapan Komuni Pertama dan mengikuti kegiatan di lingkungan, misalnya doa Rosario dan pendalaman iman. Karena sifatnya wajib, maka sebisa mungkin kami mengajak putra kami ikut dalam kegiatan doa di lingkungan, kecuali jika dia ada ulangan di sekolah dan harus belajar. Selain itu, kami juga wajib mengikuti rekoleksi orang tua calon penerima Komuni Pertama dan pengakuan dosa untuk orang tua serta anak.
Puji Tuhan, setelah menjalani proses persiapan yang panjang, pada Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus, kami para orang tua berhasil mengantarkan anak-anak menerima Sakramen Komuni Pertama.
Bagi kami sendiri, ada campur tangan Tuhan selama mengikuti proses persiapan menuju penerimaan Sakramen Komuni Pertama ini. Dalam novena persiapan yang didoakan setiap hari, secara khusus saya tambahkan doa pribadi yang saya ucapkan dalam hati, meminta agar Tuhan melancarkan semuanya, menjaga si kembar agar mereka tidak rewel saat kakaknya menerima Sakramen Komuni Pertama.
Saya perlu meminta tolong secara khusus kepada Tuhan, karena yang ikut menerima Komuni Pertama pada waktu itu sekitar empat puluh anak. Bisa dibayangkan, bagaimana lamanya prosesi penerimaan Sakramen Komuni Pertama pada waktu itu.
Kami pun harus duduk sesuai barisan, tidak bisa memilih tempat duduk seperti biasanya ketika kami ke gereja. Biasanya jika ke gereja, kami akan memilih tempat duduk yang dekat pintu keluar, dengan tujuan agar bisa cepat keluar jika balita kami mulai rewel.
Puji Tuhan, selama mengikuti Misa, upacara penerimaan Sakramen Komuni Pertama, dan syukuran sesudah Misa, balita kami tidak rewel, tidak minta keluar, kalaupun menangis hanya sebentar dan bisa langsung ditenangkan.
Begitulah refleksi dari saya sebagai orang tua. Selamat menerima Sakramen Komuni Pertama bagi anak-anak yang menerimanya pada Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus.














