Ada Kerja Kolaboratif, Misi Pendidikan Terus Berjalan

Uskup Labuan Bajo Resmikan Gedung Baru SMPK ST. Yosefa

News1663 Views

Manggarai Barat. Uskup Labuan Bajo Mgr. Maksimus Regus meresmikan gedung baru SMPK St. Yosefa Labuan Bajo pada Kamis, 30 Januari 2025. 

Mgr. Maksi yang didampingi Rm. Richardus Manggu, Pr (Vikjen Labuan Bajo), Rm. Frans Nala, Pr (Sekretaris Keuskupan), Rm. Martinus Tolen Tino, Pr, dan beberapa imam SVD diterima dengan adat dan kepok Manggarai di depan halaman sekolah.

Acara ini dihadiri Sr. Katarina Elin, SSpS (Kepala SMPK St. Yosefa) dan Suster Irmina Bhezo, SSpS (Ketua Yayasan Dian Yosefa), serta seluruh guru dan siswa SMPK St. Yosefa.

Sebelum Perayaan Ekaristi dilakukan pemotongan pita sebagai simbol peresmian gedung baru serta surat penyerahan dari donatur Frans Iwo yang diwakili Linus Iwo kepada Sr. Paulina Ngula, SSpS selaku Provinsial SSpS Flores Barat.

Seluruh guru dan siswa SMPK St. Yosefa ikut menghadiri acara peresmian.

Mgr. Maksi menyampaikan, sejarah Flores dan peradabannya tidak terlepas dari sejarah Gereja. Dalam catatan sejarah, para misionaris datang kurang lebih pada tahun 1500-an, mulai dari ujung timur Flores sampai 100 tahun lebih kemudian di ujung barat pulau ini.

Jejak-jejak karya para misionaris ini selalu disertai dengan jejak misi dalam bidang pendidikan. Mereka membuka sekolah, tempat kursus, dan sebagainya. Dengan demikian, sejarah Flores adalah sejarah misi pendidikan. Sekolah pertama di Flores ini pun sudah berusia lebih dari satu abad.

“Pelayanan Gereja di bidang pendidikan itu sudah jauh sebelum kita ada. Sampai sekarang, pendidikan adalah bagian penting dari pastoral dan pelayanan Gereja itu sendiri,” tutur Mgr. Maksi.

Kehadiran kongregasi para suster, frater, maupun bruder yang memiliki perhatian di dalam dunia pendidikan menunjukkan adanya kerja kolaboratif sehingga misi pendidikan terus berjalan. Oleh karena itu, semangat kolaboratif atau kerja bersama harus terus menjadi bagian dari budaya manajemen pendidikan dan pengelolaan pendidikan di Kabupaten Manggarai Barat.

Penandatanganan surat penyerahan dari donatur Frans Iwo.

Mgr. Maksi tidak hanya menyampaikan proficiat kepada keluarga besar Yayasan Dian Yosefa, tetapi juga berterima kasih kepada para donatur kita, khususnya Frans Iwo. “Beliau adalah orang sangat sederhana,” sebut Mgr. Maksi sembari berharap para suster SSpS bisa memanfaatkan hadiah istimewa ini dengan sebaik-baiknya dalam membina anak-anak yang sudah dipercayakan oleh orang tua dan masyarakat

Mgr. Maksi pun mengatakan, kebaikan dan kasih Tuhan datang dari berbagai arah dan orang. Sumbernya adalah Tuhan Yang Mahakasih, yang bekerja dengan cara yang indah, tanpa diduga, diminta, dan dia berada bersama umat-Nya.

Sementara itu, Sr. Paulina mengucapkan terima kasih dan bersyukur atas cinta serta pemberian yang terwujud dalam rupa gedung sekolah baru dan aula serbaguna.

“Ini semua hasil dari kebaikan dan kebesaran hati seorang donatur kepada kongregasi dan provinsi kami. Atas dasar kerohaniannya yang mendalam, sebenarnya tidak mau disebutkan namanya di sini. Di tempat ini, pada momen yang berahmat ini, ia ingin beramal, sunyi, dan selalu memberi dalam niat meski beliau tidak mau disebutkan namanya. Namun, namanya ada di dalam hati, pikiran, doa, dan kurban. ,” jelas Sr. Paulina.

Linus Iwo mewakili Frans Iwo memberikan surat penyerahan dari donatur kepada Sr. Paulina Ngula, SSpS.

Ia pun menambahkan, “Iman kami yang masih muda belia ini sering bertanya, apakah mungkin kami bisa membangun gedung sekolah baru dan aula serbaguna yang mewah ini? Ini adalah rahmat yang luar biasa bagi kami para suster SSpS.” 

Selanjutnya, Yohanes Hani (Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga Kabupaten Manggarai Barat) mengatakan bahwa pendidikan sesungguhnya bukan tentang menanamkan pengetahuan saja, tetapi menanamkan nilai-nilai.

“Kalau kita fokus pada pengetahuan, itu bisa hilang. Pengetahuan boleh hilang, tetapi nilai dan karakter itu tidak bisa hilang. Banyak keluhan orang tua sekarang, murid tidak menghormati guru dan orang tua. Para guru fokus mengejar nilai sembilan, tetapi lupa bahwa yang membentuk anak hebat di masa depan adalah nilai-nilai karakter. Itu yang tidak boleh hilang,” tegasnya.

Oleh karena itu, guru dan orang tua harus menjadi pembangkit semangat anak, memberikan contoh yang baik, serta bertanggung jawab terhadap perkembangan anak.

“Kita memberikan kesempatan kepada anak untuk mengekspresikan bakat dan kemampuannya. Zaman dulu, kalau tidak bisa matematika, dipukul. Sekarang tidak boleh. Karena itu, hargai kemampuan anak. Semoga sekolah ini menjadi tempat kita kembali. Berdiri dengan nilai-nilai kebaikan,” harap Yohanes.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *