Sleman. Kegiatan belajar tata kelola sampah berbasis masyarakat yang menjadi program garapan visioner tahun 2025 Komisi Keadilan, Perdamaian, dan Keutuhan Ciptaan Kevikepan Yogyakarta Barat (KPKC KYBAR) akhir pekan lalu dilaksanakan di Padukuhan Karangtanjung, Kalurahan Pandowoharjo, Kapanewon (Kecamatan) Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Padukuhan Karangtanjung yang telah menyandang Predikat Kampung Iklim Utama Nasional 2020 ini masuk ke dalam wilayah Paroki St. Yohanes Paulus II Brayut.
Rm. Benedicktus Hanjar Krisnawan, Pr selaku Pastor Paroki St. Yohanes Paulus II Brayut menegaskan perlunya membangun kesadaran bersama untuk mengelola sampah yang sering menjadi masalah untuk menjadi berkah.
“Dengan tata kelola yang baik dimulai dari lingkup terkecil, yakni keluarga, akan memberikan nilai ekonomi dan juga akan menjadi upaya dalam melestarikan bumi sebagai rumah bersama seperti telah disampaikan Bapa Paus Fransiskus dalam Ensiklik Laudato Si’. Bumi yang kita tempati sekarang merupakan warisan anak cucu di masa datang sehingga patut kita jaga bersama,” tuturnya.
Sunarto, Kepala Dukuh Karangtanjung, berterima kasih atas kunjungan perwakilan umat paroki-paroki Kevikepan Jogja Barat dan Pengurus KKPKC Kevikepan Jogja Timur. Kunjungan ini satu kehormatan sebagai bentuk pengakuan dan penghargaan dari kerja keras masyarakat Dusun Karangtanjung dalam pengelolaan sampah dan menjaga lingkungan.
Komunikasi akan terus dilakukan dengan pegiat lingkungan sehingga tetap menjaga semangat warga Dusun Karangtanjung untuk menjaga lingkungan. Predikat sebagai Kampung Iklim adalah suatu penghargaan pemerintah. Kampung Iklim terpilih menjadi kampung yang bisa adaptasi dan mitigasi terhadap perubahan iklim di dunia pada saat ini.

Sementara itu, Ketua KKPKC Kevikepan Yogyakarta Barat Rm. Adolfus Suratmo Atmomartoyo, Pr menyatakan bergembira dan berterima kasih karena dapat belajar dan berinteraksi langsung di tengah-tengah masyarakat Padukuhan Karangtanjung dalam pengelolaan sampah.
Kegiatan kali ini menjadi tindak lanjut dalam proses pembelajaran pengelolaan sampah tahun 2022 bersama Resik Plus dengan belajar langsung ke sentra-sentra pengelolaan sampah yang berbasis keluarga atau masyarakat yang akan memberi inspirasi untuk mengelola sampah supaya bisa mengadakan tindak lanjut dengan menggerakkan umat di paroki masing-masing.
Kegiatan ini juga didasari keprihatinan pada penutupan Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Piyungan, Bantul, DIY serta masyarakat yang belum sepenuhnya memiliki kesadaran bersama dalam mengelola atau memilah sampah.
“Masyarakat perlu terus-menerus diberikan pengertian dan penyadaran melalui kegiatan seperti ini sehingga tumbuh kesadaran pribadi-pribadi dalam keluarga serta masyarakat dan di kemudian hari pengelolaan sampah tidak menjadi problem berat,” tegas Rm. Ratmo.
Eko Siswanto, mewakili warga Padukuhan Karangtanjung, memaparkan awalnya sampah dikelola masing-masing RT. “Ada yang ditimbun, dibakar, ada dijual seperti kertas maupun botol minuman, dan ada yang berlangganan pengambilan sampah oleh pihak swasta,” kisah Eko.
Mulai tahun 2016, ketika Padukuhan Karangtanjung diminta mengikuti Lomba Kampung Iklim mewakili Kapanewon Sleman, sampah kemudian dikelola Padukuhan secara bertahap.
Warga sepakat sampah dikelola secara bersama, dimulai dari masing-masing RT. Setiap RT disiapkan dua bak sampah, organik dan anorganik. Ada proses pemilahan di masing-masing rumah tangga, dipisahkan antara yang organik dan anorganik. Petugas yang mengambil sampah di tiap rumah awalnya seminggu dua kali, lalu berlanjut tiga kali seminggu, dan dibawa ke TPS (tempat penampungan sampah sementara) milik Padukuhan.

“Seluruh elemen masyarakat terlibat dalam pengelolaan sampah, mulai dari bapak, ibu, Karang Taruna, dan anak-anak. Kuncinya menanamkan kesadaran tentang hidup sehat dengan mengelola sampah secara benar,” sambung Eko.
Dalam setiap pertemuan, baik di tingkat RT, kelompok-kelompok kegiatan, maupun di pertemuan pengurus lembaga atau acara padukuhan, selalu disampaikan tentang pengelolaan sampah. Selain itu juga memanfaatkan media sosial yang ada di masyarakat.
“Proses pemilahan sampah masih dilakukan secara sederhana, hanya memilah sampah organik dan anorganik. Residu diambil oleh Bumdes Amarta- Kalurahan Pandowoharjo,” sebut Eko.
Tahun 2017, Padukuhan Karangtanjung mengikuti lomba Kampung Iklim tingkat Kabupaten mewakiki Kapanewon Sleman dan meraih Juara Pertama dan selanjutnya ditunjuk mengikuti penilaian Kampung Iklim Tingkat Nasional. Satu tahun kemudian terbentuk Desa Wisata Kampung Iklim sebagai lanjutan program Kampung Iklim dan saat ini dalam kategori Maju.
Tahun 2020, Padukuhan Karangtanjung maju dalam penilaian Kampung Iklim Tingkat Nasional dan mendapat predikat Kategori Utama. Poin utama penilaian adalah pengelolaan sampah. Padukuhan ini lantas mendapat reward dari Kementerian Lingkungan Hidup dengan dibangunnya TPS 3R (Tempat Pengolahan Sampah Reduce-Reuse-Recycle).
Pada sesi akhir, P. Kianto Ajmodjo, M.Si. dari Fakultas Teknobiologi dan Tim Laudato Si’ Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) menyampaikan pembelajaran pengomposan sampah dapur.
Sampah yang dihasilkan dalam rumah tangga dipilah dan diolah dengan tambahan biowash promic yang menghasilkan pupuk atau media tanam lebih awal. “Diharapkan, dengan bekal ini, sampah rumah tangga tidak lagi dibuang atau dibungkus dalam tas plastik yang menimbulkan tumpukan sampah yang sulit terurai,” tandas Kianto.













