Adakah cinta sejati di dunia ini? Banyak orang memaknai cinta sebagai afeksi antar manusia atau ketertarikan. Namun, dalam perjalanan, aku belajar bahwa cinta sejati bukan sekadar rasa, melainkan daya yang menyatukan asal, arah, dan tujuan seluruh ciptaan.
Tulisan ini terinspirasi dari penitensi yang diberikan seorang pastor saat pengakuan dosa di Lourdes: "Let God love you."
Ketertarikan pada seseorang sering kali hanyalah gema samar dari kerinduan terdalam untuk bersatu dengan Sang Sumber Cinta. Dalam cinta sejati, bahkan relasi pun menjadi tak lagi berarti. Relasi mengandaikan dua yang terpisah. Cinta sejati menyatukan hingga keterpisahan itu lenyap.
Aku merenungkan, jika cinta Allah hadir dalam segala hal, bagaimana mungkin aku merasa kekurangan cinta? Cinta itu selalu ada, hanya sering kali tak dapat kuindra. Aku berada dalam Allah, hidup oleh-Nya, dan seluruh semesta dihidupi oleh kasih yang sama.
Namun, sering kali hatiku tak mampu merasakannya. Bukan karena cinta itu hilang, melainkan karena aku tertutup oleh selubung luka, dosa, rasa tidak layak, dan kelekatan pada cinta yang bersyarat. Ilusi keterpisahan inilah yang membuat cinta Allah terasa jauh.
Melalui Sakramen Tobat, selubung itu dikoyak. Aku kembali diingatkan bahwa Allah tidak berhenti mencintai, bahkan ketika aku gagal mencintai-Nya. Ia tidak mencintai karena aku layak. Ia mencintai karena memang itulah diri-Nya.
“Kita mengasihi karena Allah lebih dahulu mengasihi kita” (1 Yoh 4:19).
Kutipan itu tertera di Taman Doa “Di Bawah Salib Yesus” di Gereja Pringwulung, Sleman. Tempat itu menyadarkanku bahwa cinta Allah tak bergantung pada timbal balik. Ia tidak menuntut balasan setara seperti keadilan dunia, melainkan memberi lebih dulu, dan terus memberi, bahkan saat aku memilih menjauh.
Allah tidak memaksa. Kehendak bebas diberikan agar aku sungguh memilih untuk membuka diri, atau tidak. Tapi, cinta-Nya tetap tercurah seperti matahari yang bersinar bagi yang baik maupun yang jahat (Matius 5:45).
Cinta Allah membebaskan. Ketika aku menyadarinya, kelekatan pada cinta duniawi perlahan memudar. Aku tidak lagi menuntut cinta dari sesama untuk merasa utuh. Cinta Allah mengalir tanpa syarat, menuntunku untuk mencintai dengan cara yang sama: tanpa ekspektasi, tanpa pamrih.
Namun, aku tidak bisa mengenali cinta itu dengan kemampuan sendiri saja. Roh Kuduslah yang membimbing dan perlahan menyingkapkan bahwa segala peristiwa merupakan wujud Allah yang mencinta.
Cinta Allah menyapa dalam segala rupa: melalui keindahan alam, keheningan, bahkan dalam kesendirian. Ia hadir dalam denyut harian yang paling sederhana: udara yang kuhirup, orang-orang yang kutemui, luka yang belum sembuh, serta harapan yang belum padam.
Ternyata, Allah tidak hanya hadir dalam hal-hal manis belaka. Seperti pisau bedah yang menyayat demi penyembuhan, kasih-Nya kadang terasa pedih pada saat yang paling kita butuhkan. Dalam teguran, kegagalan, maupun kehilangan, kasih itu terasa paling tajam menusuk, namun paling menyelamatkan.
Saat iman melemah dan harapan kabur, cinta tetap tinggal. Seperti kata Santo Paulus: “Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih” (1 Kor 13:13).
Kini aku belajar untuk tidak menutup pintu bagi cinta itu. Tak perlu sibuk merasa layak atau tidak. Cukup membiarkan diri dicintai. Itu saja. Nada penitensi ini sederhana dan terus menggema, “Biarkan Allah mencintaimu.”
Jika suatu hari nanti perasaan tak layak itu datang lagi, saat hati membeku dan luka lama mengetuk pintu, aku cukup membisikkan, “Aku telah lebih dahulu dicintai oleh-Nya.”
Lisa Kurnia Sari, Sp.PD-KR, FINASIM Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Duta Wacana dan Dokter Penyakit Dalam Konsultan Reumatologi RS Bethesda Yogyakarta.














