Menata Kesehatan Mental Remaja dengan Sikap Resiliensi

Pelita551 Views

Kesehatan mental akhir-akhir ini menjadi perbincangan hangat di kalangan muda-mudi negeri ini. Pasalnya, tak sedikit dari para remaja yang mengalami kesalahan pada penataan kesehatan mentalnya, baik yang terdiagnosis langsung oleh dokter atau ahli atau yang secara mandiri melakukan diagnosis lewat unggahan-unggahan dari media sosial yang biasanya diistilahkan dengan self diagnose.

Hal ini yang membuat kecenderungan-kecenderungan negatif dalam diri para remaja muncul, mulai dari kenakalan remaja wajar hingga taraf abnormal atau di luar nalar. Kecenderungan-kecenderungan itulah yang membuat para remaja terjebak dalam fatamorgananya sendiri dan terus berputar mementuk daftar rentetan masalah baru di masa yang akan datang.

Seperti yang tertera pada laman Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, kesehatan mental remaja menjadi topik yang sangat penting dan perlu diperhatikan secara serius. Remaja sendiri merupakan orang dengan rentang usia 10 tahun sampai sebelum berusia 18 tahun.

Remaja menghadapi berbagai tekanan dan perubahan fisik, emosional, dan sosial yang dapat memengaruhi kesehatan mental mereka. Bentuk-bentuk upaya yang dapat dilakukan dalam rangka menata kesehatan mental para remaja bertujuan untuk mempersiapkan para remaja menjadi orang-orang dewasa yang sehat bukan hanya dalam pikiran, tetapi juga psikis dan mentalnya.

Berdasarkan definisinya, kesehatan mental yang baik adalah kondisi saat batin seseorang tengah berada dalam keadaan damai sehingga hal tersebut memungkinkannya untuk menikmati kehidupan sehari-hari dan menghargai orang lain di sekitar.

Seseorang yang bermental sehat dapat menggunakan kemampuan atau potensi dirinya secara optimal dalam menghadapi tantangan hidup, serta menjalin hubungan positif dengan orang lain. Sebaliknya, orang yang kesehatan mentalnya kurang tertata akan mengalami gejolak suasana hati, kemampuan berpikir, serta kendali emosi yang pada akhirnya bisa mengarah pada perilaku buruk. Itulah sebabnya, kesehatan mental perlu ditata dengan baik agar tidak mengintervensi kehidupan dengan sesama.

Membangun Sikap Resiliensi

Banyak yang belum menyadari betapa gentingnya permasalahan ini jika dibiarkan sebagai angin lalu. Diperlukan langkah cepat untuk melakukan prevensi terhadap gangguan kesehatan mental remaja mulai saat ini. Sebagai langkah awal, perlu disadari betapa pentingya motivasi dari diri sendiri untuk bangkit dari keterpurukan. Motivasi dapat dibangun dengan sikap resiliensi atau sikap tangguh yang membuat para remaja tidak mudah terpuruk dan jatuh dalam keterpurukan.

Resiliensi dapat dibangun pertama-tama dengan belajar menerima akan sesuatu hal yang tidak bisa kita kendalikan. Sebagai manusia biasa, segalanya tidak bisa sepenuhnya dalam genggaman. Oleh sebab itu, menerima segala sesuatunya akan meringankan beban pikiran terhadap sesuatu yang di luar kendali manusia. Para remaja banyak mengalami kelebihan pikiran atau yang populer disebut dengan overthinking. Dengan begitu, para remaja dapat mengurangi potensi yang dapat terjadi apabila kesehatan mentalnya kurang tertata.

Para remaja terlalu enggan untuk berhenti memikirkan sesuatu hal yang mustahil terealisasi. Terkadang sebagai manusia perlu adanya sikap egoistis untuk berhenti memikirkan kebutuhan orang lain sedangkan dirinya sendiri tersiksa untuk memenuhinya. Permasalahan sebenarnya ada dalam diri remaja itu sendiri. Sudah layak dan sepantasnya manusia menjadi tuan atas dirinya sendiri. Manusia berhak menentukan apa yang akan terjadi dalam kehidupannya, baik di masa lalu, kini, dan esok.

Harapan besar diletakkan pada pundak generasi muda yang menjadi pionir negeri ini di masa yang akan datang. Sudah layak dan sepantasnya sebagai generasi muda untuk berani bangkit dari keterpurukan dan berusaha melawannya dengan menjadi pribadi yang tangguh. Tangguh bukan diartikan secara harfiah, tetapi merupakan sikap egoistis. Egoisme secara luas dapat diterapkan dalam sikap yang berani untuk membatasi diri dari segala hal negatif yang menjerumuskan, baik kenyamanan duniawi maupun kesesatannya.

Benedictus Bintang Satya Putra

Kelas XII IPS/1 SMA Seminari Mertoyudan Magelang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *