Setelah dibuka di Universitas Sanata Dharma (USD) Yogyakarta pada Rabu (19/08/2026), rangkaian The 32nd Association of Southeast and East Asian Catholic Colleges and Universities (ASEACCU) General Assembly and Conference 2026 berlanjut pada hari kedua di Auditorium Kampus 2, Gedung St. Thomas Aquinas, Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY), Kamis (20/08/2026).
Mengusung tema “Education, Hope, and Human Flourishing: Fostering Intercultural Encounter and Dialogue” atau Pendidikan, Harapan, dan Perkembangan Manusia: Membangun Pertemuan dan Dialog Antarbudaya, konferensi ini mempertemukan pimpinan, akademisi, mahasiswa, serta perwakilan perguruan tinggi Katolik dari berbagai negara di Asia. Penyelenggaraan konferensi yang berlangsung pada 19–21 Agustus 2026 tersebut dikelola bersama oleh USD dan UAJY, yang sekaligus menjadi tuan rumah kegiatan.
Sesi keynote speech pertama bertema “Flourishing Community” menghadirkan sejarawan Hilmar Farid, Ph.D. Dalam pemaparannya, Hilmar mengajak peserta memahami konsep komunitas yang berkembang melalui hal yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, yaitu makanan. “Makanan menghubungkan tubuh individu dengan masyarakat, manusia dengan alam, produksi dengan budaya, serta kebutuhan saat ini dengan kehidupan generasi mendatang,” ujarnya.

Sementara itu, keynote speech kedua bertema “Integral Health (Holistic Flourishing)” disampaikan oleh Prof. Clara R.P. Ajisukmo. Ia menekankan bahwa kesehatan tidak hanya berkaitan dengan ketiadaan penyakit, tetapi juga mencakup kesejahteraan secara menyeluruh. “Kerangka ini terdiri atas enam dimensi yang saling memperkuat, yaitu tubuh yang sehat, pikiran yang sehat, hubungan yang sehat, tujuan hidup yang sehat, teknologi yang sehat, dan lingkungan yang sehat,” jelasnya.
Acara dilanjutkan dengan panel discussion III bertema “Hope, Education, and Health” yang menghadirkan panelis dari sejumlah perguruan tinggi di Asia. Adenta Schrabelia Priyatmoko, mahasiswa Universitas Sanata Dharma, menekankan pentingnya pelayanan kesehatan yang berpusat pada manusia. “Pasien lebih dari sekadar resep, diagnosis, atau hasil klinis. Pemulihan juga berarti kembali pada kehidupan yang kita hargai,” ujarnya.
Menurut Adenta, proses penyembuhan tidak cukup hanya berfokus pada pemulihan kondisi fisik. “Penyembuhan sejati membutuhkan lebih dari sekadar menutup luka fisik. Dibutuhkan pemulihan martabat, kemandirian, dan harapan,” tambahnya.
Ia juga menegaskan pentingnya menempatkan teknologi sebagai pendukung pelayanan kesehatan. “Teknologi harus selalu mendukung pelayanan manusia, bukan menggantikannya,” ujarnya. Ia menutup pemaparannya dengan filosofi Jawa urip iku urup. Artinya, hidup adalah memberi kehidupan.
Selanjutnya, panel discussion IV bertema “Sharing from University Representatives” menghadirkan perwakilan universitas dari Indonesia, Timor Leste, Filipina, dan Australia. Diskusi membahas tantangan generasi muda, khususnya kesehatan mental, perundungan siber, penggunaan media sosial, serta peran perguruan tinggi dalam menjawab kebutuhan masyarakat. Rev. Fr. Isaias Abilio

Caldas dari Instituto São João de Brito menekankan pentingnya membangun dukungan yang proaktif bagi generasi muda. “Jika bukan sekarang, kapan? Jika bukan kita, siapa?” ungkapnya. Sementara itu, Rev. Fr. Roderick G. Villamar, Ph.D., CICM dari Saint Louis College of San Fernando, La Union menyoroti pentingnya pengalaman belajar yang terhubung langsung dengan masyarakat. “Kami menginginkan lebih banyak kesempatan untuk berinteraksi dengan masyarakat, mendengarkan pengalaman mereka, dan benar-benar memahami apa yang mereka alami,” ujarnya.
Menanggapi pemaparan tersebut, Dr. Christopher James Riley, Pro Vice Chancellor Recruitment and Marketing dari University of Notre Dame Australia, mengapresiasi gagasan dan pengalaman yang dibagikan para mahasiswa. Ia menilai mahasiswa memiliki peran penting dalam membangun masa depan. “Kalian mewakili harapan dan masa depan. Kalian memiliki talenta yang diperlukan untuk menemukan solusi atas tantangan yang kita hadapi,” ujarnya. Ia juga mendorong perguruan tinggi untuk memberikan ruang lebih luas bagi mahasiswa dalam membangun jejaring, berkolaborasi, serta menghasilkan gagasan berbasis pengalaman dan penelitian.

Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara perguruan tinggi peserta ASEACCU. Penandatanganan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat kerja sama dan jejaring antarperguruan tinggi Katolik di kawasan Asia.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan student performances, di mana mahasiswa dari masing-masing negara peserta menampilkan berbagai bentuk seni yang merepresentasikan kekhasan budaya negaranya. Penampilan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkenalkan keberagaman budaya sekaligus mempererat interaksi dan kebersamaan antar delegasi ASEACCU 2026.
Rangkaian kegiatan hari kedua kemudian berlanjut dengan kunjungan budaya melalui pertunjukan Ramayana Ballet di Candi Prambanan. Agenda ini menjadi bagian dari upaya memperkenalkan kekayaan seni dan budaya Indonesia kepada para delegasi ASEACCU 2026.

Kegiatan hari kedua ditutup dengan Gala Dinner yang berlangsung di Pendopo Ayem Tentrem, Kalasan. Salah satu delegasi, Kim Min-gyu dari Sogang University, Korea Selatan, mengungkapkan kesannya terhadap rangkaian kegiatan yang diikutinya.
“Kegiatan hari ini, mulai dari panel, penampilan, diskusi, hingga makan malam, sungguh luar biasa dan menjadi pengalaman yang tidak terlupakan,” ungkapnya.
Rangkaian hari kedua ASEACCU 2026 menjadi ruang untuk memperkuat pertukaran gagasan, membangun jejaring, sekaligus merayakan keberagaman budaya antarnegara. Melalui berbagai agenda akademik dan budaya, konferensi ini menegaskan pentingnya dialog lintas budaya dalam menghadirkan pendidikan yang menumbuhkan harapan, memperkuat kemanusiaan, dan mendorong terwujudnya human flourishing.








