Pendampingan Iman Anak Generasi Alpha

Jendela605 Views

Tetapi Yesus berkata: “Biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi mereka datang kepada-Ku; sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Sorga.”

Demikianlah kutipan dari Mat. 19:14. Pesan ini jelas dan sangat eksplisit, Yesus sebagai manifestasi Allah Bapa di dunia, mengundang anak-anak (yang pada zaman itu atau bahkan hingga saat ini masih dipandang sebelah mata) untuk datang kepada-Nya.

Menurut konteks perikop, Yesus mengatakan demikian karena para murid-Nya menghalang-halangi anak-anak yang ingin datang kepada Yesus ketika Yesus tengah mengajar untuk orang banyak. Maka dari itu, pesan atau perintah tersebut (menurut konteksnya) ditujukan kepada orang-orang dewasa yang memang memiliki anak ataupun juga yang tengah bersama anak-anak.

Sering kali anak-anak dipandang sebelah mata oleh orang-orang dewasa di sekitarnya, terutama dalam hal-hal yang orang dewasa “kuasai”, seperti misalnya ilmu pengetahuan, keterampilan, ataupun juga iman. Hal ini tanpa disadari menjadi semacam senioritas dalam kehidupan sehari-hari.

Padahal, anak-anak merupakan pihak-pihak yang menjadi harapan orang-orang saat ini untuk generasi mendatang, terutama menyongsong Indonesia Emas di tahun 2045 nanti dan masa seterusnya. Menjadi suatu hal yang ironis apabila anak-anak justru menjadi kaum marginal dalam masyarakat dan tidak mendapat perhatian pada tumbuh kembangnya.

Menurut Djoko Prayitno dkk., Gereja memandang anak-anak sebagai anggota integral dari komunitas iman dan memiliki peran khusus dalam membimbing mereka menuju pertumbuhan rohani yang kukuh. Sebab, Gereja memiliki tanggung jawab untuk membimbing umatnya dalam pertumbuhan rohani dan pengembangan iman, juga menjadi tempat solidaritas, kasih sayang, dan dukungan antarumat yang mencakup pelayanan sosial, kerja amal, dan kolaborasi dalam membangun komunitas yang inklusif dan peduli. Masa modern ini sudah selayaknya menjadi momen bagi setiap orang untuk saling berkolaborasi dan bukan untuk saling berkompetisi.

Pembinaan iman pertama kali dimulai dari dalam keluarga karena tidak ada orang yang tidak dilahirkan dalam keluarga (Regar, 2020). Anak-anak akan lebih bertumbuh apabila pertama-tama oleh orang tua diajarkan dan diajak untuk ikut ambil bagian dalam kehidupan orang dewasa terutama dalam hidup menggereja, menurut porsi kemampuannya.

Dengan demikian, anak-anak akan belajar memahami kehidupan dan tanggung jawab yang akan dijalaninya kelak. Pendampingan iman anak pertama kali memang merupakan tugas suatu keluarga, akan tetapi tanggung jawab ini tidak sepenuhnya dipasrahkan pada orang tua, diperlukan juga adanya peran dari pihak lain dalam mendukung tumbuh-kembang iman seorang anak. Anak-anak muda Katolik, selayaknya anak-anak pada umumnya, memerlukan lingkungan yang kondusif dan suportif untuk membantu tumbuh-kembang iman yang dimilikinya.

Salah satu kendala yang sering muncul dalam proses pendampingan iman anak adalah metode mengajar yang digunakan. Setiap generasi punya latar belakang dan kebutuhannya masing-masing sehingga menjadi suatu hal yang sulit mengajarkan anak-anak saat ini (yang merupakan generasi Alpha, yang diperkirakan lahir antara tahun 2013 sampai saat ini) dengan cara pendampingan anak-anak generasi milenial (yang diperkirakan lahir antara tahun 1981-1996), ataupun generasi Z (yang diperkirakan lahir antara tahun 1996-2012).

Sering kali terjadi tabrakan antara metode pendampingan yang penerapannya telah dilakukan sejak generasi lampau dengan sasaran pendampingan yang sudah semakin modern dan bergantung pada alat digital. Hal tersebut mengakibatkan pendampingan iman anak saat ini memiliki kesan konvensional atau kuno bagi generasi Alpha saat ini.

Generasi Alpha merasa bosan dengan pendampingan iman Katolik apabila metode mengajarnya tidak disesuaikan dengan konteks yang ada. “Membumikan” ajaran Kristiani di masa modern ini tidak hanya menjadi tanggung jawab para pendamping atau orang tua, tetapi juga semua umat Katolik.

Perumpamaan yang diajarkan Yesus dalam Injil perlu disesuaikan dengan konteks saat ini agar sasaran pendampingan iman dapat lebih mudah memahami atau mengerti apa yang dimaksud. Seperti misalnya perumpamaan tentang seorang penabur. Konteks agrikultur dan kebudayaan awal masehi sangat berbeda dengan konteks zaman ini yang serbaindustri dan modern.

Maka dari itu, diperlukan proses penyesuaian kultur dalam pembinaan iman untuk anak-anak, terutama generasi Alpha, pada era modern ini. Semua orang bisa untuk melakukannya, apabila mau memberikan hati pada perannya sebagai pihak yang membantu tumbuh-kembang iman anak-anak Katolik saat ini.

Proses adaptasi dengan lingkungan baru, ataupun juga budaya baru kadang kala menjadi hal yang tidak mudah bagi sebagian orang. Diperlukan sikap untuk mau menerima kenyataan bahwa saat ini kita hidup pada era atau zaman yang berbeda dengan sebelumnya.

Tradisi lama perlu tetap dilakukan dengan penyesuaian konteks saat ini. Dengan demikian kita akan lebih mampu untuk mengikuti arus zaman saat ini. Akan tetapi arus zaman tersebut juga perlu disikapi dengan bijak agar kita tidak “termakan” arus zaman, dan malah menjadi pribadi yang hanya ikut-ikutan, atau yang saat ini oleh masyarakat sering disebut Fear of Missing Out (FOMO).

Kita bisa meneladani sosok Paus Fransiskus yang meskipun telah lanjut usia, beliau tetap mau untuk memahami dan mendukung orang muda dalam hidup, terutama sebagai orang beriman.

Menurut Dwi Ulfa Nurdahlia, Generasi Alpha memiliki ketertarikan atau minat yang tinggi dalam menggunakan gawai ataupun menikmati pertunjukan yang bisa diakses dengan cepat. Termasuk pengamatan yang telah dibuat melalui gawai sebanyak data yang dipresentasikan di Kompas, pada tahun 2022, bahwa 33,44% dari masa kanak-kanak awal menggunakan perangkat nirkabel, sebanyak 25,5% anak-anak usia 0-4 tahun atau balita, dan 52,76% dari populasi anak-anak berusia 5-6 tahun.

Hal ini menunjukkan bahwa yang mengakses internet sejumlah 24,956% atau lebih berada pada usia 5-6 tahun. Data selanjutnya dikutip dari KPAI yang menunjukkan bahwa 98% dari anak-anak usia 6-12 tahun telah menggunakan perangkat digital. Rata-rata penggunaan dari 6 jam 45 menit per hari digunakan untuk menonton video, bermain game, menggunakan media sosial, dan menggunakan aplikasi permainan. Tidak dapat disalahkan apabila generasi Alpha memiliki ketertarikan di dunia digital.

Banyak hal yang perlu diupayakan untuk melakukan pendekatan dengan generasi muda, terkhusus generasi Alpha. Teknologi berupa internet, gawai, dan media sosial perlu dipelajari agar kita mampu untuk masuk ke dalam dunia generasi Alpha yang serbadigital.

Tidak dapat dimungkiri bahwa teknologi tersebut tidaklah asing bagi generasi Alpha yang tumbuh dengan keluarga yang mapan, karena telah menjadi bagian dari hidup mereka sejak mereka lahir. Setiap orang dapat dikatakan telah memiliki gawai dalam genggamannya saat ini. Teknologi internet harus bisa menjadi sarana pewartaan sabda Allah di era modern ini.

Manusia adalah makhluk sosial, maka dari itu setiap orang membutuhkan bantuan dari pihak lain dalam menjalani kehidupannya di dunia ini. Generasi Alpha sebagai penerus bangsa dan Gereja menjadi salah satu hal yang perlu dijaga dan terus dibimbing pertumbuhannya dan perkembangannya, terutama imannya.

Meskipun dunia telah menjadi semakin modern dan rasional, iman dan kerohanian tetaplah perlu dijaga dan terus dikembangkan dengan menyesuaikan konteks zaman.

Benedictus Bima Satria Aji (siswa SMA Seminari Mertoyudan)

Sumber

Anselmus Djoko Prayitno, Hartutik Hartutik, FX Sugiyana, Andarweni Astuti, Nerita Setiyaningtiyas. Penguatan Kompetensi Para Pendamping Iman Anak Kevikepan Semarang. Jurnal Pengabdian Masyarakat Nian Tana Vol. 2, No. 1 Januari 2024

Dwi Ulfa Nurdahlia. The Role Of Parents In Watching Generation Alpha Assistance. Wisdom: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini. Volume 04 No.02 Juli-Desember 2023

Regar, A. R. (2020) ‘Bimbingan Orang tua terhadap Perkembangan Iman Anak Menurut Kitab Amsal Regar KURIOS (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen)’, Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen, 6.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *