PIR dan OMK, Gen Z Tak Gengsi Wujudkan yang Mereka Mau

Parokipedia390 Views

Pembinaan Iman Remaja (PIR) dan Orang Muda Katolik (OMK) Lingkungan Santo Gregorius Agung Paroki Keluarga Kudus Banteng, Sleman, Yogyakarta, menyelenggarakan malam keakraban pada Sabtu-Minggu, 5-6 Juli 2025, di Wisma PU, Kaliurang, Sleman.

Dalam acara ini berlangsung regenerasi, yakni anak-anak Pembinaan Iman Anak (PIA) yang masuk SMP naik jenjang menjadi PIR, anak-anak PIR yang masuk jenjang pendidikan SMA sekarang bergabung sebagai OMK bersama kakak-kakak yang sudah kuliah. Dengan persiapan amat mepet, acara ini membuktikan Generasi Z tak boleh diremehkan.

Ini sungguh kegembiraan bagi kami. Anak-anak itu begitu antusias berdinamika bersama. Kurang dari dua minggu sejak tercetusnya ide, mereka bisa menyelenggarakan malam keakraban. Menginap, bermain bersama, masak-masak di depan api unggun, dan membentuk kepengurusan baru. Semua itu atas usaha dan kerja keras mereka.

Kami tak meragukan anak-anak kami. Jika mereka belum bergerak, mungkin karena belum tahu bagaimana memulainya. Namun, begitu bergerak, mereka tahu bagaimana menyelesaikannya.

Kurang dari dua minggu lalu, pengurus PIR dan OMK Lingkungan Santo Gregorius Agung Paroki Keluarga Kudus Banteng bertemu. Juni 2025, sejak kami memiliki ketua lingkungan baru, Dominicus Yusan T. Putra, kami langsung merangsek untuk melanjutkan program kepengurusan lama dan memulai program baru.

Rm. Bobby Steven MSF memberi homili menarik dalam Misa Minggu di pengujung acara.

Dalam konteks FIBB (Formasi Iman Berjenjang dan Berkelanjutan) yang menjadi semangat pastoral Keuskupan Agung Semarang (KAS), kami langsung sampai pada pertanyaan, “Apa yang mau kita buat untuk mengumpulkan remaja kita?”

Untuk menjawab pertanyaan itu, kami bertanya pada anak-anak. Sahut mereka, “Malam keakraban!”

Kapan? “Minggu depan!”

Weits, mendadak sekali. Bukan program yang direncanakan. Dananya dari mana?

Segera kami tepis pertanyaan itu. Bagi kami, antusiasme mereka mesti disambut dengan antusias pula. Bukankah respons ini yang diam-diam kami rindukan? Lagi pula, waktu mereka begitu terbatas. Lebih terbatas dari kami yang bekerja.

Mereka, anak-anak ini, meski sedang libur sekolah, banyak sekali kegiatannya. Ada yang persiapan krisma, ada yang ikut dalam lomba paduan suara Pesparani, ada yang ikut kompetisi olahraga, pun ada yang berlibur bersama keluarga. Padat pokoknya.

Ayu menyerahkan estafet kepemimpinan Ketua OMK Lingkungan Santo Gregorius Agung kepada Adit.

Maka, begitu mereka sebutkan tanggal, kami para pendamping PIR-OMK segera pasang sangkur siaga. Pepet anak-anak habis-habisan, “Apa yang akan kita lakukan supaya biaya perjalanan, menginap, dan makan, serta stipendium romo bisa kita usahakan?”

Ini bukan semata bicara uang. Ini tentang menggunakan uang sebagai sarana membangun kesadaran akan kemandirian, menumbuhkan kepercayaan diri, komitmen mengusahakan, bekerja sama, dan menggembleng mental totalitas. Proses itu penting untuk mendapatkan hasil.

Darah muda mereka mendidih cepat. Mereka sanggup mencari dana dengan berbagai cara: jualan dimsum, mengumpulkan barang bekas dan menjualnya, jualan daging babi, hingga menawarkan jasa cuci motor dan mobil. Jika tak siang, mereka melakukannya sore hingga malam. Kami temani mereka.

Lingkungan kami beranggotakan keluarga-keluarga muda. Yang tak lagi muda pun berjiwa muda. Darah mereka ikut hangat menyambut anak-anak mereka yang bekerja penuh semangat. Dagangan anak-anak laku terjual. Biaya tercukupi.

Karya Allah? Tentu saja. Sebagai orang Katolik kami sepenuhnya percaya pada penyelenggaraan Ilahi. Lewat anak-anak remaja kami Allah bekerja. Dicurahi-Nya energi sukacita.

Mereka sanggup mencari dana dengan berbagai cara: jualan dimsum, mengumpulkan barang bekas dan menjualnya, jualan daging babi, hingga menawarkan jasa cuci motor dan mobil.

Malam keakraban jadi malam mereka. Kami hanya beri pengantar, lalu mereka jalan sendiri. Kakak-kakak dan adik-adiknya menyatu. Mereka sendiri yang memimpin permainan. Mereka sendiri yang merefleksikan. Eka, OMK yang sudah pengalaman memimpin teman-temannya di kampus, dengan gayanya, menampar adik-adiknya ketika mereka terjebak dalam permainan “kapal pecah”, yakni ketika mereka tidak kompak, dengan pertanyaan retorik, “Apa ini yang kalian mau?”

Ayu, Ketua OMK Lingkungan Santo Gregorius Agung, yang keesokan paginya menyerahkan estafet kepemimpinannya kepada Adit, melebur menyatu sebagai peserta. Ia yang pemimpin mencontohkan kepada adik-adik OMK baru yang sebelumnya masih tergabung di PIR bagaimana seorang pemimpin pun mau dikerjain, eh, dipimpin.

Melihat itu semua, kami mengendurkan diri. Membiarkan mereka berdinamika sendiri. Termasuk membiarkan mereka mengatur waktu sendiri. Konsekuensinya, molor waktu. Acara api unggun selesai tengah malam. Renungan singkat yang kami rancang untuk mengikat acara hari itu kami persingkat sesingkat-singkatnya, “Tadi, Adit sudah menyampaikan, kalau ada chat di grup WhatsApp itu ya mbok dibalas. Itu saja cukup. Kalian nggak suka ‘kan diceramahin orang tua?”

Esoknya, Rm. Bobby Steven MSF memberi homili menarik dalam Misa Minggu di pengujung acara kami. Ia mengajak Fr. Bagus MSF dan Fr. Mario MSF untuk mengisi homilinya dengan mengajak kami bermain bersama. Satu orang membubuhkan satu garis, berantai, hingga di orang kedua belas terbentuklah suatu gambar utuh.

Ada dua pesan dalam homili itu. Satu, caranya, percayakan pada yang muda. Bermain bersama. Dua, berjalan bersama lebih baik daripada sendiri. Sendiri hanya jadi satu garis, bersama jadi satu citra.

Syukur kepada Allah boleh berjalan bersama anak-anak dan orang muda Katolik.

AA Kunto A

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *